Sarden ayahku

Pagi pagi, pada sebuah group wa family, disini kami bermanja2an saling merebut perhatian ibuk. Cerita masa lalu dari kakak hingga adik tentang kebandelanya masing2.

Diawali cerita kakak sulung yang mengisak tangis setelah mimpi berkelahi dg werkudara adiknya.

Disahut adikku yang dulu sering main ejek2kan dengan si ragil sadewa dan berbuah tangis.

Gayung pun bersambut ibu ngendiko : “aku mau ke ambarawa naik angkot colt isuzu, ngobraske baju di enggal jaya. Tumbaske opo nang?”

Spontan kami semua nyelethuk :

“Aku Lopis kapur”

“Es Seroja”

“Buku tulis metro”

“Bapak pesenke tembakau di toko Coe”

Menambah suasana haru th 1980an terasa bangkit kembali di group tsb hingga menyebabkan rindu kpd almarhum ayah. —— Suasana semakin sakral. Sempat 10 menit hening. —— (kuyakin mereka semua tertunduk dlm kesedihan)

Alm bapak yang selalu membuah tangan sarden.

Cukup 1 kaleng sarden dicampur santan 1 panci untuk kami pendawa lima. Ditambah hidangan 1 butir telur dikopyok tepung seperempat kg plus racikan kol.

Digoreng sampai melengkung dan dgigit mental kaya karet.

Sungguh indah tak terkira.

buntungsuwung ungaran solo di innova rentalan.

Gosip Kue Pasung

kue_apem_dan_pasung

Lama tak bisa sowan emak. Beberapa janji ketemu terlewatkan, bahkan sengaja kugadaikan dulu. Hingga kulunaskan di hari kartini ini kutebus dengan segala riba2nya.

Tanpa permisi langsung kucari jalan tikus utk menghampirinya. Begitu kupanggil : “emak ….!!!” Langsung ibu berteriak dan kaget : “Eeee … didehhhh (panggilanku) …”
Ibu memeluk erat menciumiku hingga kue apem pun gosong. Seperti di video ini kegiatan emakku. Nggak pernah berhenti beraktivitas. Kali ini bikin kue apem, ketan tholo dan kue pasung.

Kemudian ibu gugup saking girangnya. Ambil rica enthog yang sudah 3 hari dalam kulkas, opor ayam kampung yg 2 hari di freeze, dan pepes daun singkong kemaren yang katanya sengaja utk aku. Semua disajikan dan pisang susu kegemaranku pun ada.

Dari semua itu aku pilih makan kue apem, pasung dan ketan tholo. Berapa tahun aku tak menyantapnya dan kue ini menjadi kegemaran kami ber lima saudara. Apapun selera makanan kami, tetep apem dan pasung idola kami.

Kemudian aku tiduran sejenak dan emak pun mennghampiri sambil memijiti kakiku. Cerita panjang lebar, gosip murah, gosip mahal, fitnah kecil fitnah besar, semua keluar dalam candaan dan tawa.

Kuakhiri pamit sebelum cerita itu memasungku dari fitnah apem.

The Hunger Games

#Roadtokoeswomuseum
===============

Dapat kiriman video dari emak (baju pink orange) sedang main bonang. Bangga sebangga2nya pikiran be north be south (ngalor ngidul) ingin menstatuskan utk anda.

Keteladanan beliau bener2 menginspirasiku, aktif di berbagai kegiatan pelayanan gereja dan masyarakat. Pun aktif nyumbang wong mantu dan cari duit sendiri. (Bukan pensiunan) He he …

Konon sepeninggal ayahku, emak diwarisi 5 putera pendhawa.
Layaknya film “the Hunger Games”, saat itu kami harus berjuang utk bertahan hidup dalam sebuah capitol dan emak sebagai katnis everdyne (pejuang wanita). Target kami adalah (minimal) pendidikan sarjana. Sulit bagi kami dari distrik 12 (kasta buruh) yg hanya bermodal semangat kerja keras.

Bangun pagi ke sekolah bawa termos es utk dititipkan warung, sedangkan emak menjajakan bensin eceran dan dagangan gorengan sambil menerima jasa jahit.
Pulang sekolah kami istirahat se bentar setelah itu kelontong tutup dan mulai aktivitas bungkusin es bareng kakak adik utk kami setor2kan keesokan paginya lagi. Semntara emak yg bikin adonan. Kira2 15 baskom lebih perhari kami kerjakan utk jadi ikatan es lilin kecil. Seakan emak gak tega melihat kami, kulihat dari caranya menoleh sembari menahan linangan air mata. Demikian pula kami, tak tega lihat tangan emak menahan bekunya es.

Itulah rutinitas yang musti tergenabi saben harinya hingga kami berlima tuntas kuliah. Kecuali aku yg mogol gak tuntas.

Hidup ini keras, berkaryalah.

Edmund

Idolaku, Romo Karl Edmund Prier piawai not balok yang kena bacok
————————————————————————————-

Tak ada pilihan kala itu, saat aku masih duduk di bangku kelas 5/6 SD, yang harus menggantikan tugas rutin kakakku sebagai organis di kapel. Kakakku melanjutkan studi ke kota sunda kelapa hingga kini menetap disana dan masih aktif di blantika musik.

Senja sekitar 30 tahun yang lalu pada sebuah ruangan 3×4 meter berdinding kayu jati, dengan plafon anyaman bambu (gedeg) dan beralaskan mosaik alami tanah, aku ditempa secara instan oleh kakak dan ayahku (alm) untuk mengiringi lagu. Kakak mengajari teknis bermain secara cepat dan benar, sedangkan ayah lebih ke feeling dan improvisasi bermusik. Mereka semua beruntun memotivasiku kilat. Yamaha Portasound pss 260 menjadi saksi bisu.

Berawal dari situlah aku mulai mengagumi Romo Karl Edmund Prier lewat karya, gubahan maupun aransemen yang namanya selalu tercetak di sudut kanan atas teks. Seperti apa sosoknya? (asaku hendak menemuinya)

Aku tak kenal not balok. Aku hafalkan notasi kemudian aransmen not angkanya secara berulang-ulang baru aku mainkan lewat tuts mungil elektrik itu. Tak ada yang membimbingku, google dan youtub pun belum ada. Semakin banyak karya yang kuhafal semakin pula kumengidolakan beliau, hingga kuberanikan diri untuk berkirim surat dengan alamat yang tertera pada buku madah bhakti panduan pujian kami, yang kuingat jalan itu Ahmad jazuli …

Beranjak dewasa aku mengikuti kursus musik jarak jauhnya (KOGJJ) walau tak tuntas terkendala komunikasi. Kami saling berkirim pita kaset. Buku Ilmu Harmoni warna ungu karya beliau cukup menginspirasi sehingga tidak membuat sumbang iringanku, buku ilmu melodinya (dieter mack) bisa meliukkan jemariku untuk berimprovisasi.

Baru sekali aku melihatnya dan berhadapan secara langsung. Itu pun sedikit kusengajakan memaksa rasa malu saat aku melaksanakan praktik kerja pada SAV Puskat.

Saking ngefansnya kuberi nama anak sulungku “Edmund”.

Kemaren beliau (romo Prier) menjadi korban penyerangan dan pembacokan oleh seorang pria di Gereja Katolik St. Lidwina saat misa pagi, semoga segera sembuh dan pulih kembali agar bisa berkarya di musik liturgi.

Hari Ibu : Ziarahi!

Selamat hari ibu
=============

Sayup terdengar ceramah habib yang bukan asing di telingaku. Ya, beliau Habib Luthfi bin Yahya berpesan demikian: “Jenengan karo ziarah mikirke jasane wong tuwo bayangake, … insya allah jenengan dadi wong ora mbeling mengkene”. Dan selanjutnya, ” … yang pertama harus diingat adalah, jerih payah mencarikan uang mencarikan makan ke kita …”

“Jangan lupakan orang tuamu, senangkanlah hatinya, ziarahi makamnya jika sudah meninggal” nasehat beliau Habib Luthfi bin Yahya

Seketika kuterbangun dari alas karpet ini dan merenung dalam mata hayub2en ini. Mawas diri, teringat ini tanggal 22 Desember adalah peringatan hari ibu.

Kuraih telepon rumah (bukan hp) dan kusambungkan dengan rumah ibuku. Berapa tahun aku nggak menyentuh perangkat yang mulai berdebu ini? Ku tekan kode area 0298 untuk selanjutnya 521***.

“Halo, ya halo, … halo ….” ucap ibuku.

“Ya mak, lagi opo …” sambil aku tak bisa menahan batuk

“Ealah, didiehhh, … dengaren esuk2 gasik, …” bla … bla …bla… yang jelas ibukku riang gembira bahagia banget.

tanpa ditanya langsung cerita,
” Sesuk tanggal 27 januari aku ziarah karo ibu2 janda, nyarter mobile Samijo, mergo kurang tambah mobile Eko sekuro. Aku dadi panitiane ngurusi wong akeh, dadi aku sing repot. Mak ndun, mak jinem, Giyem, Tum, lsp podo melu. Yen iso nyilih Hiace mu sisan yo” ….

“Insyaallah mak” jawabku. “Begini mak, … “

Langsung diterkam lagi,
“lha tanggal 31 Desember ki acarane bareng2. Ono kendurian natal nek gone mbah carik wetan omah kuwi. Padahal mburi omah persis ono acara 100 hari mbah jarno. Nggone dewe kanggonan acara ulang tahun lingkungan santo mikael (lupa). Sakjane aku yo duwe gawe 40 harine mbakyumu. Sedulur2 jakarta podho teko kabeh. Tapi akhire aku ngalah wae tanggal 2 Januari, geser sithik rapopo yo. Dino kuwi pamongan thok wae. Mudheng ora tak jak omong? Kok meneng wae.”

“Nggih mak, mudeng” sahutku “halo mak, tak omong …”

Langsung terkam lagi,
“Iyo, omongo. Syukur yen mudeng. Pinter. Lha iki tanganku ki gawe ngangkat telepon iseh angel. Wes tak gowo neng RS Ken saras bola bali nganti jeleh. Nganti aku ngapusi dokter kalo sudah sembuh tapi rapercoyo. Malah aku diseneni, suk tanggal 6 januari arep disuntik tangani tapi aku wegah. Jane yo rapopo wong yo ora mbayar mergo BPJS. Yen menurutkowe piye?”

“nggih mak, tapi aku sing telepon tak omong sedhelo wae. SELAMAT HARI IBU MAK” aku menyela.

Jawab ibuku lagi :
“Owalah, … terima kasih. Terima kasih. Kok nggak bilang dari tadi. Biasane kok wa (whatsapp). Iki nok group kok rung ono sing ngucapke, lagi kowe. Maturnuwun aku seneng mbok telepon ngene. Podho sehat kabeh yo, salam nggo anak bojo. Piye kabare apik2 kabeh yo. Mugo pinaringan berkah sak kabehe, lancar rejekine, sehat bagas waras.”

“Amin mak, Suwun. Sek yo mak wetengku mules tak nong WC” kalao hp bisa sambil dibawa kemana2. Ini pake
saluran kabel jadi nggak bisa.

Sahut ibuku:
“Iyo wetengku wingi yo suloyo nganti bobotku mudhun 7 kg. Iki aku wes sehat, puji tuhan beratku mundhak 5 kg maneh. …”

Kupenggal : “bentar mak, nanti dilanjutin, maaf” … tut … tut … tut ….

Setelah keasikan pegang gadget, kita sering abaikan hal kecil ini. Whatsappan terus bahkan tidak bersapa sama sekali.
Lupakan pesan via whatsapp sejenak, teleponlah ibukmu, atau jika ada waktu sowan dan peluk sebentar untuk ibu.

Asik tenan ibukku.

Natal

Tak terdengar lagi lagu itu
=====================

Yang kualami sejak kecil, natal adalah suka cita yang tak tertandingi. (Maaf jk salah). Gegap gempita musik, gemerlap warna warni lampu, baju baru, libur panjang, makanan mewah, banyak teman melek sampe pagi, tukar kado, banyak panggung hiburan, dpt uang saku banyak dll yg tak seperti malam biasanya.

Penantian dan kerinduan setahun terbayar di malam itu. Dengan memegahkan ordinarium khas natal, pustardos. Setelah itu pergi ke entah kemana pake baju/sarung baru bersama teman mencari penghangat tubuh, tape ketan, rica2, bir kadar 0.5% ataupun bakar2an sampah utk melawan hawa dingin didesaku.

Semua jadi raja semua jadi ratu semalam bak tak ada tandingan. Dengan gaya dan suasana khas kampungku. Hampir semua pintu rumah terbuka hingga jelang pagi. Mereka menjaring sebanyak2nya tamu berkunjung dengan menggelar makanan toples diatas meja. Wujud sedekah mereka, tumpi, widaran, opak, mbang goyang, sengkolon, semua disuguhkan. Hanya bermodal uluk salam : “sugeng natal” kami sudah mengakses semua hidangan itu.

Hymne malaikat menggema di mana mana, Gloria in excelsis deo, seolah itu mjd bahasa kami krn mendarah daging yang ku tak tahu artinya, yang penting bersukacita. Dan ternyata seantero jagad juga merayakannya.

Tapi kini tak terdengar lagi lagu2 itu #pada_diriku. Kutahu diri harus selalu pergi sebelum hari itu tiba. Walau sejatinya setiap tahun masih selalu kurindukan moment yang sejak kecil terpatri itu.

Tetap bersyukur selow, kumasih bisa berkarya, setiap sebelum kuberkelana ‘nggemblung’. Kerinduan natal yang kunyatakan dalam karya, tak sekedar kata2 dan berdiam diri.

Tahun ini kuberkarya atas antah berantah sampah yang tak terpakai.
• Bekas barang elektronik yang kami jadikan pohon natal.
• Botol minuman warna warni yang juga sbg pohon natal.
• Bekas palet untuk panggung natalan.

Pernah setahun yang lalu pohon natal raksasa terbuat dari kain bekas.

Sekarang hanya sayup terdengar : “… santi ratri … ndalu adi …” merongrong kalbu yang terdalam tak pernah bisa terucap. Suara gak jelas, gambar pun kabur lagi.
https://youtu.be/bbgfRPQY45w

Selamat natal sauda2raku semua.

Untuk para korban gempa banten lampung, semoga segera diusaikan cobaan ini dan lekas beraktifitas kembali.
#buntungsuwung

#lereng_gunung_agung

Anakku Harapanku

#Anakku

Sehari bersama mereka. Yang sudah tidak lagi corat coret dinding. Yang sudah tidak lagi ngompol. Yang sudah tidak lagi klayu nangis ditinggal pergi. Ternyata hanya soal waktu menunggu berlalu. Kuterbayang masa2 itu hadir lagi.

Adalah minggu 29 okt 2017, selepas dari gereja langsung cari makanan favorit kesukaan kami ber5. Yaitu lapo di semarang yang dah lama hampir terlupakan. Demikian beringasnya nafsu kami, tanpa sedikitpun makanan tersisa.

Kami lanjutkan petualangan menuju Gramedia buku. Sialan, berkat bujukan pamflet baliho kami urungkan niat itu dan sepakat pilih nonton bioskop thor atau apalah itu judulnya.
Lumayan walau harus antri, kami masih bisa berkesempatan nonton putaran yang pertama yaitu jam 13.00.

Waktu beringsut senja, kami belanja sayur dan masak bareng di rumah. Tak lupa aku beli seledri 3 unting. Aku rebus dan minum untuk mencuci ginjal salah satu harta penting kita.


Kusarankan anak2ku meminumnya.

Anakku, Jika sudah terputus amalku,

Kaulah harapanku

Sehat terus nak.

Didi Prasetya (Kempot) vs Didi Prasetya (Buntung)

Mumpung masih hangat2nya publik menggandrungi maestro Didi Kempot, kuingin mengulas kisah itu. Sedih, lucu, gembira pun malu, semua jadi satu. Aku bukan siapa2 dan sekalipun belum pernah bersua. Tapi karya2 beliau setiap hari ku mendendangkanya untuk cari rejeki. (waktu itu).

***

Kala itu, tiba-tiba serangan akut datang, seolah badan ini ditusuk, perut mules tak kunjung membaik. Singkat cerita kudibawa ambulance dan akhirnya opnam di rse semarang, nama ruang yoseph terpampang di atas pintu. Hp mungil warna biru di almari nakas sebelahku berdering bertanda khas ringtone nokia. (ingat kan). Dari nomor yang tak kukenal berkode area 022.

Kusahut dan sambil menahan sakit karena cencangan selang infus, kujawab telpon itu : “halo … halo …”

Jawabnya : “iya halo selamat sore. Ini benar mas didi campursari? … halo … halo …”

Kumatikan dan kuletakkan sementara rasa sakit masih terus menggilasku. Kembali berdering dan selanjutnya kujelaskan dgn nada lirih : “maaf mas saya lagi sakit, besok saya hubungi saja” lavalku semakin berat dan kuterlelap.

Bangun tidur, komunikasi kami lanjutkan via pesan sms. Itu pun sesenggangku tergantung kondisiku. Kulirik ada pesan yang sungguh menarik dari nomor yang berbeda: “kami ingin mengadakan gathering di hotel melia purosani jogja, apakah campursari mas didi bisa tampil?” masih kudiamkan.

“Anggaran berapa dibutuhkan?” . (pre memori)
“Kalau bisa langsung saya DP” .(pre memori)
“Kami ada 14 juta cukup nggak” . (nah ini )

Kaget dan kumulai tergiur, benar nggak ini, semakin penasaran mengingat jasa kami satu group hanya 2.5 juta saat itu. Proses berlangsung, segera ku iyakan, menentukan hari dan konsep yang diinginkan, termasuk meminta nomor rekening. 

Untuk selanjutnya aku didorong menuju bangsal dibius untuk menjalani operasi batu ginjal. Perawat bilang : “mas, hp dompet dan barang berharga ditaruh sini saja ya”. Dokter anastesi ngajak bicara ngalor ngidul dan akhirnya aku pun lunglai tak berdaya.

Usai operasi, Ibu membangunkanku sambil bertanya, : “tadi kamu setelah operasi nyanyi2 terus sambil menggerak2kan tanganmu naik turun. Ada apa?” sambil kulihat selang sudah menjalar ke kemaluanku.

“Nyanyi apa to mak” tanyaku

“Monggo … monggo … mas … sami ndherek Gusti” ibu menyanyi sambil menirukan gayaku dengan bungah. Seisi ruang tertawa tapi ku masih sulit untuk tertawa. Kepala masih berat dan ngantuk. 

Aku terbangun lagi mendengar notifikasi sms dan kubuka. Alhamdulilah puji Tuhan ada pesan : “dp 6 juta sudah saya transfer baru saja”. PertolonganNYA tepat disaat aku sangat membutuhkan.

Kubangun dan merencanakan sebuah karya untuk itu. Bingung dan terbebani dengan uang sejumlah itu. Harus bikin karya yang baik. Akhirnya kubuat konsep fragmen melibatkan team2 profesional. Ada wawin lawra, dagelan mas nugroho, sugeng basuki, beberapa personel ketoprak ngampung, mbak indah dan group campursariku.

Tiba saatnya kami pun pentas dan saat memberikan pelunasan mereka tanya begini : “Bagus banget penampilanya, oiya itu kami belikan oleh2 untuk team silakan dibagi. Kami boleh foto bareng mas didi?”

“Boleh, silakan” balasku

Saat foto salah satu dari mereka tanya “mas didi kok nggak nyanyi lagu-lagunya itu sih?” 

Temannya pun jawab : “mas didi lagi sakit, baru saja opnam”

Kubengong termenung dan kujawab : “hahh … lagu apa …” #ambyar ku saat itu. 

Baru kusadar, mungkin dikira saya ini Didi Kempot? Sudahlah, akhirnya kubagikan uang itu kepada team. “Maaf, ini dibagi rata ya lur, karena DP nya sudah kupakai untuk biaya rumah sakit kemaren. Maaf … maaf … maaf … Dipotong biaya makan, soundsystem dan transportasi juga” jelasku yang mulai kehilangan mood.

***
Pertolongan Tuhan indah pada waktunya. Namun bagaimana hasil foto itu? Apakah mereka memajangnya?

Terima kasih pakdhe didi kempot, barangkali baca status ini. Nama lengkapku Didi Prasetya nama lengkap didi Kempot juga Didi Prasetya

21 tahun, rindu menggenggam

21 tahun, rindu menggenggam

Lumayan penat dengan kerjaan, akhirnya kusandarkan sejenak utk membagikan lintasan anganku.

Hari ini tepat 21 tahun aku kehilangan 3 jari indah. Ya, … 5 April 1997 itu masih sangat kental ingatanku saat ku berdiri menjerit. Semakin kuingat semakin jelas dan nafsu membirahi melupakan hari esok.

Terekam jelas, mesin berputar menggilas jemariku. Hampir satu jam kuberdiri, sebelum akhirnya berhasil terlepas dari moster itu.

Bolehkah ku beritakan kepada si Roy Kiyoshi, karma apa yang menimpa diriku? Mengingat secara kebetulan pagi itu aku meminta nenek untuk memotong 3 ayam kampung.

21 tahun rinduku menggenggam …

Kutahu harus bersyukur atas segala yg Tuhan beri.
Jelas dan sangat2 bersyukur.

Namun kalo boleh jujur, aku nggak mau dengan kondisi seperti ini. Kadang minder dan nggak luwes bergaul nggak sebebas mereka. Beberapa aktivitas pun terbatasi.
Ujung tangan rasanya berat, kram, perih, kaku dan pegal nggak tahu kapan berakhirnya.

Kadang pun ku tak sadar kalau jariku buntung. Sepertinnya ku biasa2 saja. Disini kesombongan mulai merangkak naik. Biarkan pasti turun dengan sendirinya.

Hidup adalah perjalanan misteri, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok.

Nikmati perjalanan ini.
Sekedar nulis.

buntungsuwung

Keroncong ayah vs campursariku (3)

roadtokoeswomuseum

Keroncong ayah vs campursariku (3)

Vandel logo keroncong ini pun masih ada. Namanya ok. Irama Bhakti yang terbentuk sebelum aku lahir. Ayahkulah penggagasnya. Beliau menguasai semua alat musik ini, gitar, ukuleke, cello, bass dan biola.

Sebelum ayah wafat, sempat kupaksakan untuk mengajariku alur melodi gitar keroncong. Kuserahkan gitar ke pangkuannya, dan sungguh2 terpaksa dgn tak berdaya. Walau tak berbunyi nyaring karena tak kuasa menekan fret2 senar, aku sungguh terpana. Indahnya melodi bisa kurasakan. Dari mana beliau belajar? Batinku.

Ayah menatapku dg senyum gembira walau sejatinya menahan sakit, aku menatapnya pula, namun iba.

“Lekas sembuh ayah”, pintaku yang akhirnya tak terkabulkan.

Kupelajari sendiri serta kuolah. Kukembangkan sesuai jaman dan selera pasar. Ku inovasi sebagai tambahan hobi.

Dan jadilah group musik dengan irama baru ‘campursari irama manunggal’.

Jika keroncong adalah ukuleke sebagai penjaga irama, kini campursari adalah kendang sebagai penjaga ritmisnya. Campursari lebih sonor karena adanya saron n demung gamelan.

buntungsuwung