Misa Ekaristi Virtualku

“… siapkan kuota yang cukup dan ketersediaan jaringan internet …”.

Demikian kudengar melalui youtube yang selalu kumode ‘on’ kan hingga mengusik sanubari untuk melanjutkannya. Kulihat imam berjubah putih dengan stola berwarna ungu membacakan aturan mengikuti misa online. Kuikuti dengan serius dari studio musik tempat bercengkaramaku 24 jam. Kutanggalkan sejenak aktifitasku dan sedikitpun aku tanpa nyambi kegiatan apapun selain hanya memandangi tabernakel di belakang altar itu. Ini seperti meja hijau penghakimanku, pikirku.

Ku maksimalkan layar LED 4 kotak menjadi screen persis didepanku dengan audio surround seolah benar-benar aku berada di depan altar. Benar-benar kumencoba masuk mengikuti prosesinya. Napas tersengal melihat apa itu? Pernah mengenalinya, dan seakan misteri menjadi tak ingin ku sedikitpun melewatkannya. Rasa penasaranku berkecamuk dan kupadamkan lampu agar lebih cinematik. Ohh … , lebih hikmat, khusuk dan sepertinya ada algojo mengawasiku dari belakang sana siap dengan cambuk dan pedangnya.

Sepertinya sulit merasuk kedalam batin ini, mengingat kegersangan jiwa yang sedikitpun tak pernah kupupuk. Logika selalu mendahului hatiku bahkan ingin menguasai sepenuhnya. Untung niat ini lebih kuat, sehingga mampu meredam daya nalar itu. Karena jiwaku haus , kering dahaga, laksana rusa mendamba seteguk air. Air yang kini habis untuk cuci tangan. Semua manusia beramai-ramai cuci tangan karena takut ajal.

Lantunan nada indah yang sudah pernah melekat itu mengggugah birahiku untuk semakin menyimak. Bersahutan antara pastur denganku, walau kadang kumelodikan dalam batin. Menjadi satu dan lentur, pori-pori jiwa mulai terbuka menerima urapan sabda. Bagai air segar menumbuhkan humus yang telah lama lapuk tertimbun kerasnya kepala. Semakin dalam dan tak sadar aku dimana sejatinya tubuh ini. Yah, ternyata aku bersamaNya. Aku tahu setelah sadar pipiku basah karena tetesan air mata. Air mata yang sekian tahun membeku. Mengapa mencair dengan sendirinya. Terpaksa karena ternyata akupun takut ajal menjemputku.

Ahhh … Kulihat ternyata mereka bukan algojo, bukankah mereka malaikat Tuhan yang sangat ramah murah senyum? Oh damainya hati ini. Aku merasa ada urapan yang entah bagaimana rasa ini pernah ada. Tolong jangan segera sirna kesempatan ini. Aku sendiri, bersama malam penuh bintang kulihat diluar sana. Kutengok dari jendela seperti kota mati tak ada pergerakan, kecuali di layarku. Aku benar sendiri dan hanya bersamaNya.

Aku kini tak malu karena aku disini sendiri, lepas dari cibiran mereka yang sekian lama terus menghantuiku. Kecamuk memprovokasiku untuk mendendam.

Komuni Batin

Saat komuni batin, kusenandungkan lagu ini yang sudah lama kuidamkan “kulo adreng, badhe nampi, Saliro Tuwin Rah Dalem, manah ngantu-antu Gusti, kang paring kabegjan jati, Enggal Rawuho Gusti” yang sangat kuhafal diluar kepala.

“Tuhan datanglah secara rohani ke dalam hatiku” bisikku membayangkan sakramen itu.

Yah, aku mulai memanjatkan terus, puji dan syukur, tentang semua dan semua yang lama kupendam. Panjang dan lama sekali hingga setengah tidurku melayang hampir gelimpang. Semoga Tuhan menerima doaku, mengingat aku masih tak yakin dengan tanda salib yang aku buat tadi. Sepertinya salah dan terbalik, tak ada yang melihat dan menegurku karena kusendiri. Berapa tahun tanda itu tak kujejakkan. Ah entahlah yang terpenting rinduku terobati dan doa kumadahkan.

Aku tahu misa streaming ini tak bisa menggantikan sakramen ekaristi. Tapi akankah berlanjut ‘komuni batin’ ini? Dunia memang misteri. Kali ini aku mengambil kesempatan menghadirkan tubuh Tuhan dalam batinku.

Kali ini aku mengambil kesempatan menghadirkan tubuh Tuhan dalam batinku.

Sandal Jepit Sangklir

Tak seperti bisasanya, aku benci komuni yang dulu itu. Karena yang terjadi adalah saya hanya duduk menyesali diri saat mereka komuni. Aku hanya sandal jepit, itupun sangklir lusuh dan pernah bedat (putus). Tak layak ditempatkan didepan, cukup ditaruh dibelakang, walau sejatinya selalu dipakai.

Aku hanya sandal jepit, itupun sangklir lusuh dan pernah bedat (putus).

Kala itu, tiba penerimaan sakramen, aku terpaksa duduk berdiam diri mendengar ‘auto pagging” dari orang yang benar-benar suci menggemakan himbauan : “Yang diperkenankan menerima Komuni adalah mereka yang sudah dibaptis atau yang sudah diterima secara resmi di dalamnya, sudah menerima Komuni Pertama, dan tidak mempunyai halangan

Kumenyesali atas dosa besar yang pernah kulakukan dan hanya berdiam diri tanpa beranjak sedikitpun. Kusadar akan sandal jepit sangklir yang kukenakan. Beberapa orang disebelahku sudah mulai bangkit berdiri dan menyapaku, “permisi mas, apa nggak komuni? …” katanya sambil melangkah kesulitan didepanku, gang yang sangat sempit.

Aku hanya menggelengkan kepala. ” …. ” Entah karena keluguan atau kejujuranku. Aku merasa tidak beres dengan diriku. Lebayyy … iya terserah eloe …

Sementara semua berbaris antri maju, hanya kami yang tersisa beberapa gelintir saja. Adalah penghakiman yang kejam, karena mereka semua hanya melirik dan ‘mbatin’, dosa apa yang diperbuat? Mereka tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi, dan aku sangat ingin mengklarifikasi tapi tak kuasa. Maaf, kok tiba-tiba malah teringat lagu ‘Tatu” karya Didi Kempot : “Opo aku salah, yen aku kondho opo anane…”

Kuterima saja, kemudian mereka kembali ketempat duduk dan lagi-lagi ada pertanyaan “permisi mas, apa nggak komuni? …” katanya sambil melangkah yang kedua dan tak perlu kujawab.

Dari kejauhan, kulihat ada ‘begal’ yang pun ikut dalam barisan komuni itu. Mengapa ia sudah boleh menerima? Mungkin sudah ada penebusan dan pengakuan atas dosanya. Atau jangan-jangan ada orang dalam yang berhasil menggeretnya? Ah, biarkan itu urusan mereka. Aku masih bersikukuh dengan kekurangpantasanku.

Misa Online Berlanjutkah?

Semoga misa virtual secara online ini masih berlanjut tak berhenti hingga karena korona menghampiri. Kami adalah sang pendosa, namun berusaha tetep setia. Kami perlu di sapa dan sadar akan keselamatan dunia akherat. Menunggu jawaban sambil membenai sandal jepitku, yang sangklir kucat ulang agar terluhat sama kanan dan kiri. Yang bedat atau putus kusambung lagi menggunkan kawat yang dilelehkan agar seolah utuh.

Walau sakit rasanya jika kupakai, tidak melulu sarana baru untuk hidup baru, biarkan sakit itu merongrong jiwaku. Aku yakin Gusti akan menggandakan anti body yang ada dalam diri hingga sakit itu menjadi tidak terasa karena buah penebusan.

Berkah Dalem.

Sulungku

Sulungku

Instingnya mulai tertata, matang dalam berpikir. Lambat laun bisikan kurang percaya dirinya justru meluluhkan keras kepalaku sejalan dengan pipiku yang kian mengerut. Dahulu, kukira semua nasehatku di spam tapi kini mengumpan kembali mengingatkanku.

Yah, dia yang setia menerimaku dengan segala kekuranganku. Dia yang setia atas perkara kecil hingga besarku.

Aku yang sudah menyayanginya jauh sebelum dia hadir ke dunia. Hingga berangan tentang sejuta asa kehidupannya.

Anakku, kini saatmu, kaulah harapanku. Hidup ini keras, gebug jika perlu.

PILIH MUNDUR ASN DEMI PASSION

https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/178258/pilih-mundur-dari-asn-demi-passion

Berbeda dari kebanyakan orang yang kini berlomba-lomba ingin menjadi aparatur sipil negara, Didiek ‘’Buntung’’ Prasetya yang sudah menjadi ASN, justru mundur dari zona nyaman itu. Dia memilih menggeluti dunia hiburan, bidang yang menjadi passion-nya.

BELASAN tahun sudah Didiek Prasetya menjadi ASN. Sejak 1998, dia menjadi ASN di Bagian Sandi dan Telekomunikasi (Santel) Setda Pemkab Semarang. Meski sudah hidup di zona nyaman, Didiek merasa masih ada yang kurang.

Di sisi lain, Didiek yang dikenal sebagai pemain musik organ andalan itu sangat bergairah saat berbicara tentang bagaimana mengorganisasi sebuah event. Dia menemukan ‘’dunia’’-nya. Dorongan itu yang membuatnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari ASN (tanpa mendapat uang pensiun) pada 2015.

Tertantang ingin menekuni bidang yang menjadi passionnya, yakni dunia entertainment dia pun mendirikan Potensindo Group Event Organizer (EO) dan menjabat sebagai direktur. Kesuksesan pun diraih pria yang akrab disebut Didiek ‘’Buntung’’ itu.

Namun kesuksesan yang diraih itu, tidak datang begitu saja. Kesuksesan itu juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang pengalaman yang diperoleh dari keluarganya. ‘’Yang saya ingat setiap petang para pemuda dan pemudi berdatangan ke rumah ayah saya di Glodokan Bawen. Mereka membentuk grup-grup kecil.

Ada paduan suara, gambus ataupun keroncong. Mereka berlatih di bawah kendali ayah saya. Telinga saya setiap kali disuguhi irama- irama itu,’’ kenang Didiek yang dalam tujuh tahun terakhir sukses meggelar berbagai event besar di sejumlah kota di Indonesia. Saat kelas 5 SD, dia telah dilibatkan sebagai organis gereja (tahun 1986).

Mulai saat itu, musik adalah segalanya yang mengisi ruang waktu Didiek. Setiap minggu, dia harus mengolah tujuh lagu baru untuk pujian. ‘’Saya lulusan STM Pembangunan Semarang (SMK 7), dan pada 1995 sempat kuliah di ISI Yogyakarta Jurusan Musik. Namun tak tamat.

Saya lalu bekerja di perusahaan kertas di Bawen. Pada 5 April 1997, saya kecelakaan kerja hingga merenggut keempat jari tangan kiri saya,’’ kata anak ketiga dari ‘’Pandawa Lima’’ itu. Semula, kecelakaan tersebut membuatnya turun semangat. Namun akhirnya, kejadian itu memotivasinya untuk berkreasi tinggi. Suami Lucia Arry itu pun mendirikan grup-grup musik.

Tampil di TVRI

Kelompok Didiek Musik dan Campursari Irama Manunggal mencapai puncak saat mengisi acara live TVRI Jateng pada 2005-an. Ini membuat namanya lebih melambung. ‘’Setiap hari pasti ada jadwal panggung juga,’’ ingatnya. Waktu terus bergulir. Pada 1998, Didiek mencoba melamar menjadi PNS. Dia pun diterima di Bagian Sandi dan Telekomunikasi Pemkab Semarang. Sebelumnya, Didiek pernah ikut pendidikan Juru Sandi di Jawa Tengah dan berpredikat lulusan terbaik sebagai sandiman.

‘’Ketika saya memutuskan keluar dari PNS pada 2015, keluarga saya tidak ada yang keberatan, dan biasa-biasa saja, karena keluarga memahami dunia saya sejak kecil,’’ tegasnya.

Di sela-sela menjadi pegawai negeri, Didiek masih banyak manggung. Lalu dia mendirikan Potensindo Event Organiser (EO) dengan akta pendirian 2007. Tahun 2012, Potensindo mulai menerima pekerjaan-pekerjaan tingkat nasional, seperti Jambore Penyuluh Kehutanan se-Indonesia di DIY, Soropadan Agro Expo di Temanggung.

Selanjutnya pada 2013 Gelar Seni Budaya Lampung, dan Gelar Seni Pesisir Tuban. Pada 2014 mendapat job Pameran Seni Rupa di Galeri Nasional. Pada 2015 menghelat Apresiasi Film Indonesia (AFI) di Yogyakarta. ‘’Tahun 2016 saya mengerjakan Festival Keraton Nusantara di Pangkalan Bun, Fabriek Fikr di Solo, Bamboo Bienale (Solo), dan LKS SMK Nasional di Malang,’’ ujarnya.

Pada 2017, dia dipercaya menggelar Festival Qasidah tingkat nasional di Padang. Lalu pada 2018, mengerjakan Debat Pilgub Jateng, Borobudur Art Festival, Parade Seni Jawa Tengah, Siberkreasi Netizen Fair, dan Festival Kopi Jawa Timur. Pada 2019, dia pun mendapat pekerjaan menggelar Festival Buah Jateng dan Apel Kebangsaan di Semarang.

‘’Dalam Apel Kebangsaan itu kami mendatangkan 130.000 orang. Mereka mendapat suvenir Merah Putih dan snack. Penonton disuguhi hiburan empat panggung yang tersebar di Simpang Lima dan jalan-jalan sekitarnya. Ada Nella Kharisma, SLANK, Letto, Armada, Virzha, dan lain-lain. ‘’Acara juga dihadiri KH Maimoen Zubair, Habib Luthfi, Gus Muwafiq, dan Gubernur Ganjar Pranowo, serta berbagai tokoh masyarakat.

Berkreasi Tanpa Batas

Didiek mengaku, tak mendapatkan teori khusus atau pendidikan tentang event organizer (EO). Sebab, semua yang dijalani saat ini berbekal pengalaman dan jam terbang yang tinggi. Hingga kini, dia bisa merekrut bahkan mensertifikasi hampir semua karyawan di bidang meeting, incentive, conference, and exhibition (MICE).

Bahkan, Potensindo juga mempunyai workshop khusus untuk produksi material event seluas 1.000 m2. ‘’Ada 20 karyawan Potensindo tersertifikasi MICE,’’ tandasnya. Sebagian karyawannya adalah anggota kelompok musik dan teman-teman di Kampung Glodokan Bawen.

Ruh event, menurut Didiek, ada di sumber daya manusia. Tidak semua orang mau kerja di bidang EO. Butuh tenaga dan pikiran yang ekstra maju untuk menangani suatu event. Karena itu, suatu acara biasa harus menjadi luar biasa tatkala disentuh ide-ide jahil EO,’’ tandas Didiek yang selalu tampil kalem itu.

Menurutnya, EO bertugas membantu klien mengatur acara agar berjalan lancar. Tapi, bagi Potensindo tidak hanya itu. Bagi dia, acara tidak hanya lancar tapi harus luar biasa outputnya. ‘’Apa pun yang terjadi, usahakan tidak akan membuat repot klien, karena kami tak sekadar business partner tapi juga melayani mereka.

Berapa pun minimal anggaran, kami tetap akan berkreasi tanpa batas, karena audiens tidak mau tahu itu,’’ paparnya. Potensindo terbiasa bekerja total dan profesional yang diatur dalam kontrak. Hal yang sering terjadi adalah pekerjaan yang tidak diatur dan tidak ada dalam kontrak tetapi harus dilaksanakan. ëíPadahal kami sudah tak ingin merepotkan klien.

Yang terjadi adalah kadang nombok, tergantung kebaikan hati userdi akhir pembayaran nanti,’’ ungkapnya. Bersama 20-an anggota tim yang berkantor di Ungaran, Didiek terbiasa hidup nomaden ke sana kemari untuk menghelat event di seluruh Indonesia. ‘’Monster apa kami ini, ratusan kali dibuat stres karena event, tapi selalu mencarinya lagi.

Di saat orang lain ingin selalu dalam zona nyaman, kami selalu menantang cari kerumitan baru. Event memang rumit dan kami menyukainya. Ibarat bermain teka teki balok rubik, sudah selesai game akhirnya dengan suatu warna yang indah, kini diputar lagi untuk warna selanjutnya,’’ papar Didiek. Dia selalu menargetkan, setiap event harus dipadati pengunjung.

Tak sukses jika tak membuat lumpuh suatu kota. Beberapa orang bertanya bagaimana mengatur massa sejumlah itu? ‘’Tak rumit karena pengalaman telah menempa kami menyelesaikan hal itu. Untuk hal ini kami bagi menjadi beberapa ring sesuai standar operating procedurekami.’’

Potensindo pun memiliki workshop sendiri khusus untuk pameran. Pihaknya juga ingin tampil unik. Karena itu, barang-barang, seperti partisi gate dan lain-lain diproduksi sendiri dan tidak ada di persewaan lain. Potensindo berkreasi sendiri dengan ide kreatif dan persetujuan klien.

‘’Kami punya lima desainer yang masingmasing mempunyai spesialisasi tersendiri, ada arsitektur, 2D, animasi, layout 3D, dan videografer. Bayangkan jika mereka berlomba2 menumpahkan idealismenya apa yg akan terjadi? Pastinya tim produksi dibuat repot,’’ tegasnya. (Rony Yuwono-41)

Maafkan Ayahmu nak …

(Sebuah lamunan fiksi #buntungsuwung)

Sungguh beratnya menyandang marga keluarga besar yang ‘tanpa cemar’. Setiap waktu hidup dalam aturan ‘jaga nama baik keluarga’. Digembor-gemborkan dan selalu diperbandingkan dengan keluarga lain tanpa menghargai hakekat hidup dan jati diri masing2. Berbuat benar saja belum tentu benar, apalagi salah. Salah dan benar hanya ada di kepala suku. Suatu saat kudengarkan pidato itu :

“Kalian harus jaga nama baik keluarga ini. Sukses seperti para pendahulu keluarga kita. Jangan kau nodai nama besar keluarga ini. Jika tidak sanggup keluar saja dari marga ini”

Hanya nama besar yang diagungkan tapi tak ada upaya pendekatan dan pendampingan. Demikian aku terbawa dalam pengaruh itu. Sehingga aku turunkan kepada anakku. Suatu saat menjelang ujian aku sampaikan kepada anakku thole begini :

“Nilaimu harus bagus agar kelak jadi orang yang berguna, terlebih tidak memalukan orang tua dan jaga nama baik keluarga”

“Nggih pak” jawab anakku. Mulai saat itu dia belajar terus dan sesekali kudampingi saat ku dirumah. Dan kulanjutkan seperti ini :

“Jika nilaimu jelek apalagi tidak naik kelas, tidak usah pulang saja thole”

Pesanku memotivasi. Dan tibalah saatnya penerimaan raport kenaikan kelas. Anakku berkata dengan lirih : “pak, ini undangan pengambilan rapotnya, besok adik nggak ikut, mau bantu-bantu di rumah” katanya. Kuiyakan dan kutanyakan : “nilaimu bagus kan?”

“Emm … iya pak bagus kok” jawabnya.

Kutemui wali kelasnya, karena saya diundang khusus di ruangan guru bersama kepala sekolah. Dikisahkan kenakalannya dan yang membuat kukaget ketika disampaikan bahwa :”maaf, … anak bapak tidak naik kelas”

Seketika langsung lemas badan ini, dan terlalu beban, bagaimana dengan keluarga besarku nanti? Apa yang harus kusampaikan? Pikiran berkecamuk itu terus. Bayang-bayang keluarga besar terus membebaniku. Dan akhirnya saya pun pulang. Kupanggil anakku : “thole?”

“Thole, kemana kau, bapak sudah pulang” teriakku. Kucari dimana-mana tidak ada dan ternyata dia pergi meninggalkan rumah sejak kuberangkat ke sekolahnya. Rupanya dia sudah tahu kalau harus tinggal kelas.

Kucari kerumah saudara nggak ada. Hari terus bertambah sepi dan tak ada tanda tanda tentang keberadaanya. Semakin buntu dan dan kami pun patah semangat. Hingga melunglai tubuh ini. Ibunya bahkan tak kuasa menahan derita ini hingga terpaksa opname di rumah sakit.

Belakangan kuketahui dari seorang sopir bahwa dia menyebrang ke pulau bali jadi kernet truk mengangkut lombok. Dia mau menunjukkan jati dirinya dan kasihan kepadaku harus menanggung beban keluarga. Dia mau hidup mandiri dan akan kembali besuk jika sudah sukses.

Akhirnya kutanyakan kepada komunitasnya dan membenarkan dia. Sulit mencarinya karena masih belum berumur, sehingga tanpa identitas. Hari-hari kuhabiskan di penyeberangan gilimanuk untuk menemuinya. Sementara istriku semakin parah sakitnya.

Tiba-tiba kudapatkan informasi keberadaanya di sebuah kafe di jalan legian bali. Langsung kebergegas kesana. Tak kutemukan dia, mau tanya pun kepada siapa? Degub suara diskotik yang kencang semakin menegangkan. Disana sini kulihat banyak yang sudah sempoyongan. Lampu gemerlap, gadis2 menawarkan pijat, dan keramaian yang tak bersahabat. Kulihat kerumunan mengelilingi sesuatu, ternyata itu anakku. Sudah terlunglai lemah tak berdaya. Langsung kugendong dan ku larikan ke rumah sakit.

“Rumah sakit mana pak” tanya sopir taksi tersebut.

“Terserah, saya nggak tahu harus kemana” jawabku.

“Maafkan thole pak” kata anakku dalam lunglainya.

“Thole pingin hidup sukses pak” lanjutnya.

Kuciumi dalam tangisan yang tak tertahankan. Tak kuasa melihatnya dalam kondisi over dosis. Begitu turun menuju UGD langsung dilakukan penanganan. “Tolong dokter, upayakan maksimal. Dia anak saya” teriakku sambil menangis. Dan akupun disuruh keluar.

“Keluarga thole silakan masuk” kata suster itu.

Akhirnya dokter menyuruhku duduk dan akupun tak mau. “Bagaimana anakku dokter, baik baik kan?” Bentakku. Sambil berkalung stateskop dengan nada lemas, dokter memandangiku. Kulihat sorot matanya aku sudah tahu isi pesan dokter.

“Kami sudah melakukan upaya semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain” kata dokter.

“Tidak, tidak …tidak mungkin … thole … thole … jangan pergi” kataku

Habis sudah perasaanku dan kusangat menyesal atas kata-kata tak pantas kepadanya. Egois sekali aku yang harus memaksakan anak dalam bilah nama besar keluarga. Tak memperhatikan jati dirinya.

Seminggu kemudian baru kukabarkan kepada ibunya. Karena kondisinya yang kritis terus-menerus menanyakan : “thole dimana?”

Bingung menjawabnya dan terpaksa kuharus mengatakannya bahwa thole telah tiada.

Dan menyusullah ibunya menuju alam baka. Habis semua harapanku. Hilang sudah semua orang yang kucintai.

Ternoda sudah dinasti itu

Hati-hati berbicara kepada anak

https://arjunalife.com

#buntungsuwung

‘Pohon Nangka’ mistis yang kini lebat tanpa kusiram

Belakangan ini setiap bangun tidur kuterusik dengan wewangian. Barangkali mistik atau apalah hingga menggerakan energi kosmos dalam spiritualku. Kupendam rapat dan menyirnakannya dalam aktifitas biasa yang sewajarnya.

Adalah pagi ini, saat aku menikmati lamunan pagi diatas kursi goyang, berteman jadah bakar, tiba-tiba seorang sahabat (mas darno) tergesa-gesa dan bertutur demikian : “bos, (panggilan akrabku olehnya) buah nangka di samping rumah sudah masak dan siap dipanen”, katanya.

Kubingung, pohon yang mana?

Kubergegas menuju kesana dan kaget kumelihatnya. Pohon nangka sebatang kara tanpa anak-anaknya, yang sudah mulai merenta tua. Tapi kini dia justru menunjukkan kesegarannya. Berdaun lebat dan buah pun bergelantungan tanpa noda hama seperti biasanya. Batangnya semakin kokoh walau harus menahan beban dahan yang terus menjalar. Meranting pun tidak. Akar menjalar kemana-mana membuat kokoh hidupnya. Walau beberapa daun ada yang mulai menguning tapi tak meranggas, demikian pula parasnya tak memudar.

Oiya, … sedikit mulai teringat, ternyata telah lama kumelupakannya.

Semakin kuat aromanya melonggarkan nafasku. Hati bertambah nyaman seakan kutemui kembali. Nafsu kesumat tak terbendung ingin menggapainya.

Kerindangan daunnya membawa kesejukan.

Kekayaan buahnya melambangkan kemakmuran.

Kekokohan dahannya pertanda kejayaan.

Kelebatan daunnya menawarkan pengayoman.

Dan aroma buahnyanya mengundangku untuk bercengkerama.

Dan kutersadar, rupanya inilah ‘aroma mistis’ itu berasal. Sengatanya berhasil menggelorakan jiwa ini.

Bagaimana mungkin itu terjadi? Menyiram, memupuk, bahkan menengok pun tidak apalagi memikirkannya. Iya, memang benar aku dulu pernah menyemainya”

Tak mungkin kumenyemainya kembali.

Seolah tak percaya, kupandanginya terus pohon itu tiada henti. Dulu dia menunduk kurus, tapi kini justru ku yang tahu diri. Kutundukkan diri dibawah ketegarannya. Sungguh malu diri ini.

Kupanjat buah itu, tapi kutak berani memakannya. Kutinggal pergi begitu saja. Seorang sahabat lama berkepala botak klimis tiba-tiba mengantarkan membawakanku buah itu kepadaku. Kulihat pada sebuah nampan, kuning cerah menganga keblingsatan. Menerobos tersipu, kumakan buah itu walau diri ini malu.

Aduhai, rasanya manis legit matang dengan sengatan keharuman yang tak kunjung memudar. Iya, ingat buah ini aku pernah memakannya. Seketika menetes air mata ini.

“Dulu yang kulihat hanya getahnya yang pekat selalu mengotori tangan dan mulutku, tapi kini getah itu tak terlihat sedikitpun mengotori, karena hancur tertelan manisnya nangka”

Kulihat isi buah nangka (namanya: ‘beton’) itu berserakan kemana-mana. Kupungut dan kukumpulkan semua untuk kurebus. Kutersadar, berapa kali beton itu dalam kuluman mulut mereka? Berapa orang mengulum beton itu? Apakah juga masih berlendir jika dalam rebusan ini? Ah jorok.

Apakah selalu menuruti nafsu si ‘beton’?

Akhirnya kusudahi niat itu. Cukup kumelihat kesuburan ‘pohon nangka’, hijau, lebat, kokoh, dan ketegarannya saja sudah cukup membahagiakan diri ini. Apalagi ditemani bakal betonku yang kini sudah beranjak dewasa.

“Menunggu beton itu bertunas, dan kutimang bakal tunasnya, itu sudah luar biasa”

Tahan kencing

sebelum menstatuskan untuk panjenengan semua, sempat sebelumnya kutitipkan salam rinduku melalui jejaring ini. Kadingaren dan emboh kenapa kok tiba2 kepikiran. Akhirnya kusaut hp dan kirum pesankan kepadanya : “Ayo, kita makan sayang?” Walau sebenarnya aku sudah kenyang. Tanpa jeda langsung pesan terbalas : “kling”
masuk kotak pesan : “bungkus saja, males dingin banget”.
pesan berikutnya : “aku dirumah aja, gak laper”.
Dan yg terakhir : “titipkan saja, aku mau rica taman unyil”.
Waduh, sontoloyo tenan iki, brahi kian tak terbendung. Kusudahi aktifitas ini. Shutdown pc, cancel meeting, langsung ambil kunci mobil injak gas ngeng … ngeng melesat menghampiri si buah hati. Begitu sampai depan rumah aku ambil hp dan kupesankan lagi lirih kpd mereka : “sayang, … papa dan mama dah di depan rumah ” sambil lirih juga kuklaksonkan mobil agar mereka tidak terganggu hatinya : “bbbipp … ” . Aku selalu mempelajari perasaan mereka walau dari sekedar membunyikan klakson. Yess, !!!!! …. Berhasil … mereka keluar rumah dan menghampiriku. Pelan pelan kuinjak gass … gleser …. gleser … bak nyopiri pejabat sebagai awalan meraih hati mereka. Kadang aku menggobologgan diri agar mereka mem bully. Aku rela di bully demi kebahagiaan mereka.
Masih sunyi juga : “makan apa sshhhh ssa saa .. sayang?”
Jawabnya satu kata bahkan setengah: “tsrah” (terserah). Kuputar cd lagu masa kini itu agar tidak senyap : “hello …” aku ikut bersendu biar gaul … walaupun sejujurnya telingaku lebih suka dangdut. Sampe juga di ayam krispi sejuta umat. Kuletakkan hp dimobil dan bergegas menuju konter.
Di depan kasir kutawarkan: “makan apa nak?”
Yang satu jawab “tidak!”
Satunya : “apa!!” Sambil menatapku legit …
Sedangkan Isteriku memesan produk baru namanya winger.
“Mas,! aku pesan 4 paket ayam original” nadaku tegas.
Istriku kembali bertanya : “untuk siapa?” …
“Ya aku to!” Sahutku sambil anak2 melirikku.
Tapi mas kasir menyampaikan bhw utk pesanan paket itu harus menunggu 25 menit. Tak apalah memang kami ingin berlama lama bersama keluarga.
……… 20 menit kami duduk ……. tanpa komunikasi ……. yang satu asyik dengan game dan yg satu sibuk selfie. Tak sepatah pun kata terlontar. …..
Masih ada waktu 5 menit, aku putar otak dengan menyelami mereka. Kumainkan 5 gelas Air minum, kentang dan nampan seolah olah mobil teroris. Mulai menggila: “rem … rem .. ngengg … titit titit … tabrakan …. rem ..remmm .. duar!!!!!!! ” … ” duar … cu .. cu … ” pokoke koyo wong bloon tenan. Apapun kulakukan.
Kaget dan seneng rasanya anakku bisa tertawa lepas : “Ha .. ha … ha… ” keras dan pecah kesunyian sambil orang2 memandangi keatasku.
Modiarrr tenan …. Ternyata mas pelayan sudah berdiri disampingku sambil tersenyum melihat kegilaan dengan membawa pesanan 4 paket ayam original favorit keluarga kami. Langsung spontan anakku berebut : ” aku ini!! … aku ini !!… aku dua !!…aku yg itu !!!…. enak banget !!!…. punyaku habis !!!… minumku ini … !!!”
Ya sudah papa separo saja, ntar papa pesen lagi saat mau pulang. suasana menjadi riuh walau hanya 5 menit. Lega sudah dan akhirnya aku ke kamar mandi. Memang sengaja kutahan kencing itu sedari sore dan belum mau kencing sebelum membuat mereka bahagia. Yakin, aku memang tolol … ngapain juga ya ….
Sebelum pulang aku ke kounter lagi untuk memesan. Kasir menjawab : “maaf sudah tutup dan sudah habis, sebab 4 potong tadi khusus dibuat untuk keluarga bapak”
Kami pun pulang. Ngeng …. ngeng … ngeng …
Sesampai dirumah ku ditinggal lagi. Belum selesai parkir, anak2ku sudah di kamar masing2. Indahnya hari, semoga tak pecah oleh air mata.

buntungsuwung

Sarden ayahku

Pagi pagi, pada sebuah group wa family, disini kami bermanja2an saling merebut perhatian ibuk. Cerita masa lalu dari kakak hingga adik tentang kebandelanya masing2.

Diawali cerita kakak sulung yang mengisak tangis setelah mimpi berkelahi dg werkudara adiknya.

Disahut adikku yang dulu sering main ejek2kan dengan si ragil sadewa dan berbuah tangis.

Gayung pun bersambut ibu ngendiko : “aku mau ke ambarawa naik angkot colt isuzu, ngobraske baju di enggal jaya. Tumbaske opo nang?”

Spontan kami semua nyelethuk :

“Aku Lopis kapur”

“Es Seroja”

“Buku tulis metro”

“Bapak pesenke tembakau di toko Coe”

Menambah suasana haru th 1980an terasa bangkit kembali di group tsb hingga menyebabkan rindu kpd almarhum ayah. —— Suasana semakin sakral. Sempat 10 menit hening. —— (kuyakin mereka semua tertunduk dlm kesedihan)

Alm bapak yang selalu membuah tangan sarden.

Cukup 1 kaleng sarden dicampur santan 1 panci untuk kami pendawa lima. Ditambah hidangan 1 butir telur dikopyok tepung seperempat kg plus racikan kol.

Digoreng sampai melengkung dan dgigit mental kaya karet.

Sungguh indah tak terkira.

buntungsuwung ungaran solo di innova rentalan.

Kamar anakku

#anak2ku

Kamar #Si_Thole_genduk_dan_ragil

“Uuunnn (edmun), … iiiigggh (reibecca), … eeeeyyyyy (jeje) …” adalah teriakan kepada tiga buah hatiku setiap kali kupulang. Maklum harus sekeras mungkin karena kebiasaan mereka yang keasikan dikamar masing-masing.

Kali ini mereka serempak tiba-tiba menjawab : “apa….!!!!!!” kulihat sambil menongolkan kepala dari atas lantai.

Sambutan yang hangat dan kuhampiri mereka keatas dalam sebuah ruang keluarga. Selanjutnya kusampaikan demikian : “Nah, begini dong ngumpul kan enak. Btw, tumben kalian pada tiduran bareng disini?”

Thole sulungku berucap dengan tanpa ekspresi secara singkat : “Kamar banyak rayap” sambil sibuk dengan gamenya.

Kemudian Gendukku yg baru baca novel bilang sambil bermanja : “kamarku bocor, tempyas dan habis itu ada tanah-tanah yang nempel, terus kalau sudah mengering jatuh. Habis itu catnya luntur bikin nggak nyaman di kamar … bla … bla … “

Si Ragil yg asik bermain mobil2an memenggal kakaknya dan dengan lantang berteriak : “kamarku itu lho, lebih parah … super parah, masak springbed hilang kasurnya. Tinggal kawat-kawat saja, kaya robot saja dudu menungso. Suruh tidur diatas spt ini !!” Sambil menggeretku menuju kamarnya secara nggak sronto. Seperti itulah daya ledak si ragil yang tak pernah pegang gadget.

Kutengok satu per satu memang demikian. Kasur si ragil tersisa kawat dan busanya anjlog, jadi memang tidurnya diatas kawat. Sedangkan kamar si genduk kuingat memang plafonnya dulu dari kayu sengon, sehingga saatnya melapuk karena atapnya bocor.
Kamar si Sulung Thole banyak rayap yang berasal dari almari yang terbuat dari partikel. Mungkin partikel yang terkena lembab. Jadi almari mau ambruk karena dimakan rayap.

Kusampaikan kepada mereka sambil tiduran : “hal membeli bukan perkara mampu atau tidak mampu, pelit atau tidaknya, namun selama masih bisa diperbaiki tetep dipakai saja nggak usah beli yang baru” Alhamdilah mereka mulai memperhatikanku. Kulanjutkan : “Biasanya, orang yang di masa mudanya suka beli barang-barang yang nggak berfaedah, nanti di usia tuanya justru akan menjual aset-aset yang sebenarnya masih dibutuhkan” ucapku.

“Kalau tiap tahun ganti hp baru itu berfaedah nggak” celetuk mereka yang kutahu itu menyindirku.

Kujawab : “itu tuntutuan pekerjaan, dimana harus selalu cepat dan up2date”

Serempak mereka koor 3 suara : “ooooo … oooo …. oooo …. gitu ya”

Selanjutnya kupanggil sahabat-sahabatku yang ahli pertukangan mbah pur, mas gondrong, roni dan nawawi untuk memperbaiki kamar-kamar tersebut. Sementara aku terlelap tidur di #sofa_merah_bawah_tangga.


Jam 00.00 kumenuju kamar mereka,
Kulihat si Thole yang selalu tidur tanpa baju tanpa pendingin dalam terangnya lampu sambil mendengkur. Kuintip si Genduk yang lelap dalam kegelapan dan berselimut tebal. Sedangkan Si ragil, dari luar sudah kudengar dengkurannya, kubuka dan kulihat ia seperti melek (buka sedikit mata) dalam nyenyaknya.

Dalam linangan air mata kuberucap : “Terima kasih Tuhan atas harta yang tak ternilai ini, kan kujaga mereka sepanjang rentang umurku”

Kagol

#Anak2ku

Tadi siang si sulung datang ke tempat kerjaku. Dia tiba2 nyelonong tak sepatah katapun sambil menghampiriku tanpa senyum. Ku tahu itu bahasa rindunya. Seketika berdiri dan kuajak keluar cari makan, karena sedari pagi aku pun belum sarapan. Pergi ke rm padang kesukaanya yg berada di seberang alun2 lama, pengganti sop cakar mas yang tadi pagi tutup saat kusambangi. Sampai depan warung tak mau turun dan hanya selembar kata keluar dari ucapanya : “nggak mau makan, aku puasa”. Kuputar balik dan kembali melanjutkan aktivitas kerja. Gagal lagi acara makanku.

Perutku semakin gak bisa diajak kerjasama, kuputuskan pulang sesaat kemudian dan ketemu si bungsu. “Ayok makan ikan barakuda” ajakku. Kuyakin dia mau, tapi apa jawabnya: “aku mentahnya saja, minta uang makanku, mau beli tiket dangdut di ambarawa, hari ini jihan audy yang tampil” dan kuyakin itu gak bisa ditawar. Kesekian kalinya, gagal maning acara santapku.

Beberapa saat kemudian putriku yang nge kost kirim pesan lewat hp mamanya kalau laper mau makan. Ku iyakan dan kebetulan perutku sudah siaga satu laparnya. Ndelalah persis jam buka puasa, maka kupesankan : “Iya ayok makan bareng, setelah jam buka puasa ya biar nggak rame warungnya” pesanku kepadanya. “Ya papa”, jawabnya.

Kutunggu, bahkan hingga selesai imsak tak kunjung datang. Tanpa pemberitahuan, terpaksa kutinggal pergi cari sate balibul di jl a yani ungaran. Setengah perjalanan putriku telepon : “jadi nggak pah makannya?” Kujawab agak ganggam : “iya, iya ayok ke sate balibul, pa2 dah otw”

Sesampai disitu ternyata warung sudah tutup dan habis. Kutunggu sejenak putriku, sementara perutku mulai protes keras. Tak kunjung ada kabar kehadirannya. Dan kuputuskan cari tempat makan lain sambil kukirim pesan : “balibul tutup, pa2 ke warung bebek marten mapagan ya, kutunggu”. Kupesankan kesukaanya ayam goreng 2 porsi untuk istri dan putriku.

Teleponku berdering dan kuangkat. Waduh, terdengar gak enak bicaranya. Intinya sudah kagol. Nggak mau nyusul. Nggak mau makan. Bla… bla … bla … Andai mereka tahu apa yang sesungguhnya terjadi tentang kisah perutku yang sejak tadi pagi tak terisi.

Singkat cerita udah ngambek gak mau datang. Kubungkus makanan itu dan kubawa pulang. Ealah, saya sampai rumah dia kirim foto posisi di rm bebek marten.

Terima kasih Tuhan, perut ini kenyang dengan sendirinya.

Ketiga Anakku : Gintung, Bruno dan Zopla

#anak2ku

Gintung adalah sulung, sangat pendiam dan waktu dihabiskan untuk mengamati sesuatu. Diam membisu tak pernah menggonggong apalagi menyalak. Serius, tak mau bercanda, cuek dan selalu ingin menyendiri. Sesuai rasnya serigala siberian husky, dia petualang yang tangguh. Hobi mendaki gunung. Dia sudah bisa bilang : “i love u ….” Diam2 dia panutan bagi adik2nya.

Adiknya, dari ras rottweiler, bruno namanya. Badannya kekar krn hobinya makan. Cerdas dan cepat tanggap diajari sesuatu. Jangan terkecoh dg tampanya yang seram dia berhati lembut dan manja sekali. Pinginnya diperhatikan terus dan ngiri jika kudekat dg yg lain. Daya insting tinggi, dia paling awal tahu jika ada tamu.
“Hand, rolling, lay down, stay, …” cepet mahir dia. Cepat melindungiku jika diserang yg lain.

Terakhir, Si bungsu yang kata khalayak anjing galak. Dia zopla, ras belgian malinois. Lihat saja di youtube, anjingnya menakutkan. Sangat patuh dan tak pernah mau berpikir dulu sebelum action. Seperti preman, bicaranya nge gas terus. Cari2 masalah jika diajak keluar. Hobinya renang di pantai ataupum kolam. Hiper aktif tak mau diam. ‘Cilik methakil” bhs jawanya. Very Quick response.

Saat ada pengganggu, bruno menggonggong duluan, sementara gintung menyusun strategi, ternyata zopla sudah face to face dengan mereka.

buntungsuwung