EO vs Premanisme

EO vs Premanisme
==============

Dimana kaki ini berpijak ke tempat event yang baru, rumah ibadah dulu yang kami singgahi. Untuk selanjutnya mencari spot2 kuliner malam sebelum keesokan paginya menemui client.

Namun diluar dugaan, di kota ini kami dikejar-kejar preman setiap waktu. Pagi terselesaikan, sore datang lagi preman, esok pun beda lagi. Demikian silih berganti ujung2nya duit. Aparat yang kami sambat mengamankan sepertinya kurang mempan.

Semua prosedur perijinan dah kami penuhi, termasuk ijin ormas yg tak lazim di kota lain, namun dilegalkan di kota bersuhu dingin ini.

Pantang menyerah, tak mau kalah, kami harus atur strategi. Kami menyebar dan berganti hotel saben hari. Alat komunikasi modal utama kami. Whatsap, email, grab, gofood dan HT sangat membantu kami. Kafe pun kami jelajahi utk negosiasi dengan vendor. Seakan dunia ada di telunjuk ini. Dunia virtual, kantor virtual, rumah virtual.

Puji Tuhan, … event berjalan lancar dengan kami remote dan organize dari hotel ke hotel ataupun kos ke kos. Beruntung client kami memahami kondisi ini. Vendor semua terbayarkan, talent aman. Beneran, sumpah gak bohong, pesan terakhir client kami : “event dengan membawa warna baru, tertitb, tertata, pengunjung banyak dan omzet terbesar sepanjang ini”

Selesai acara kami pulang dan mobilku pun sepertinya mereka buntuti. Aneh, kawanan polisi berjaga dimana2 mengarahkan kendaraan kami. Sial juga, polisi memberhentikan kami di tugu pertigaan. Semakin membuat kami panik dan ketakutan. Sungguh menegangkan layaknya film “showtime”, masa mengelilingi siap dengan kamera hpnya. Bertekuk lututlah kami dihadapan mereka.

Masalah datang lagi, ternyata polisi membuntuti kami karena plat kendaraan yg kami tumpangi. Memang benar, plat H kami ganti dengan F tapi huruf belakang tidak kami ganti.

Atas budi baik polisi kota sebelah yg mau mendengarkan penjelasan kami, akhirnya kami pun bisa pulang bahkan mendapat pengawalan beberapa kilometer.

Yang kudengar geng2 itu semakin menjadi dan kini telah ditindak aparat. Semoga kabar ini benar.

#buntungsuwung
#kisahnyata

Mas Darno Out of The Box

EO Ndeso

Teknologi konstruksi semakin mutakhir, dari jaman batu, besi, hingga jaman now aluminium. Bukan berarti yg konvensional lebih buruk, faktanya candi Borobudur masih kokoh berdiri.

Adalah mas darno, yang SD pun tak lulus secara sengaja kusandingkan dengan para master desainer dan sarjana tehnik dalam sebuah team produksi event kami.

Walau tak selalu idenya benar, namun pola pikir out of the box kadang sangat menginspirasi.

Kudengar sendiri kala itu saat terjadi perdebatan antara produser sebuah acara TV, property, vendor riging, vendor led dan kepala produksi tentang pemasangan hardset bando LED.

Bagi mereka semua (kecuali mas darno) tak mungkin pemasangan hardset tsb. Selain faktor teknis, safety, juga karena waktu yg sangat mepet.

Kulirihkan kepada mas darno : “bagaimana? Bisa diatasi?”

Jawabnya : “bisa pak”

Ayem, adem pikirku dan aku pun mendukungnya meski tak paham apa yg dia rencanakan. Ya karena sudah hampir 10 tahun kami bersamanya sehingga kupercaya soal ini.

Team property sebuah stasiun TV mendekatinya seraya berkata : “mas darno, nanti kalau atasan kami suruh pasang hardset itu bilang saja tidak bisa ya?”

“Bisa kok mas” tutur darno polos.

Datang lagi kepala produksi team kami dan panik : “ndrong kowe ki piye, dijagakke kok. Kae kabeh dho omong yen ora mungkin iso terpasang. Kok kowe muni iso. Jane piye to … rasah janji janji. Gek aku wae bingung carane kok ?”

“Bisa pak, tak rampungkan ini dulu” : jawabnya lagi.

Akhirnya semua kupertemukan bincang2 cantik dalam satu forum.

Vendor riging : “saya tidak mau rigging dibandoli beban seberat itu”

Vendor led : “karena anda sudah terlambat, jika ada apa2 dengan led harus ganti. Lagian kabel riskan konslet jika ada pnyangga besi, led nggak mau kebebanan seberat itu”

Produser : “hardset harus kepasang, dan tidak boleh ada penyangga sekecilpun yang terlihat”.

Kutanyakan yg terakhir kali : ” bisa pak darno?”

Ujarnya kembali : “bisa pak”. Membuat mantep hati saya.

Akhirnya mas darno pun bergerak, hanya memanfaatkan sisa usuk untuk membuat penyangga dan ditempatkan disela-sela kabel led. Usuk agar tidak konslet dan berdiri mandiri diatas lantai.

Setelah penyangga selesai, barulah hardset dijunjung secara gotong royong utk dinaikan.

Simpel dan ndeso memang, namun diluar pemikiran saya klo ada solusi seperti itu yang nggak kebayang.

Tak ada property yg terganggu. Acara pun berjalan lancar. Berkat mas darno yg nggak paham apa itu show off.

Lagi lagi eo ndeso.

buntungsuwung

EO ndeso yang letheg dan kumal

Dari pelosok kota yang jarang dikenal (kota ungaran) kami menyusuri aspal tol menuju ibukota. Disana bangunan gedung berlomba-lomba menjulang saling mencabik langit. Kusinggahi pom bensin dulu untuk sekedar cuci muka dan kumur demi menghilangkan bau pete sisa semalam.

Alhamdulilah, gps yang kuarahkan tepat menuju satu diantara gedung2 mewah itu. Ku diberi kesempatan untuk memasukinya. “Selamat pagi bapak, maaf tidak boleh masuk, harus berpakaian yang sopan” dua orang satpam tiba2 menghalau langkahku sebelum pintu metal detektor.

“Maksudnya bagaimana”? Tanyaku

“Disini aturannya kalo pake kaos harus berkerah” jawabnya lugas. Sementara kulihat tamu2 lain cuek tak ‘sumanak’ seperti dikampungku.

Kujawab begini : “Besok lagi kalau mau undang orang yang jelas, tulis jika memang tidak boleh pake kaos. Saya tak tahu aturan itu. Bagi saya ini sudah sopan. OKE saya pulang dan anda yang bertanggung jawab atas ketidakhadiran saya” sambil kuserahkan print email undangan dari salah satu pejabat mereka.

Sambil menuju tempat parkir yang saya juga lupa jalannya, entah dimana dan sopirku pun juga lupa, ku menggerutu ‘bajindul, bajindul, bajindul’.

Tiba-tiba 4 orang satpam memanggil dan menghampiriku : “pak, pak, pak !!” Lah … ternyata aku balik ditempat itu lagi.

Mereka malah merayuku untuk kembali masuk gedung. Saya dikawal naik lift hingga ruangan pejabat itu. “Pagi, ada tamu dari bpk didik potensindo” kudengar ujar satpam kpd mereka. Sontak ambyar konsentrasi mereka. Yang lagi ngrumpi terhenti, yg lagi makan pun berkemas dan suasana hening semua kembali ke posisi mejanya masing2. Mereka melihatiku dari ruangan kaca mungkin karena rambutku pirang gondrong, kaos oblong, kalung karet, gelang rantai pada tangan buntung, celana jeans, sepatu ket dan tampang ndeso.

Saya pun duduk, dengan dengkul menyembul karena jeans sobek dan selanjutnya ditemukan dengan PPK, pejabat pembuat komitmen. Ppk menjelaskan demikian panjangnya : “Bapak kami panggil untuk mengerjakan even RITECH EXPO 2019 di Denpasar Bali. EO sebelumnya yg ditunjuk berinisial ‘DMP’ telah mengundurkan diri dan dimungkinkan kena sangsi black list. Apakah EO yang bapak kelola bersedia untuk mengerjakanya?”

“Insyaallah siaap, … ” jawabku tegas tanpa penjelasan panjang. 

“Baik, karena sudah mepet dan telah banyak kehilangan waktu, kita akan langsung tanda tangan kontrak” tegas beliau. 

—-

Kemudian kami kerahkan kru, team kreatif dan para korlap. Peserta dan partisipan semakin bertambah. Request2 dadakan banyak sekali membikin kami kalang kabut. Ditambah ada salah satu dari mereka yang cerewet seperti lambe turah. Seperti tak percaya pada kerja EO kami. Mereka meragukan kemampuan kami. Hingga pesan whatsap bertubi2 masuk ke kami dengan bahasa2 yang tak enak.

Kami tawarkan stan kesana kemari untuk ikut memeriahkan. Menjual stan dengan gaya wong ndeso. Keroyokan bareng2.

Terbayar sudah kekesalan itu, melihat animo pengisi stan dan pengunjung yang demikian tinggi. Mereka banyak yang datang dari luar pulau. Termungkinkan pula ingin sambil berwisata. Pagi siang malam selalu berjejal bahkan kami lakukan system buka tutup.

Sementara ‘si lambe turah’ terus komplain, karpet kotor, lantai goyang, ac gak dingin dll. Kru kami menjawab : “ini lapangan terbuka disulap darurat, kalau ingin nyaman sana di gedung”

Tak seperti biasanya, ini stan tentang inovasi dan tehnologi. Tak ada stan pindahan pasar, dagangan baju, batu akik, obat oles, dll.

Adanya stan : 
– tangan bionik alat bantu disabelitas,  
– robot yg bisa memadamkan kebakaran menggunakan co2,  
– mesin batik tulis dg canting yg menggambar otomatis, 
-penjernih air tapi dari plantoon,  
-VR game, 
– roket air, 
– kapal perang dan masih bnyak lagi yg ber- teknologi 4.0.

Senangnya bisa dihadiri RI-2 dan selalu mesam-mesem setiap meninjau stan, semoga beliau berkenan. Perkirakan jumlah total pengunjung mencapai 37 ribu.

Si ‘lambe turah’ yg dulu sinis, kini tak lagi komplain. Mak klakep. Semoga tidak sedang bergerilya cari2 kesalahan dan kami pun segera mendapatkan pembayaran. Amin. Amin. Amin.

Kini kami sedang cuti dan menikmati nasi petai kembali. Tadi saya video call mereka para kru. Ada yang sedang kembali cangkul sawah, ada yang mancing di rawapening, ada yang panen sawi, ada yang merumput ‘ngarit’, ada yang panen lombok, ada yg mbecek, dsb. 

#buntungsuwung