Tali sepatu vs Tali kotang

Semakin bertambahnya umur kami harus kompak. Kalo nggak kompak bisa jadi doi nggak kotangan dan aku nyeker nggak sepatuan.

Beberapa bulan semenjak lengan kirinya bermasalah, setiap pagi istriku menyuruhku menalikan kotangnya.

Dengan segala keterbatasan kutetep berusaha menolongnya.

Entah bagaimana caranya, untuk saat ini dengan cara kugigit tali kotangnya sementara tgn kananku mengaitkan penguncinya, lumayan tgn kiriku dapat bonus pegangan.

Misi 1 selesai. Giliran misi ke 2. Aku harus nunggu istriku selesai bersolek untuk minta bantuannya menalikan sepatuku.

Sesudahnya baru kami bisa pergi bersama.

TRAGEDI TOILET (part-4) Poli

Senja di poliklinik pada sebuah ruang tunggu umum berapa tahun yll, bau mengambar2 dan kusangat mengenalinya, iya betul aku tahu itu … Kepada si bungsu kupesankan :
+ nak, jangan duduk disitu, kesini saja bau lho.
– ya
+ kok masih bau ya, duduk diluar saja yuk.
– ya. Namanya saja rumah sakit, pasti banyak yg sakit.
+ rupanya harus lebih menjauh nak, ayok langsung apotik saja.
– ya. Sabar jangan marah.

Kami pergi 50 meter menjauh menuju apotik dan kududuk di ruang tunggu juga.
+ kok masih bau ya, jangan2 kamu yang cepirit.
– gak, senengnya nuduh sembarangan, aku mesthi ngomong to. Paling orang itu lho, yang tadi ngantri juga di poliklinik.
+ oh … oke. Sorry.

Bau semakin menusuk padahal sudah tidak ada satu orangpun disekelilingku kecuali si bungsu. Langsung kupaksa dengan sedikit membentak :
+ berdiri dan ayo ke toilet sama pa2!!
– ya.
Sesampai di wc aku buka dan Astaqirullah sudah lengket semua. Tetep masih ngeyel :


– lha nggak terasa. Biasanya bunyi lha ini nggak.

Begitulah ngeyelnya si bungsu.

Nyasar Kondangan

‘Event’ mania nyasar resepsi

Tak paham event apa ini sebenarnya, saat melintas pesisir Tuban tiba2 terdengar gema speaker dan gemerlap lampu parled. Akhirnya kuputar balik dan parkir tepat di depan masjid.

Ternyata sedang berlangsung festival muharam di bumi wali tersebut. Itulah aku, selain create, kami senggangkan utk hunting event di kala senggang terutama yang gratisan. Mau disebut penggila event, bolehlah. Tapi tak sedahsyat itu.


Teringat mania si bungsu, yang selalu ngajak berhenti jika ada event/keramaian. Pernah suatu saat kami sekeluarga berhenti hingga 4x demi menurutinya. Saat itu perjalanan ke keteb pas magelang. Berangkat lewat kopeng ngajak berhenti karena ada tontonan kuda lumping. Selanjutnya berhenti lagi karena melihat gagahnya panggung rigging di suatu lapangan.

Sepulangnya kami harus mengikuti skylight dan ternyata adalah pasar malam.

Dan yang terakhir karena pingin segera pulang kami berjalan kencang. Tiba2 dia berteriak : “pak, pak, … stop … stop … Aku pingin lihat yang tadi. Ada lampu2 dan soundnya bagus. Rame banget”

“Jj, ini sudah capek, sudah malam, besok lagi” jawabku.

“Nggak, pokoknya aku mau nonton” rengeknya sambil nangis.

Semakin jauh semakin sulit mengendalikannya. Kuganti acara apa pun gak mau. Hingga dia bilang : “plis, ini yang terakhir, besok janji nggak lagi”

Negosiasi dan kami pun ngalah sehingga putar balik. Bayangkan kami sudah sampe pertigaan jl magelang muntilan, harus kembali ke pedesaan deket ketep.

Akhirnya kami sampai dan dikawal oleh hansip dan dicarikan lokasi parkir. Begitu turun kumendekat ke sumber suara dan gemerlap cahaya kulihat semakin rame dan oh ternyata kursi pun full. Kulihat gelagat yang tak beres sepertinya.

Alamak, …. ternyata itu acara resepsi dan kami dikira mau kondangan. Kuputar balik arah dan si bungsu baru puas.

Sesampai dimobil sulung dan putriku pun ngakak abis sak pole. Kami pun juga ngakak. Kini mereka semua sudah besar, sulit dapet moment ngakak bareng lagi.

buntungsuwung

Lucunya pelamar kerjaku

Ingat cerita humor dargombes? Iya dargombes dulu karyawan saya itu. Sekarang dia jual kambingnya untuk beli hp dan telpon ke saya seperti ini :

Dar : “ada lowongan pekerjaan pak?”
Saya : “ada”
Dar : “bolehkah saya melamar”
Saya : “boleh”
Dar : “bagian apa pak”
…..
(Agar tidak ada pertanyaan lagi saya jawab selengkap mungkin setidaknya seperti ini ) : “bagian waiters ada driver ada kru pun ada. Besok jam 9.00 datang ke kantor bawa lamaran lengkap lagi berupa cv ktp dll langsung interview saja dengan saya. Paham?”
….
Dar : “baik pak, maaf jam 9 pagi atau 9 malam?
Saya : “ya pagi to, di kantor kan pastinya jam kantor pagi!!!”
Dar : “ya pak. Sebab bapak kan biasanya dikantor sampai malam”
Saya : “iya …. “
Dar : “iya bagaimana pak berarti pagi atau malam pak?”
Saya : “sak karepmu!!!”
Dar : “kalo karep saya ya jam 9 malam”
Saya : “iya, sembarang sak legomu!!!!”
Dar : “iya pak terima kasih, boleh tanya di kantor masih ada mes pak?
Saya : “tidak ada. Kos saja.!!! “
Dar : “kalau kos sebulan berapa ya pak.”
Saya : “tidak tahu.!!!!! …. kono takon pak rt ne”
Dar : “baik pak maaf … boleh minta telepon pak rt nya”
Saya : “kono njaluk mbahmu !!! …
Dar : “sabar pak, nanti sakit lagi”

… mak jlebbbb ….
Padahal jebule sesuk sebtu ki prei … males rembugan maneh … dargombes tenan …..

buntungsuwung

Lampu seinmu dan seinku

Hampir 2 km membuntuti wanita matang usia itu. Sepanjang jalan dia menyalakan lampu sein isyarat belok kanan.
Sengaja aku nggak mau mendahului krn alasan keselamatan. Sudah ku klakson dan dim, namun tetaplah tidak tersampaikan, justru keadaan balik membahayakan.
Ingin kubuka kaca mobil dan kuteriakkan ‘goblog tolol’, tapi aku urungkan.

Begitu dia berhenti didepan toko tetep dengan sein kanan, kusedikit menepi membuka kaca mobil seraya teriak : “bu, perhatikan lampu seinnya. Kalau jalan yang benar. Membahayakan!”. Nampaknya ibu tersebut ketakutan.

Kembali kutancapkan gas mengejar ketinggalan tadi.

Dari arah kanan aku sudah dipepet mobil solar dengan kernet yang meneriakiku kencang : “bisa nyopir nggak! Dari tadi lampu sein nyala. Bikin bingung!!”.


Ternyata justru lampu seinku yang juga berkedip dari rumah tadi.

Instropeksi diri

buntungsuwung

susuku galon dan air aki

Baru saja sungkem via online kepada mak’e (ibundaku) yang sedang berada di kota Medan sana. Baru sepatah kata “halo!” sudah dihujani ratusan frase wejangan, rumpian, kangenan, gosip, dan bla bla bla … ora karuan genahe. Tak bisa kuputus sedikit pun atau barangkali hpku nokia biru yang jadul sehingga kalah sinyal gak bisa ngejam (bhs breaker). Bersyukur … ibuk sehat ….

Ada satu cerita yg membuatku haru :
“Deh, dideh … (sapaan ibukku kpdku), dulu saat kamu lahir Bapakmu nggak ada di rumah. Ceritanya begini, … sore sepulang ‘nyelepke gabah’ (nggiling padi) ibu kecapekkan terus tidur. Karena ibu pernah melahirkan kakakmu 2 kali, maka ibu sudah hafal tanda2 menjelang kehadiran jabang bayi. Begitu terasa, … ibu langsung nggelar tikar sendiri di kamar beserta jarit juga ember yg sudah siap. Ibu hanya sendirian lahirkan kamu nak.
Setelah kamu lahir … ceprol … terdengar jeritan oek .. oek …, baru ada simbahmu mujiyati yoto yang datang kemudian ibu suruh panggilkan mbah Karmi. Oleh mbah karmi di pijat agar ari2nya keluar. Sertelah itu disusul dukun bayi namanya mbah gimah dan tetangga2 mendekat. Mbah Gimahlah yang motong ari2mu tapi pake welat (bambu) nggak pakai gunting stainless spt jaman sekarang. … ”

Kutertegun diam walaupun entah kapan waktu itu sudah pernah diceritakan tentang hal itu. Perlu diketahui … (jika ingin tau saja) … bahwa aku anak ke-3 dari Lima lelaki Bersudara (PANDAWA LIMA). Jadi bolehlah aku dipanggil Janoko.

Aku dan Emakku saling terdiam sejenak … masih belum puas ibuk melanjutkan ceritanya : “Kamu minum ASI nya banyak sekali, namun karena ibu harus kerja, terpaksa disapeh (dilepas) saat umur 3 bulan. Kamu dirumah sama Mbah Raolah dan Mbah Yoto. Karena minummu banyak sekali, bapakmu memakai bekas botol air aki untuk dot mu agar besar nak nak.”

Aku tertawa terpingkal. Andai jaman itu sudah ada galon air mineral, mungkin galon itu sebagai dot ku.

Terima kasih mak.

buntungsuwung

Rokok

orang bodoh ngrokok, orang pintar minum jamu

“Istirahat ditempattttt … grakkkkkk!!!”, komando sang pemimpin upacara.

Pidato upacara itu sedikit mencuri perhatianku tatkala pembina menasehati ratusan siswanya. Terdengar dengan jelas karena corong toa persis mengarah menggetarkan membran telingaku.

Begini pesan itu : “anak yang merokok biasanya tingkat pendidikannya rendah, dan orang tuanya pun di rumah pendidikannya rendah pula” katanya menggebu sambil menegaskan bahwa itu data survey. 🤮

Barangkali ada yang memberi kode, mengingatkan, sehingga pidato tiba2 selesai dan kembali pasukan disiapkan : “ciapppp … grakkkk …”. Mungkin mic jatuh “glodak …” kabur kanginan. Dan disahut mc acara selanjutnya.

Mendengar pidato itu kok ‘agak fals’. Terlalu memaksakan gagasan dengan opini rokok dengan tingkat pendidikan. Tapi rapopo, aku rapaham. 😇

Walaupun anak saya perokok, cocok dengan pendidikan saya yang sangat rendah, tapi saya bukan perokok lho gaes. 😷

Jika sudah harga mati mencekoki masyarakat ‘merokok dapat membunuhmu’, tutup saja semua peredaran rokok di tanah air dengan segala perdebatannya.

Atau di undangkan dalam RUU KUHP mumpung masih kejar tayang. Merokok didenda 1 juta sama dengan menggelandang pun 1 juta 🤪. Jadi yang tak sekolah ngrokok dan menggelandang kena 2 juta.

Yang pintar minum jamu tolak apa itu, yang bodoh ngrokok saja.

Ahhh, … ternyata kodratku di kasta berpendidikan rendah, merokok saja ah. 🤠

buntungsuwung

TRAGEDI TOILET (part-12) berolah seni

Toilet 12 : berolah ‘seni’
=================

Pagi setelah bangun tidur dan saat perut masih kosong kuminum air putih sebanyak mungkin, bisa jadi hingga 4 sd 5 gelas besar. Kulakukan sebagai upaya agar raga ini bisa bertahan bakoh di usia.

Efeknya setelah minum, sejam kumondar-mandirkan batangan vital ini ke toilet untuk kencing terus menerus.

Minum baru kuhentikan setelah kupastikan air seni benar-benar tidak #berasa dan tidak #berwarna.

Saat kusharingkan rutinitas itu, seorang teman berseloroh kepadaku: “Bagaimana cara untuk mengetahui air itu tidak berasa? Apakah …. “

Kusahut cepat : “Iya, … benar apa yang kau bayangkan, pastinya kujilat. Demikian halnya kita saat mencicipi masakan. Dulu disaat awal aku mencicipinya berkali-kali, namun setelah berpengalaman kini tidak lagi. Sekarang cukup sekali yaitu saat sudah bener2 jernih tidak bau, dan tidak #berwarna”
Saat air sudah tidak berwarna, biasanya rasanya pun tawar tak ada manis asinnnya sama sekali. Pun juga tak pesing. Sama persis air putih. Yakin… aku berani bertaruh.

Kujelaskan malah kian bingung dan spaneng hingga berucap demikian : “sik … sik to, … aku rada bingung. Bagaimana panjenengan meyakinkan kejernihan air ‘seni’ hingga tidak berwarna itu kangmas?”

Sepertinya orang ini kritis dan logis dan kujawab saja apa adanya : “simpel, …ambil gelas kaca dan tuangkan air senimu disitu, masih gak paham ya kebangetan”.

Keingintahuanya semakin menjadi disaat moodku mulai sirna dan ia pun bertanya lagi : “Apakah kangmas pakai gelas khusus ataukah tidak”

“Iya aku pakai gelas khusus, selalu kusendirikan takkan kusandingkan dengan gelas yg lainya kemudian kucuci sehabis kutuang air seni itu” dia tambah panik dan melotot.

“Yahhh …. namanya manusia ….. kadang lupa dan gelas yg kupakai berbaur dengan gelas-gelas lain. Tapi itu kuyakinkan hanya sesekali. Sebab kebetulan aku punya beberapa gelas yang sama.” Kulanjutkan penjelasanku dan berharap menghentikan obroloan ini.

Mukanya memerah bermuram durja dan berdiri tegab : “Kemaren saat kangmas merayakan ulang tahun, saya ambil gelas bening dirak depan kamar mandi, sepertinya gelas itu sendiri, dan aku ingat sekali tidak bersanding dengan gelas2 lain. Kemudian kutuang air putih dan meminumnya. Apakah itu berarti … !!!!!”

“Iya, itu gelasnya. Tapi sudah … sudah lah …. nggak bakalan mati nggak sah dipikirkan. Banyakin saja minum air putihnya setiap pagi. Kudoakan sampeyan sehat terus. Amin.” Ucapku melerai ketegangan.

Bagi handai taulan yang ingin bertandang ke hunianku, sebaiknya anda bertanya dulu ttg gelas itu jika disedu teh ataupun kopi memakai gelas seperti itu. Atau tak usah meminumnya nggak apa. Kupaham …

Bagi yang sudah terlanjur atupun bahkan lebih dari sekali, silakan boleh marah cukup di dinding ini saja.

Jangan lupa perbanyak minum air putih.

TRAGEDI TOILET (part-10) ulah si bungsu

Senja di poliklinik pada sebuah ruang tunggu umum berapa tahun yll, bau mengambar2 dan kusangat mengenalinya, iya betul aku tahu itu … Kepada si bungsu kupesankan :
+ nak, jangan duduk disitu, kesini saja bau lho.
– ya
+ kok masih bau ya, duduk diluar saja yuk.
– ya. Namanya saja rumah sakit, pasti banyak yg sakit.
+ rupanya harus lebih menjauh nak, ayok langsung apotik saja.
– ya. Sabar jangan marah.

Kami pergi 50 meter menjauh menuju apotik dan kududuk di ruang tunggu juga.
+ kok masih bau ya, jangan2 kamu yang cepirit.
– gak, senengnya nuduh sembarangan, aku mesthi ngomong to. Paling orang itu lho, yang tadi ngantri juga di poliklinik.
+ oh … oke. Sorry.

Bau semakin menusuk padahal sudah tidak ada satu orangpun disekelilingku kecuali si bungsu. Langsung kupaksa dengan sedikit membentak :
+ berdiri dan ayo ke toilet sama pa2!!
– ya.
Sesampai di wc aku buka dan Astaqirullah sudah lengket semua. Tetep masih ngeyel :
– lha nggak terasa. Biasanya bunyi lha ini nggak. Begitulah ngeyelnya si bungsu

TRAGEDI TOILET (part-1) sikat gigi

Tentang sikat gigi, ceritaku …

Aku pikir bukan hal yg lucu sih, tapi tadi spontan aku kisahkan kepada anak2 kok mereka terpingkal2 sekali. Tertarik aku untuk menstatuskan kpd panjenengan semua. Ceritanya begini :

Sore itu sekitar 5 hari yll aku sendirian di rumah ngurus anak2. Isteri ke kalimantan sedangkan mitra kerja ijin tidak masuk. Jadi lumayan repot dan bawaanya terburu2 terus.

Kejadianya saat aku sedang -bab- di closet duduk. Tiba2 tanpa sengaja aku menjatuhkan sikat gigi dan “terjerembab” mblusuk ke dalam. Spontan aku ambil dan aku buang begitu cepat ke bawah closet tersebut.

Habis itu aku pergi karena banyak acara. Acara 17 an, acara ke jakarta dan ke jogjakarta. Pokoknya nggak kepikiran deh itu tentang sikat gigi.

Kemaren sore, saat gue mandi gue lihat sosok sikat gigi tsb mencorong ke mata gue dalam keadaan bulu sikat putih tanpa noda tanpa cela dan tangkai kuning bersih. Iya, aku hafal banget itu sepertinya yg jatuh kemaren.

Akhirnya baru tadi pagi iseng aja mumpung ingat dan nanya isteriku : “mah, itu kok ada sikat gigi kuning punya siapa?”

Jawabnya : “ya punyaku lah, emang kenapa?”

“Nggak papa, cuman tanya aja. Kapan terakhir kali pake? ” sahutku

Jawabnya lagi : “ya tiap hari, sampe pagi tadi pun aku pake. Pasti ada yg tidak beres”!!! ….

….. bla bla bla …. akhirnya aku ceritakan kejadianya. …..

Pertanyaanya Siapa yang ngembalikan sikat gigi tersebut ke tempat semula? Sehingga dengan enjoy nya isteriku memakainya setiap hari.
Kotoran tersebut dibersihkan oleh orang yang mengembalikan atau bersih “secara fisika” oleh gesekan kinetis antara bulu dan gigi Lucy Arry?

Piss mah ….