Kembang Soka (press release)

Press Release

Dari sekian lagu hasil ciptaannya, kali ini Didiek Buntung mencoba memaknai sebuah bunga yang melambangkan kecantikan wanita.
Bunga ini tidak selalu dibicarakan kebanyakan orang atau tidak nampak terselip saat momentum pemberian hadiah, namun ternyata memiliki makna yang dalam, Bunga Asoka.

Persis di depan rumah masa kecil Didiek Buntung, tumbuh beberapa tanaman bunga soka yang sering berbunga lebat, rontok kemudian berbunga kembali, seolah tidak mengenal musim. Setiap hari dapat dipastikan orang yang mendatangi rumah ini dapat melihat keindahan bunga ini.
Sesuai maknanya Bunga Asoka memiliki aura tegas, salah satu bunganya berwarna merah menyala, lambang kebahagiaan dan namanya diambil dari bahasa sansekerta yang memiliki arti terbebas dari kesedihan. Asoka juga memiliki banyak nektar sehingga mengundang kupu-kupu untuk mendekat. Seperti halnya bunga-bunga lain, yang bisa dipergunakan untuk persembahyangan, konon kabarnya bunga asoka dipergunakan untuk penghormatan kepada Dewa-Dewa, yang menjaga keberlangsungan alam semesta beserta seluruh isinya. Penggunaan bunga Asoka ini selain sebagai lambang penghormatan, juga harapan akan tercapainya kedamaian jiwa, jauh dari kesedihan dan derita. Sehingga yang tertinggal hanya kebahagiaan di dalam setiap hati manusia.

Inspirasi ini menggugahnya untuk bermain dalam melodi-melodi cantik bergenre pop jawa yang dibalut dengan kata-kata kisah cinta, yang di dalamnya mengandung arti; seseorang yang menemukan orang lain untuk menjadi belahan jiwanya karena keberadaannya dapat mengusir kesedihannya selama ini dan membuat hatinya bahagia.

Harapannya dengan situasi negeri saat ini, semoga lagu ini dapat menginspirasi banyak orang, yang sedang sedih, galau atau patah semangat untuk menemukan satu kebahagiaan yang pasti akan ada. Bagi masyarakat yang ingin menikmati lagu ini dapat kunjungi ke youtube channel Didiek Buntung Official.

“Karena berkarya pun tak mengenal usia, maka kuterus mencipta, menembus ruang batin yang tersisa”. Semboyan hidup yang terus mengawal semangat Didiek Buntung dalam berkesenian, semoga dapat menggugah semangat kita tanpa menyerah dengan keadaan.

‘VILLA’ itu

‘Villa’ #Gabut

Ini villa kubangun tahun 2004 diatas lahan seluas 1500 m2. Terdiri dari ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan kamar tidur.

Villa

Sayang hanya sebentar kami menempatinya karena setiap sudut terasa kurang nyaman. Kamar tidur terasa panas, karena atap genting yang terlalu rendah. Dapur sumpeg karena sirkulasi udara tidak ada, ruang tamu terlalu sempit karena hanya sisa space. Kamar mandi kubuat luas sekali agar nyaman namun tetap saja gak berfungsi. Karena lantai yg kupilih salah hingga sering kepleset jatuh. Ada lagi septictank juga kubuat dalam dan seluas mungkin agar bisa menampung puluhan tahun namun baru seminggu sudah tersumbat.

Ada sisi lain yang indah, yaitu tampak luar. Atap menyentuh genting, dinding kayu jati berlapis, batu bata belakang yang meringis ala bali, dan teras berupa gebyok asli yang ku cat warna warni bersama perupa wayang. Artistik, unik dan klasik. Tampak luar memang demikian bagusnya. Setiap orang lihat. Wuih bagus mantab siapa yang punya? Setiap hari kuberhasil mengelabui mereka agar tampak bagus dan sok tegar.

Yah karena memang saat ku membuat kuhannya mementingkan looknya saja tanpa memikirkan matang segi fungsi di dalamnya. Jiwa mudaku yang terlalu ambisius tanpa berkonsep waktu itu.

Sayang seribu sayang, terhitung hanya 1 atau 2 bulan kami menempati dan pergi tanpa kembali. Beberapa masalah hadir. Kurenovasi pun percumah karena harus merombak total. Apalagi sekarang, sempat kutengok sudah penuh dengan rayap. Beberapa soko sudah melapuk. Membahayakan seluruh penghuni jika tetap kutempati. Bisa-bisa roboh dan menimpa kami semua.

Tetangga nyelethuk : “Robohkan saja dari pada membahayakan semua termasuk kita” katanya.

Biarkan menjadi lahan kosong dan kudirikan ulang.

buntungsuwung

Rain in May

Rain in May

“Kriiingggg…kringggg…..kringgggg” mataku masih berat terbuka, meski separo badanku mulai terbangun, kugerakkan tanganku, meraba-raba sekitar, meraih sumber suara yang membangunkan aku dari mimpi

“Kriiingggg…kringggg…..kringgggg” seolah bertambah pekak mencuri perhatian telinga dan mataku untuk menggapainya

“Kriiingggg…kringggg kringgg…..kringgggg” kali ketiga dan gerutuku mulai terdengar “arrrrgggghhh….beker sial” sambil memencet kuat-kuat tombol untuk mematikan suara

Aku terduduk, mulai membuka mataku, menggeliatkan tangan dan badanku sambil menguap melepaskan penat-penat dan malas yang masih melingkupi. Pagi menyapa, menggantikan kantuk mataku dengan pandangan baru, mengalihkan lelah tubuhku dengan segarnya udara pagi. Iyaa…hari baru datang, aku melihat sekeliling dan aku masih seperti kemarin, berada di ruangan ini berteman dinding yang selalu setia memperhatikan aku, menghangatkan tubuhku dari batas dingin di luar bangunan ini, tanpa protes melihat apa saja yang aku lakukan, dan memberiku ketenangan dari bisingnya lalu lalang jalanan. Aku tersenyum menyadari keadaan ini, dan beranjak meninggalkan selembar alas tidurku.

Kubuka kaitan jendela yang sengaja kubuat tidak terlalu kuat mengunci, dan segeralah percikan air dari hempasan angin menggoda kulit wajahku.

“Apa, kamu butuh perhatianku juga, sampai membuat mataku terkaget?” kubiarkan basah lebih lama berada di sekeliling kening dan hidungku.

“Ahhh….ternyata hujan masih setia sampai pagi ini” ujarku sembari membuka telapak tangan dan menerima tetes-tetesan airnya

“Kemana perginya mentari? Heiii….kamu tidak perlu sembunyi, hujan sudah menemaniku sejak semalam dan membuat nyenyak tidurku, sekarang aku rindu hangatmu!” protesku sembari mencari di antara awan-awan pucat di atas sana.

Aku yakin dia mendengar, “mana ada yang tidak rindu bertemu dengan aku barang sehari saja?”, batinku sambil tersenyum menggodanya 

Sekejap aku memejamkan dua kelopak mataku, menarik udara dingin sebanyak yang aku mau ke dalam paru-paruku, dan menghembuskannya seringan mungkin, menghalau apapun yang ingin hinggap di pikirku pagi ini, aku ingin merasakan kekosongan dan menikmati keadaan pagi ini; satu detik, dua detik, ………lima detik, sepuluh detik…., lima belas detik, 

“cukup perintahku”, kubuka kembali mata ini  dan aku menemukan damai, 

“terima kasih pagi” senyumku sembari meninggalkan daun jendela yang terbuka, mengijinkan angin pagi memenuhi ruanganku.

Kutarik tubuh gempalku menuju luar ruangan, bersapa dengan kawanku yang sudah berkeringat mengerjakan sesuatu,

 “hei….nikmati pagi ini dulu, jangan terlalu keras dengan dirimu” sapaku sambil tersenyum dan menuruni anak tangga.

“Pagi katamu? Ini sudah siang bro, mungkin alam mimpimu terlambat membuatmu bangun” serunya di antara terdengar jelas atau tidak di telingaku.

Kulewati deretan pintu-pintu di lantai bawah, masih tertutup rapat dan belum ada tanda kehidupan dari pemilik kamar.Kubayangkan mereka masih meringkuk dibawah selimut, menenggelamkan diri dengan bantal, dan membuat hangat tubuhnya agar bisa tetap terlelap dalam tidur. Jika kubuka pintu-pintu ini, aku akan mendengar seruan-seruan protes menggerutu bersautan dengan nyanyian dengkuran mengalahkan teriakan minta tolong atau jeritan anak bayi menangis. Aku tak menghiraukan lagi pikiran usilku. 

Beranjak ke dapur dan aku terkaget dibuatnya. Ruangan favoritku dengan kawan-kawan sudah bersih pagi ini. Deretan gelas, cangkir tertata rapi sesuai bentuknya, piring, sendok dan panci kotor sisa masak semalam sudah bersih dan berada di tempatnya. Sisa-sisa puntung rokok dan isian asbak telah pindah ke tempat sampah. Ku ambil cangkir kegemaranku dan segera kuisi air putih hangat yang menjadi rutinitas pagi, dua cangkir cukup. 

Beruntung sekali pagi ini, setelah melawan malasku saat bangun, mendapati tempat favorit bersih sekarang aku bisa menikmati pagi tanpa kebisingan dari suara penghuni disini. Kicau burung-burung gereja, suara salakan anjing tetangga, dan kokok ayam dari belakang rumah, sesekali terdengar menemaniku dalam lamunan. Kuhempaskan pantat ini di salah satu sofa hitam, memposisikan nyaman di badanku, sembari jari di kedua tanganku asik menarik-narik rambut di janggutku, pikiranku berkelana, merindukan suatu masa yang telah lalu, mengingat-ingat segala kenangan yang sekarang aku tertawakan karena kebodohanku waktu itu dan kecerobohanku, lalu beralih membayangkan suatu keadaan yang aku impikan, damai, tenang, berelasi dengan kawan atau orang-orang baru, bertemu keluargaku yang aku rindukan, tertawa bersama dan aku ……..

“plak…” sebungkus rokok mendarat di samping pundakku

“apaan sih!! Bikin orang kaget tau, untung aku…..”

“makanya jangan suka ngelamun pagi-pagi!! Mimpi apa semalam haaaa…..sampai kamu pikir-pikir terus? potong Panji

“jangan-jangan dia ngelajor? Ngelamun jorok” timpal Aden 

“Hahahahahaaaa…..” kompak suara sekelompok laki-laki tertawa puas menimpali kalimat Aden dan Panji

“Kalian apaan sih, ganggu mood orang aja, huuu” sahutku sambil akan beranjak dari sofa

“Eh….bro, mo kemana? Tanya Dimas sambil memegang bahuku.

“Sudahlah disini dulu, tadi pesanmu kita harus menikmati pagi, jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri, ya sudah mari kita ngobrol-ngobrol bersama” lanjut Dimas sambil mendudukan aku lagi 

Kuhempaskan kembali pantat ini, tidak aku tidak sedikitpun aku marah karena mereka mengganggu pagiku. Bagiku ini adalah bagian dari awal hari yang sayang jika dilewatkan.

“Betul itu Dim, kita nikmati sisa dingin hujan pagi ini, sambil minum kopi, sebatang rokok dan bercengkrama” susul Panji sambil mengucurkan air panas ke cangkir berisi kopi hitam.

“Aden, tolong bawakan gitarnya, biar Mario yang pagi ini menghibur kita, setuju kan” timpal Dimas

“Oke brooo…..kalian mau lagu apa, roman-roman gitu atau gimana?” jawab Mario

“Terserah kau sajalah, yang penting ini tempat tidak sepi seperti kuburan, bener ga?” balas Panji

“Sepakatttt….” tukas yang lainnya kompak

Sebenarnya aku sangat paham kebiasaan pagi ini. Kebiasaan yang tanpa sengaja terjadi. Bangun tidur, berkumpul di dapur, membuat minuman kegemaran masing-masing; Panji dan Dimas senang minum kopi hitam pahit, Aden dan Rahmat teh panas manis, Mario dengan coklat panasnya, dan aku cukup air putih hangat. Kemudian saling duduk melingkar, menyalakan puntung-puntung rokok, bermain gitar, mendendangkan lagu tanpa khawatir hafal lirik lagu atau nada yang fals kemudian berlanjut dengan berbagi cerita tentang kejadian kemarin.

Cerita tentang kerinduan dengan keluarga yang jauh, tentang teman kerja yang menjengkelkan, tentang gebetan yang susah didekati ternyata sudah punya kekasih, tentang motor yang ditabrak angkot dan sopirnya pergi, tentang seksinya penjual warteg sebelah dan masakannya yang lezat, tentang pak rt yang tiba-tiba narik uang iuran, tentang anjing tetangga yang buang kotoran di depan halaman, tentang konser kla project besok lusa, tentang keponakannya yang baru lahir, tentang piutangnya yg belum dikembalikan, tentang jerawat, tentang rokok termurah di warung kelontong, dan masih banyak lagi. Aku selalu ingat gaya mereka bercerita, membuatku kaya akan kesimpulan dan refleksi diri. Aku belajar dari keseharian kita yang sederhana, yaitu saling menyapa tidak peduli apa yang dirasakan teman yang ditemuinya, sehingga saat aku merasa sedih atau memiliki masalah lain, sapaan mereka yang sering konyol membuatku ringan menyelesaikan rintangan.

Penghuni rumah ini, telah hampir dua tahun bersama. Kita bertujuh, namun belum lama ini salah satu keluar. Kita berasal dari latar belakang keluarga, agama, suku dan kebiasaan yang berbeda. Ada yang anaknya orang kaya namun tidak sombong, ada yang bapaknya tentara dan sangat keras mendidik, ada yang berasal dari keluarga broken dan merasa minderada yang berasal dari tanah karo dan kesulitan saat berkomunikasi karena maksudnya berbeda, dan masih banyak perbedaan lainnya. Tapi apa yang kita dapat? Persaudaraan dan kebersamaan. 

Kulangkah kakiku keluar dari bangunan dua lantai ini. Dominasi warna putih dengan tanaman di halaman depan dan pagar hitam yang tinggi, menampakkan gaya pemiliknya yang modern. Sambil merapikan kemeja dan rambutku, kuingat kembali saat pertama memasuki rumah ini, bahagia dan penuh harapan dalam menjalani aktivitasku. Sadar, waktu akan terus berjalan, namun aku tidak pernah sendiri, meski jauh dari keluargaku tapi aku menemukan keluarga kedua. Mereka di sekelilingku, dengan sadar menatapku, mendengarkan aku, memahamiku dan menemani hari-hariku, tanpa menuntut aku menjadi seperti yang mereka mau. Karena mereka menerima aku apa adanya.

“Hari ini akan aku lalui, esok yang datang juga akan kusongsong, selamat datang harapan baru, tetap temani semangatku”, pupukku dalam pikir sebagai doaku

Sendiri tidak akan berakhir sepi. Dan sepi tidak melulu berakhir dengan kesedihan. Terima kasih teman-teman hidupku.

Corona

gambar : muslimin

dekatmu_bahu_tai

jauhku_terasa_wangi

“Kita yang seharusnya saling dekat kini harus menjaga jarak. Tak perlu cemas, karena aku masih bisa merasakan sakit yang engkau derita walau saling menjauh, bahkan tak saling kenal. Hebatnya ruang semesta ini. Doaku semoga lekas pulih saudaraku semua.” -db-

Husky “Gintung”

Anjing ini genap satu tahun menemaniku. Kupinang dari seorang sahabat dari dataran tinggi kopeng Salatiga. Berbulu tebal dan kini malah bertambah cantik menggemaskan. Ras husky stambum bersertifikat ini konon katanya keturunan serigala dan sering dipakai untuk menarik kereta salju. Kuberi nama Gintung, teringat anjingku yang sangat kusayangi berasal dari hutan Gintungan Kec. Bandungan. Dia tewas di racun orang tak bertanggung jawab. Jadi sedih mengingatnya.

Si Gintung ini suak banget sama susu, butter dan sejenisnya. Nggak begitu doyan sama daging kecuali salmon. Kalau kalian bawa sesuatu susu, keju atau butter, dah pasti akan tercium. Ditutup serapat apapun penciumannya mampu menembusnya. Nggak galak, friendly tapi ‘ndableg’

Manja dan selalu ingin disampingku. Beda dengan Brunno (rottweler) dan Zopla (malinois). Aktifitasnya ada di IG @huskies.gintung.

Gintung sudah jelajah dari Anyer hingga Panarukan, bahkan beberapa kali pernah menyeberang ke pulau Dewata. Pernah ke pantai Anyer, Tanjung Lesung, dll. Pantai adalah tempat melepas penatnya. Beberpa pantai yang di kunjungi selain itu adalah Kendal, Tuban, Klayar pacitan, Watu karung pacitan, Lamongan, Samas Jogja, Krakal jogja, Kebumen, dan yang nggak terhitung ya di Bali. Ada pandhawa, sanur, kuta, legian seminyak yang setiap hari setiap nginap disana.

Buat apa? ya buat teman dan obat agar hidup ini bisa mengalir. Cukup sekian.

Malam

Tengah malam ku terbangun dan seperti candu, bergegas ingin membuat sesuatu. Tulisan, lagu atau acara semauku. Bersama malam aku bisa cerita, bersama malam aku berselancar tentang maya, bersama malam kusetubuhui pianoku, bersama malam ku tak sendiri, bersama malam kugoreskan tinta, bersama malam kujemarikan tuts. Bebas lepas di ruangan yang kedap suara, bergantungan perkakas yang kusuka, pengeras suara, busur panah, google wall, live cam, tak bisa kusebut satu persatu. Menjadi egois enggan bergaul. Ya itu lemahku, yang akan segera semerbak menjadi lentera kota ini.

Kubuka jendela duniaku, facebook, Instagram, whatsap, twitter, linkdin, line, semua mode on dan itu juga micro stage yang tanpa batasku. Gemerlap lampu hijau dan beberapa notifikasi pesan mulai masuk. Beberapa teman mulai tak acuh dan bersapa : “Jam segini kok belum tidur, jaga kesehatan” kujawab ya saja. Yang lainya juga bertutur demikian “Jaga kesehatan” kuiyakan juga. “Kok melek bos” ada yg bersapa juga demikian. Terima kasih sudah diingatkan.

Tapi perlu diketahui bahwa justru bersama malam aku masih bisa ada seperti sekarang ini. Engganku kepada siang yang sangat menekanku tanpa memberi kebebasan. Belenggu mencengkeram tanpa ampun. Terang itu jelas menyinari asa yang justru menakutkan. Pikiran berkecamuk tak ada ruang untuk berimajinasi. Semua berlomba mencari kebenaran dihadapan Tuhan. Aku bener-bener mendengar maling berteriak maling minta tolongnya kepada Tuhan. Hingga kusangsikan kebenaran.

JERAT

Malamku bisa tertawa mencurahkan segalanya lewat apapun yang ada. Sendiri ini semakin indah tanpa menjeratku. Yah, aku takut dengan jeratan yang telah bertahun menubi menyerangku. Berkedok ikatan yang tanpa ampun telah memasungku. Bagi mereka malam ini gelap namun tidak bagiku. Karena justru gelap ini, aku bisa melihat segalanya dan tertawa terbahak bahak kepada sunyi dan diam. Akhirnya jerat takut kepada sang malam. Setiap malam jerat hanya mendengkur tapi tak mampu memecah kesunyian. Melelehlah jerat itu melurus sebanding dengan kegelapan.

Stop, mau melanjutkan tulisan ini, teringat pesan kakakku, awas jangan terlalu vulgar kepada publik. Tak semua harus dicurahkan. Simpan saja dan kubur dengan baik.

Namun mengganjal rupanya, ingin berbagi bahwa ada manusia unik di dunia ini yang tak layak hadir sebenarnya. Hanya ingin mengisi sisa usia yang ada sebaik mungkin. Berkarya semampunya sebelum keranda menjemput.

Next title … SENDIRI

Asjo Ungaran

Sekitar 200 meter dari tempat tinggalku adalah sebuah alun-alun yang lumayan besar dan terpadu lengkap dengan segala fasilitasnya. Ada air mancur yang warna-warni, gedung serbaguna, pusat kuliner, jogging track, skyboard track, panjat tebing, dan panggung permanen. Semua dalam balutan desain masa kolonial. Ada menara pengintai, ada tugu bung karno membawa tongkat sakti, bahkan panggung pun demikian, seolah-olah meurupakan benteng kuno memakai teralis jeruji besi.

ASJO

Alun-alun Bung Karno Ungaran namanya, namun sebagian orang lebih familiar dengan sebutan ASJO (Asmara Jowo). Kisah singkatnya, dulu pusat keramaian kota Ungaran ada di sepanjang jalan asmara (jl Ayani). Semua pedagang dan aktifitas-aktifitas masyarakat tumplek blek di sepanjang jalan itu. Terutama di depan masjid agung yang berhadapan persis dengan rumah dinas bupati. Terlalu krodit karena aktifitas pemerintahan, keagamaan, olahraga, kesenian dsb terpusat di titik ini dan setiap kali ada acara dipastikan macet. Kemudian pemerintah mengakmodir itu semua dan dipindahlah ke kalirejo ungaran yang tak jauh dari tempat itu (1km). Biasa, awalnya berbelit karena masyarakat tak mau pindah merasa sudah nyaman. Sehingga muncul ‘satire’ bahwa disana itu asmaranya jowo, disingkat ASJO. Lama kelamaan masyarakat move on sendiri..Mungkin seperti itu kisahnya.

PASAR SENGGOL

Kini tempat itu tak pernah sepi pengunjung mulai dari pagi, siang hingga malam. Jadwal acara dari kapitalis pun kian padat termasuk beberapa artis beken nasional yang pernah manggung disitu seperti Via Vallen, Ari Lasso, Didi Kempot, dll.

Dan yang kusuka adalah rutinitas Pasar Senggol setiap hari Minggu pagi. Datang kesitu sebentar bisa melepas penat setelah sepekan melakukan kegiatan. Bisa jogging, senam zumba, lihat satwa, lihat berbagai atraksi, ketemu teman, ketemu mantan, dan dapat kenalan/senggolan. Dan ini yang jangan sampai pernah terlewatkan adalah sarapan gendar pecel pelas. Puluhan bakul menjajakan makanan ini dengan tempat yang seadanya, lesehan. Komunitas-komunitas saling berlomba menunjukkan eksistensinya merebut hati khalayak. Eh,, bagi yang suka baca disitu juga ada perpustakaan keliling. Padat, merayap, berhimpitan dengan sesama pemgunjung yang rata rata belum mandi. Kalau ketemu teman nggak berani beraruh sapa, hanya mengangguk saja itu pertanda nggak gosok gigi. Ha ha …

Jangan emosi jika ber-SENGGOLan dengan pengunjung lain, sapalah dengan akrab agar tambah paseduluran. Tapi juga hati-hati jangan terlalu ganjen dan kenes.

LAGU

Tergerak hasrat ini untuk memadukan dalam untaian nada dan lirik melihat sisi-sisi Asjo Ungaran. Ternyata memang sesuai dengan namanya, Alun-alun Asmara Jawa tak jauh dengan cerita-cerita asmara dahana. Yah berkali-kali ku melihatnya dari pagi anak sekolah hingga siang dan sore bahkan hingga larut malam banyak yang bercengkerama menyatakan cinta. Bahkan kadang ada yang kecewa seperti drama, pilih pulang cari yang lain. Kok tahu? Iya saya pernah muda.

Begini lirik itu :

Neng kene dhewe kenale, 
jalaran pasar senggole
Aku, …  wes ngrasakke jajanane
Gendare …  ro gembuse … lan apeme … 
Bakule  pepak ayune ora sepele
 
Kowe njalari atiku, 
kesengsem marang polahmu
Aku, … kejebak neng njeromu
Saiki, … kwe mblenjani … malah nglarani … 
neng Asjo Ungaran pegunungan asri
 
 
Reff.
Mnara kembar,  … iki
Sing wus dadi seksi
Ambruk siji mergo tak tangisi
 
Tongkat Sakti, … kae
Bung Karno nudhinge
mBukak dalan liyoku,  to tol kene

Kupersembahkan untuk kotaku yang sebentar lagi akan ulang tahun di Maret 2020 besok katanya, saya nggak tahu pastinya. Semoga bisa mengangkat kota kecilku ini untuk banyak dikenal. Teringat kata-kata Ari Lasso saat konser di kota ungaran begini : “Saya baru tahu kalau ada kota kecil yang sejuk asri disini, dan begitu indah” katanya sambil menyuruh penonton menyalakan flash HP untuk diupload di IG nya.