Estafet CPNSku

Estafetku masuk CPNS

1997 adalah galau-galaunya aku dengan segala kondisiku. Beberapa jariku harus diamputasi, paha disayat untuk naik pangkat menjadi bagian terhormat telapak tangan serta kehilangan rutinitas diri sebagai organis gereja.

Malam itu, aku mengikuti acara kenduri ditempat pakdhe yang saat itu dan kini masih menyandang nama bayan.

Kudengar secara lirih pembicaraan tetanggaku tentang penerimaan cpns.

“Sssst … rahasia, ada penerimaan cpns” bisiknya.

Sangat asing bagiku apa itu cpns. Tapi melihat pembicaraan yang seolah secret justru membuat aku penasaran. Kupasang telingaku secara baik dan kuarahkan sambil pura2 tak mendengar. Semakin riuh dan bak membahas harta karun. Benar2 kusimak secara khidmat di tengah kebisingan kenduri.

Piring suguhan pun akhirnya datang berseliweran berhasil meredam kebisingan itu. Semakin jelas ku mengupingnya sambil sesekali kudekatkan kepala ini meraih uluran piring yg beterbangan.

Iya jelas, kudengar pengumuman itu terpampang di kecamatan katanya.

Ya, saat itu bener2 sedang kalut dan ingin berselingkuh tentang pekerjaan. Maka kuniatkan utk menggalinya.

Akhirnya aku pun pulang dengan menenteng berkat. Pikiranku masih fokus tentang cpns tadi. Apa itu cpns?

Keesokan harinya, …

Gila, … ternyata benar, peminatnya luar biasa. Disana sini mulai antre, rupanya ini ajang kompetisi akbar. Semakin tak terbendung niatku utk menggapainya.

Saat itu jugalah hari terakhir kesempatan kami untuk mendapatkan tiket menjadi abdi negara.

Alhamdulilah akhirnya kubisa memasukkan amplop coklat A4 yang berisi segala persyaratan tersebut ke kantor pos ambarawa.

Ada satu persyaratan yang akan mengganjalku yaitu tertera “SEHAT JASMANI DAN ROHANI”.

Aku berpikir bagaimana dengan kondisi jariku yang sudah porak poranda ini? Hanya trik utk meyakinkan mereka bahwa aku masih punya jari. Atau kubiarkan saja seperti ini?

Tiba saatnya aku memenuhi undangan test tertulis secara masal di gedung pemuda ambarawa. Nomor urutku 200 sekian. Ada dibarisan belakang.

Tak kehilangan akal, kututup jari2ku dengan bekas ranting kayu dan aku balut dengan perban. Kuteteskan sedikit betadin agar terlihat luka baru.

Selanjutnya kuikuti prosedur tes dan kujawab soal2 itu. Alhamdulilah masih segar ingatan ini dan tak sulit kumengerjakannya. Walaupun sudah 2 tahun ingatan ini tumpul karena timbunan buruh di pabrik.

Tahap demi tahap kulalui dan tanpa sepeser pun uang sogokan kulayangkan. Yakin seyakinnya. Sumpah. Beberapa orang tak percaya kabar ini bahkan maido. Orang dalam pun kami tak punya. Adanya Dia yang diatas sana.

Tes psikologi, tes IQ hingga tes pantukhir selesai kujalani. Yang kuingat, aku dihujani pertanyaan2 tentang adakah keterlibatan keluargaku di g 30 s pki? Semakin tak paham aku. Sungguh kasihan mereka eks pki, seperti menyandang ‘dosa asal’ saja.

Hanya pertanyaan ini yg kupaham : “tangannya kenapa kok di perban?”

Kujawab ringan : “kecelakaan”.

Puji Tuhan, setiap tahap aku lulus dan mendapatkan kesempatan utk seleksi berikutnya. Aku juga nggak tahu apakah jariku yang demikian itu menggugurkan atau tidak. Atau mereka nggak tahu yg sebenarnya, atau jangan2 karena iba.

Kini sampai di penghujung acara penyerahan SK oleh bupati semarang.

Saatnya pula ‘ku buka perban nakal ini’.

Dan akhirnya semua tercengang melihat diriku yang tak bisa membawa map pemberian bupati. Terpaksa ku kempit di bahu karena memang jariku sudah tiada. Semua akhirnya tahu. Tanganku ternyata buntung.

Selanjutnya aku mendapat surat tugas sk terdampar di kab wonosobo. Yg kemudian di cancel.

Babak baru kumulai disini sprint ini, ungaran tercinta (edited). Setelah akhirnya kuputuskan untuk undur diri. Kutanggalkan profesi aparatur itu.

Berjuang menuju estafet selanjutnya.

Bang Rocky, pandanganku

Terlambat ku mengenal sosok ini. Mungkin aku orang awam yang gak pernah tamat pendidikan tinggi, sehingga berhasil menjadi target konsumsi gaya berpikir filsafat beliau.

Saking penasarannya kuikuti hampir semua chanel medsosnya, ig, yutub, twitter, dan fb. Termasuk gambar ini pun kucomot dari fbnya tanpa ijin.

Ngomongin filsafat gua dungu sedungunya, tapi nggak terlalu amat deh. Dulu pernah sih baca buku filsafat, tertarik tapi sulit memahami. Banyak bertebaran buku diantaranya tentang nietsche milik omku.

Ketertarikanku pada bang rocky saat beliau pidato di makassar dan mikroponenya mati. Dia bilang : “5 menit saya perbaiki bisa kelar”. Dalam hatiku berkata iyah bener, berarti paham logika dia, pre amp mik hanya terdiri dari rangkaian sederhana resistor, kapasitor paling apanya sih yg rusak. Switchnya aja kali.

Ditanya tentang wanita jawabanya : “indah sebagai fiksi dan berbahaya sebagai fakta”, gerrr … pecah punchline-nya.

Nggak tertarikku sama beliau, kalau sudah terpojok dalam argumen, bicaranya ngelantur bolak balik cari pembenaran. Ciri2nya udah mulai usil dan ngulat ngulet badannya. Tangan di saku bak orang sombong. Contoh saat ditanya tentang hasil debat pilpres pertama live di CNN, mungkin takut dipelototin dan digetak bang nusron, muter2 jawab improvisasi debat itu harusnya kaya musik jazzz … bla bla … ngelantur. Kutunggu endingnya nggak nemu dan nggak bisa klik dengan nalar musikku.

Mendengarkan alur kritis bang rocky ku dibawa ke berpikir logis, terus masuk ke dalam dan semakin menuju kebenaran atau pembenaran biar para ahli yang menentukan. Lihat saja entah kawan atau lawan pasti manggut-manggut terhipnotis oleh akal sehat (versi rocky). Tapi hati2, jika terlena bisa keblusuk dalam permainan akal sehat itu dan you akan bilang ‘akal sakit’

“Kritik itu untuk menunjukkan kesalahan. Kritik yang membangun itu permintaan orang yg gak mau dikritik” lagi2 celoteh bang rocky yang membuatku geleng-geleng, bener juga.

Manipulasi rocky gerung kadang dibalut kelucuan sehingga membuat lawan bicara tertawa nggak jadi marah. Lihat saat disanggah : “kan sudah ada di power point?” Jawabnya : “ah, power point itu kan menunjukkan kalau nggak punya power dan nggak punya point” semua ngakak habis. (lupa lengkapnya) …

Hati-hati, kata dungu, tolol, dan akal sehat yang bang rocky ucapkan adalah strateginya bertahan dalam kemarahan untuk memicu emosi lawan. Makanya jangan terpancing amarahnya, sebab semakin mudah anda untuk dipatahkan. Apalagi di ILC, itu panggungnya, nggak bakalan menang, bisa jadi dibuat bangkrut kosa kata anda.

Terkait kasus kitab suci fiksi, tak perlu ke ranah hukum. Stop lapor melapor. Tak perlu memberhangus sumbangan pikiran. Gagasan dilawan dengan gagasan. Mungkin beliau keliru pemahamannya tentang kitab suci. Tinggal dijelaskan adu argumen jangan dipidanakan. Pendengar tahu sendiri mana yang benar atau salah.

Dulu saat ada bahasa-bahasa ngawur sok intelek malah kita puja bahkan viral dengan kamus vickynisasi pun tak dipermasalahkan. Seindonesia rusak bahasanya. Sedangkan kini ada bang rocky intelektual yang kritis dibalut bahasa filosofis malah diberhangus.

Sumbang sihnya tentang kajian filsafat diperlukan bagi bangsa untuk melawan retorika para politisi saat ini yang berlomba cari popularitas. Apalagi musim kampanye seperti ini, harus muncul rocky-rocky lagi untuk menge-remnya.

Satu lagi, bagi orang yang tak pernah kelar sekolah kayak gue bangga dibela bang rocky demikian katanya : “Ijazah itu tanda anda pernah sekolah. Bukan tanda anda pernah berpikir”.

Ini gua nulis sambil mikir lho. Mikir para haters.

rip Komplong

#RIP_Komplong

Dahulu aku punya teman di kampung, namanya wahyudi. Kedua orang tuanya tidak diketahui sejak dia usia SD, diketemukan di jalan oleh warga kampungku. Singkat cerita dulu dia amat rajin, membantu bu ngatini kesana kemari jualan sate. Konon katanya saat belum berumur, dia sempat diperbantukan sebagai koster agar ada pendampingan sambil bekerja di pastoran. Namun hanya sebentar dan dia memutuskan kembali ke kampung kami. Dia baik banget kepada semua orang. Wahyudi cenderung introvert, tertutup dan pendiam.

Menginjak masa mudanya, dia menghilang begitu saja dan memilih hidup dalam pergaulan bebas. Kabar yang kami terima terlibat miras hingga tak terkendali bahkan makan rajangan daun daun kecubung.

Pulang lagi ke kampung dalam keadaan sudah sempoyongan. Lusuh dan pola pikir pun sedikit ‘owah’. Sering membuat ulah dan alhasil warga menyebutnya KOMPLONG yang berarti : kosong mlompong dan sempat menjadi bulan2an. Sepeninggal bu ngatini kondisi semakin parah. Ia menjadi pemuda dengan sebatang kara. Tiap hari tidurnya di pos kamling warga. Tetapi yang kusalut dia berupaya cari makan sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Tak ada kebutuhan lain kecuali makan dan rokok. Rokokpun cukup ngumpulin ‘tegesan’ (puntung) sisa orang lain.

Berjalan menunduk, acuh jika tak disapa, tapi langsung tanggap gapyak jika sudah dikenal, dengan dandanan mboys kekinian beranting2, pergi ke entah kemana yang penting dapat sesuap nasi tanpa pernah meminta. Ngamen, panjat kelapa, ataupun kuli bagi mereka yang membutuhkan. Dia hanya ingin bertahan hidup tanpa merugikan orang lain dengan segala keterbatasannya. Walau banyak warga sekitar yang bersimpati dan memberinya makan, dia tetep berusaha cari makan sendiri. 20 tahun lebih pengembaraan tersebut.

Nama ‘komplong’ menjadi jargon manusia kosong di kampung itu. Setiap perilaku buruk pasti akan dianalogikan seperti ‘komplong’. Walaupun sebenarnya komplong tak seburuk itu, tetep saja semua hal buruk baik itu sifat atau penampilan akan disebut komplong.

Kadang dimanfaatkan orang sebagai ahli nujum (juru ramal). “Berapa nomor togel untuk besok, komplong”? tanya warga sekitar yang maniak dengan lotre.

Tak sadar, nama komplong justru akan menjadi motivasi untuk banyak orang.
Sebutan ‘seperti komplong’ kepada seseorang pasti akan menusuk membuat orang tidak terima. Sehingga semua orang mengunggah kebaikan di kampung itu agar tak disebut ‘seperti komplong’. Dan juga nama komplong dipakai sebagai sosok yang ditakuti anak kecil. “Ayo sudah sore, segera pulang, nanti ditangkap komplong!” ujar seorang warga menakuti anaknya.

Terpukul aku, … usai sudah peziarahan komplong.

Saat aku merayakan atas berkurangnya sisa umurku, tersiar kabar komplong tiada.

Dia meninggal di gardu pos kamling.

Wafatnya tanpa punya siapa dan apa pun.
Takdir di hari yang baik, yaitu saat semua umat merayakan hari kasih sayang. Kasih sayang semua warga kampung glodogan yang sungguh ikhlas nyengkuyung. Mungkin ini jalan yang terbaik.

Jika ada pepatah disana mengatakan : “nggak ada perjuangan tanpa pengorbanan”, aku yang ini saja : “nggak ada pengorbanan (perjuangan), tanpa ada yang dikorbankan” Yang satu baik dan yang satu lagi mulia.

Selamat jalan mas wahyudi, namamu akan kukenang.

Jargon ‘komplong’ itu akan selalu ada di hatiku tanpa mengurangi kehormatanmu.

Foto kucomot dari unggahan facebook warga.

Piring Terbang dari Negeri Babi Guling

Piring Terbang dari Negeri Babi Guling
===============================

Baru sepekan kami di kota Bali sudah sok2an peduli bahaya limbah plastik. Sebuah pulau kecil dengan penduduk yang sangat padat wisatawan, perputaran dolar pun sangat tinggi. Demikian juga sampah anorganik plastik yang kian menggunung. Pemda Bali tlah mengeluarkan fatwa larangan penggunaan kantong plastik, sedotan, dan steorofoam. Kita2 wisatawan ikut kena imbasnya musti menyesuaikan.

Berawal kemaren saat belanja di toko kelontong, setelah bayar si kasir bilang : “maaf gak tersedia kantong plastik”. Kujawab : “baiklah non” sambil menggerutu. Tahu sendirilah, tanganku yg buntung harus menenteng belanjaan yg lumayan banyak. Yah akhirnya ‘nggregeli’ ambyar, 3 kali bolak balik ke mobil. Kunikmati prosesnya, seru juga.

Pada akhirnya kami putuskan belanja online saja. He he he … biasanya begitu driver datang kusahut belanjaanya dan selesai dah tinggal kasih point bintang. Tapi kini pake tas kain masnya dari gojeg. Dari ujung pintu terdengar klakson dan kudekati ternyata masnya gojeg : “pak tasnya mohon dikembalikan lagi”. “oiya lupa … maaf” sahutku kalem. Kerenn …

Keesokanya kami diundang rapat utk koordinasi tentang perhelatan sebuah event. Tumpukan gelas sudah berbaris, tak ada lagi botolan aqua. Makan pun tidak dalam dos tapi piring. Yakin, sumpah sungguh nikmat dan menjadi kian akrab suasana ramah tamah kami. Yang kulirik piringan babi guling namun sayang tak tersedia.

Setelah itu pulang, kok ya lihat video gubernurku ngevlog buat himbauan agar bingkisan kurban jangan memakai kantong plastik kresek lagi, tapi besek bambu dan daun pisang sbg alas. Seperti berkatan tempo doeloe. Rupanya selepas kongres partai terbesar di bali ya, jadi ketularan peduli go green. Lanjutken pak, kami dukung …

Ekspektasiku terlalu tinggi, kukira kita akan melesat terus menggilas jaman. Sampah plastik akan terurai oleh teknologi mutakhir masa kini. Berandai-andai jika plastik akan menjadi konsumsi manusia berbentuk capsule dengan segudang nutrisi. Kita akan berbaur dengan makhluk luar angkasa dengan naik pesawat piring terbang. Zaman semakin maju dengan tekhnologi mutakhir 4.0, 5.0, 7.0 dst. Tapi ternyata tahluk pula oleh plastik.

Yeahhh … akhirnya kita akan menuju jaman ‘piring terbang’ beneran. Nasi tak lagi berkemas dos/ stereofum, namun dalam piring yang diedarkan (piring terbang). Masih usumkah ditempatmu tradisi nasi piring terbang spt ini? Berbahagialah, karena tiba saatnya tempe, lontong, dan tape ketan berbungkus daun pisang lagi.

#buntungsuwung

MERDEKA

Pria berbadan gagah itu mengikuti upacara bendera yang tak jauh dari rumahnya. “Kepada sang Merah Putih, … hormaaattt … grak!!!” komando dari sang pemimpin upacara. Ia pun langsung dengan sigap mengangkat tangannya mengiklaskan semua anggota badannya sambil memberi hormat penuh totalitas keberanian. Selanjutnya meneriakkan pekik : “Merdeka! Merdeka! Merdeka!” menirukan aba2 inspekturnya. Terlihat gagah nan berwibawa dengan gemerincing atribut lencana mengiringi langkahnya.

Akhirnya, usai sudah upacara itu, dia pun pulang menuju rumah dengan sepeda motor plat intuisinya. Begitu turun, langsung menyandarkan motornya dan masuk rumah sambil memberi salam kepada keluarga : “Bu, bapak pulang … !!!”. Seekor anjingnya yang duluan mendekat memberi salam, guk … guk … guk …

Istrinya menyambut keluar tapi justru apa yang diucapkanya? “Stop !!! … Tahu nggak !!!! … lantai ini masih dipel belum kering sudah diinjak-injak, lihat pake mata dong?” Bentaknya kpd suaminya. Mendengar gelagat buruk itu anjing pun ikut menjauh dengan ekor kebawah krn ketakutan.

“Iya maaf bu, nggak tahu, gak kelihatan dari luar” jawab pria itu melemah.

“Jangan banyak alasan, angkat cucian di dapur dan kamar mandi, masih menumpuk tolong selesaikan” suruh istrinya kian menjadi.

Dengan nada semakin pelan pria itu berucap : “nggih … ” mendadak melow dan lemah gayanya. Ia merendam pakaian di mesin cuci dan menuju dapur. Sementara si anjing hanya mengamatinya dari jauh. Ditolehnya dan anjing itu membuang muka, gak tega barangkali.

Tiba2 nada pesan handphone berbunyi dan dibukalah pesan itu sambil mencuci. Tapi celaka , sang istri pun secara kebetulan lewat. “Kerja ya kerja! nggak sambil mainan HP” bentak istrinya bertubi-tubi.

Terlihat sang suami memendam sesuatu. Tekanan batin dan rasa dendam yang tak terungkapkan. Hanya duduk termenung di samping rumah kayu ditemani anjing kesayangannya. Anjing menjilat2 kakinya terus mengibaskan ekornya kekanan kekiri memotivasi tuannya.

———

Suatu saat berceritalah pria itu kepadaku di teras depan gereja tua, dibawah lonceng tepatnya. Dia mencurhatkan segala ketertekananya, termasuk keingin pergianya berlayar, ingin melanjutkan sekolah, ingin punya duit banyak dll. Tak sanggup dia menolak dan berkata tidak untuk istrinya. Dia ingin membahagiakan sang istri, karena isteri sumber rejeki katanya. Selanjutnya kuajak pergi menikmati 4 botol bir yang tak jauh dari kampung. Semakin tambah menjadi curhatannya krn dipengaruhi alkohol.

OMG, beberapa hari kemudian terdengar kabar dia terkena serangan stroke dan beberapa bulan kemudian tak tertolong hingga meninggal dunia. Kurawat dan kuadopsi anjingnya itu, setiap hari berlinang air mata. Hingga ajal pun menjemput anjing itu juga.

Sungguh keterlaluan wanita ‘penjajah’ itu. Telah merenggut mereka semua. Dendam kesumatku pun mulai tumbuh.

Tiba2 kakiku terasa sakit, bajuku robek, rambutku kusut, ternyata ke 3 anjingku telah membangunkan tidur nyenyakku.

Apa yang kupikirkan kemaren hingga mimpi spt itu, upacara 17an, angon kirik dan …?

Sudah merdekakah kalian sahabatku?

Otwe uluwatu.
#buntungsuwung

Selamat jalan Putu Devina

Selamat jalan Putu Devina,

“Om didiek, …!! ” suara anak kecil itu memanggilku lantang. Begitu kutengok, dia selinapkan muka dibalik tirai jendela. Kembali suara itu hadir : “Om didiek, … !! ”, begitulah seterusnya sambutan ramah disetiap aku berangkat dan pulang kerja. Dia tetangga persis depan rumah  dan sudah layaknya saudara.

Waktu dia kecil sering kuajak bermain bola. Dia tertawa lepas  saat aku jatuh dan tidak bisa menahan tendangan bolanya. Semakin aku terpelanting keras, semakin lantang pula tawanya. Ada banyak kenangan masa itu dan masih kusimpan di hp nokia N900. Semoga masih bisa dibuka. Bermain pasir adalah permainan favorit yang lebih dia pilih waktu itu. 

“Menginjak besar, kamu mulai malu. 

Waktukupun tak seindah dulu untukmu 

Masih selalu memandangku tersipu 

dengan berpegang daun pintu 

selalu dibalik latar kelambu, kau mengintipku

Hari ini waktu indahku buat kamu, 

Tak sebiasanya aku pulang, lebih dulu dari jam sekolahmu.

Sesampai di rumah kusandarkan tubuhku 

Kudengar panggilan itu : “Om didiek … Om didiek … !!!! “ dengan suara nan merdu “ 

Begitu kudengar panggilan itu,

Kuhampiri dan seolah jantungku mengajak berhenti. Dia di dekapan bapak ibunya dengan kondisi terlunglai lemas, tatapan kosong, badan dingin dan tak berdaya. Dibalik itu dia tersenyum sambil berlinang air mata. 

Tanpa sehelai katapun, langsung kubawa  entah kemana bumi ini memberi pertolongan segera.  

Setidaknya dua lampu merah aku terobos untuk menghantarkannya ke UGD. UGD mana yang aku pilih? Setidaknya ada 5 UGD diseputarku. Sebuah pilihan yang sulit karena menyangkut keselamatannya. Hanya butuh waktu 5 menit utk membawanya ke UGD. 

Namun,

Sia-sia usahaku, karena suratan takdir berkata lain. Kami tidak mengharapkan semua ini terjadi. 

Pedihnya aku menyaksikan detik detik ini. Dia  di sebelahku dan mengajak bermain pasir disaat dokter dan suster bersusah payah mengoyak tubuhnya dengan berbagai alat bantu. 

Dia anak satu satunya dari orang tua yang sungguh sangat sayang. Orang tuanya saling berpelukan, tak tega dan berdaya lagi harus berbuat apa. Semuanya hanya berpasrah diri. Hanya satu harap, unjukkan doa, sembah sujud, langitkan permohonan ke Sang Hyang Widhi.

9 tahun usianya.

“ Kini ambulan yang mengantar tubuhmu pulang

Tapi tidak dengan rohmu. 

Kurasakan kamu ada di mobilku bersama bapak ibumu.

Sekarang kamu tidak malu lagi dengan aku, 

tidak lagi malu dibalik kelambu, 

pun tidak lagi berpegangan daun pintu

Peganglah pintu surga

Bahagia engkau di nirwana

Selamat jalan Putu Devina”

EO ndeso yang letheg dan kumal

Dari pelosok kota yang jarang dikenal (kota ungaran) kami menyusuri aspal tol menuju ibukota. Disana bangunan gedung berlomba-lomba menjulang saling mencabik langit. Kusinggahi pom bensin dulu untuk sekedar cuci muka dan kumur demi menghilangkan bau pete sisa semalam.

Alhamdulilah, gps yang kuarahkan tepat menuju satu diantara gedung2 mewah itu. Ku diberi kesempatan untuk memasukinya. “Selamat pagi bapak, maaf tidak boleh masuk, harus berpakaian yang sopan” dua orang satpam tiba2 menghalau langkahku sebelum pintu metal detektor.

“Maksudnya bagaimana”? Tanyaku

“Disini aturannya kalo pake kaos harus berkerah” jawabnya lugas. Sementara kulihat tamu2 lain cuek tak ‘sumanak’ seperti dikampungku.

Kujawab begini : “Besok lagi kalau mau undang orang yang jelas, tulis jika memang tidak boleh pake kaos. Saya tak tahu aturan itu. Bagi saya ini sudah sopan. OKE saya pulang dan anda yang bertanggung jawab atas ketidakhadiran saya” sambil kuserahkan print email undangan dari salah satu pejabat mereka.

Sambil menuju tempat parkir yang saya juga lupa jalannya, entah dimana dan sopirku pun juga lupa, ku menggerutu ‘bajindul, bajindul, bajindul’.

Tiba-tiba 4 orang satpam memanggil dan menghampiriku : “pak, pak, pak !!” Lah … ternyata aku balik ditempat itu lagi.

Mereka malah merayuku untuk kembali masuk gedung. Saya dikawal naik lift hingga ruangan pejabat itu. “Pagi, ada tamu dari bpk didik potensindo” kudengar ujar satpam kpd mereka. Sontak ambyar konsentrasi mereka. Yang lagi ngrumpi terhenti, yg lagi makan pun berkemas dan suasana hening semua kembali ke posisi mejanya masing2. Mereka melihatiku dari ruangan kaca mungkin karena rambutku pirang gondrong, kaos oblong, kalung karet, gelang rantai pada tangan buntung, celana jeans, sepatu ket dan tampang ndeso.

Saya pun duduk, dengan dengkul menyembul karena jeans sobek dan selanjutnya ditemukan dengan PPK, pejabat pembuat komitmen. Ppk menjelaskan demikian panjangnya : “Bapak kami panggil untuk mengerjakan even RITECH EXPO 2019 di Denpasar Bali. EO sebelumnya yg ditunjuk berinisial ‘DMP’ telah mengundurkan diri dan dimungkinkan kena sangsi black list. Apakah EO yang bapak kelola bersedia untuk mengerjakanya?”

“Insyaallah siaap, … ” jawabku tegas tanpa penjelasan panjang. 

“Baik, karena sudah mepet dan telah banyak kehilangan waktu, kita akan langsung tanda tangan kontrak” tegas beliau. 

—-

Kemudian kami kerahkan kru, team kreatif dan para korlap. Peserta dan partisipan semakin bertambah. Request2 dadakan banyak sekali membikin kami kalang kabut. Ditambah ada salah satu dari mereka yang cerewet seperti lambe turah. Seperti tak percaya pada kerja EO kami. Mereka meragukan kemampuan kami. Hingga pesan whatsap bertubi2 masuk ke kami dengan bahasa2 yang tak enak.

Kami tawarkan stan kesana kemari untuk ikut memeriahkan. Menjual stan dengan gaya wong ndeso. Keroyokan bareng2.

Terbayar sudah kekesalan itu, melihat animo pengisi stan dan pengunjung yang demikian tinggi. Mereka banyak yang datang dari luar pulau. Termungkinkan pula ingin sambil berwisata. Pagi siang malam selalu berjejal bahkan kami lakukan system buka tutup.

Sementara ‘si lambe turah’ terus komplain, karpet kotor, lantai goyang, ac gak dingin dll. Kru kami menjawab : “ini lapangan terbuka disulap darurat, kalau ingin nyaman sana di gedung”

Tak seperti biasanya, ini stan tentang inovasi dan tehnologi. Tak ada stan pindahan pasar, dagangan baju, batu akik, obat oles, dll.

Adanya stan : 
– tangan bionik alat bantu disabelitas,  
– robot yg bisa memadamkan kebakaran menggunakan co2,  
– mesin batik tulis dg canting yg menggambar otomatis, 
-penjernih air tapi dari plantoon,  
-VR game, 
– roket air, 
– kapal perang dan masih bnyak lagi yg ber- teknologi 4.0.

Senangnya bisa dihadiri RI-2 dan selalu mesam-mesem setiap meninjau stan, semoga beliau berkenan. Perkirakan jumlah total pengunjung mencapai 37 ribu.

Si ‘lambe turah’ yg dulu sinis, kini tak lagi komplain. Mak klakep. Semoga tidak sedang bergerilya cari2 kesalahan dan kami pun segera mendapatkan pembayaran. Amin. Amin. Amin.

Kini kami sedang cuti dan menikmati nasi petai kembali. Tadi saya video call mereka para kru. Ada yang sedang kembali cangkul sawah, ada yang mancing di rawapening, ada yang panen sawi, ada yang merumput ‘ngarit’, ada yang panen lombok, ada yg mbecek, dsb. 

#buntungsuwung

Kendang Koplo

Tak kusangka, pemain kendang dangdut bakalan nge-hits seperti sekarang. Alat musik ini adalah jantungnya musik (dangdut atau sejenisnya). Dia yang akan menentukan arah kemana nanti lajunya bit serta mempertahankan irama. Tak ada yang bisa melawan pola ritmiknya. Dulu begitu terpinggirkan dan terkesan norak jika mendengar irama kendang. Terlebih para lajang. Tapi kini lihat dan dengar histeria sobat ambyar saat mas Dory mengegas kendang koplonya.

Para orang tua pun sedari kecil mengkursuskan anaknya les piano, biola, drum, gitar dll. Sangat jarang yang mengkursuskan kendang. Bahkan arogansi player keyboard solo organ (saya lho) terkesan menyindir pemain kendang seperti ini : “kamu nggak solo kendang saja sana”? ejekku.

Kini semenjak musik koplo menggema di seantero jagad awal th 2000an, alat musik ini demikian digandrungi bahkan anak-anak hingga milenial. Hebohnya lagi kaum hawa pun mulai meliriknya. Variasi loop-loop baru dengan berbagi ‘cengkok’ yang mencerminkan masing-masing daerah. Semakin menggila karena semakin padat variasi perkusi dan ‘senggakan’. Dengar saja gema cendol dawet yang asik itu membius ribuan pengunjung.

Masih kurang puas, musik koplo berekspansi ke jalur rock, rege, dan etnis. Bahasa halusnya sih kolaborasi, padahal menurut saya dangdut ingin merebut pasar mereka. Oke, tutup mata sejenak dengarkan lagu-lagu live koplo. Nikmati saja alur koplo kemudian rock, ditengah jaipong, kembali rock, koplo lagi, dijaipongkan dan kadang dilanggam dan keroncongkan. 

Lihat juga jogetannya, saat masih dangdut standar jogetan mendayu-dayu pada setiap birama, namun begitu dikoplokan hentakan semangat hadir di setiap seperempat biramanya. Massa terurai seperti ter-urapi. Selebrasi massal bak mendapat spirit baru. Bandera2 pun mulai dikibarkan. Rasakan sensasi itu? 

Jelas, posisi pengendang sangat vital. Pamor pemain kendang semakin naik, khalayak pun menggandrunginya, harapannya honor pun juga tak sembarangan. 🤪

Tentang dunia perkendangan, sejak beberapa tahun lalu diam-diam kulihat livenya, yaitu non Mutik Nida. Kuamati kelincahannya dan semakin berkibar hingga hampir semua stasiun TV pernah menayangkannya. Yang lain pun banyak yang kuikuti via media social. Terakhir agak kaget aku, ada follower facebooku yang masih kecil di bangku SD yang rajin live dan menyapa, bagoes dwi rivanda namanya. Awalnya biasa-biasa saja. Lama-kelamaan menyita perhatianku juga kelincahannya. Dia asal Ngawi dan kemaren kulihat sudah live di acara hitam putih Trans7.

Paling heboh lagi adalah si Dory, pemain kendang didi kempot. Kini cowok tersebut viral diteriaki sobat ambyar dan kuyakin bukan karena ketampanan, menangisnya, dan membawakan lagu saja, tapi yang jelas adalah tehnik dan variasi memainkan tangan menabuhkan gendagnya. Setiap keplakan, cabikan dan lentikan jari diatas kulit sudah terukur keinginan suara apa yang dia harapan diatas pad.

Terbayang nggak, berapa pattern memori para tukang kendang berikut bitnya, dan kapan saatnya tepat dia berimprovisasi menggeret musisi dan meng’ambyarkan’ audiens?

Dan faktanya sekarang mereka beneran bisa terima job #solo_kendang dengan honor yang berlipat. Beberapa kutanyakan tentang asal-muasal keterampilannya, rata-rata bukan karena kursus atau sekolah tapi lihat youtub. Para master kendang harap was-was, new comers milenial hasil koloni yutub lahir mendadak merebut hati pasar.

Nulis ini tiba-tiba terbesit pikiran melayang keluar: “jangan-jangan irama koplo terinspirasi dari tari kecak bali ya? Simak saja akapela para penari kecak, ritmis ketukan yang dilafalkan dan senggakan standarnya mirip irama koplo” lamunku sesaat.

Eh, … kembali ke topik, saatnya pemain ‘solo kendang’ show off secara tunggal tanpa player keyboard. Minus one pake midi atau mp3. Dia yang terima job jutaan dan gua yang mainkan midi cukup dibayar 40rb.

Maaf, sekedar nulis suwung. Cah ratahu lulus kuliah. Efek raiso turu.