Vio pelacur : Kerja Freelancer (18+)

Hari itu vio pertama masuk kerja di kantor kami. Sebetulnya bukan kantor tapi hanya basecamp. Karena tak akan dijumpai ruang-ruang partisi penyekat antar team. Ruang kerja hampir menyamai tatanan kafe, dinamis dan berkesan terbuka. “Ini bukan bukan penjara yang tersekat menjadi koloni-koloni, biarkan mereka bebas” ucapku kepada team.

Sengaja kuamati kehadiran vio dari jauh. Mengenakan setelan blazer dan rok dengan sepatu highhill memasuki ruangan. Tengok kanan kiri atas bawah keheranan. Kemudian keluar lagi dan baca alamatnya. Tak lama kemudian dia mengirimkan gambar hasil jepretan kantor kepadaku : “Benar ini kantormu”? Tak kujawab biar penasaran. Akhirnya bertanya kepada salah satu team. Disitu mawar pun akhirnya beranjak. “Halo bu boss” tanya mawar sambil mengenalkan vio kepada mereka sebelum menghantarkan kepadaku. Mereka dalam baku canda dengan gaya-gaya sentimentil.

Aku pun keluar dan mengenalkan kepada seluruh team. Sambil berdiri kepada semua kukenalkan kembali vio.

“Ini Vio namanya, bagi yang belum kenal, dia teman lamaku” kataku dan vio melirikkan matanya kepadaku. Kulanjutkan : “dia freelance projek, dia akan menjadi team kreatif kita agar kita bisa membuat goal sebuah projek terbesar ini. Mohon kerjasama yang baik.” Demikian penjelasan singkatku dengan tanpa formal. Kami berdiri melingkar tanpa ada yang duduk. Kuamati satu per satu, dalam sorot matanya ada yang sudah mau menerima vio pun masih ada yang sangsi. Selanjutnya vio kuajak masuk ke ruangan.

Vio pun masuk, dan paham sandiwara yang kulakukan diluar tadi. Vio langsung menaruh tasnya dan merebahkan diri di sofa. “Thanks my God” teriaknya. Apa yang ada di dalam pikirannya? Aku gak tahu, tapi yang jelas aku tahu sisi liar dan daya kreatifitasnya yang sangat ternyata luar biasa. Dia membaringkan dirinya ke sofa dan melepas blazernya. Mulai lagi naluri melacurnya tumbuh. Menyingkapkan roknya dan memerahkan lipstiknya. Parfum rempah pun mulai dispraykanya.

Kudekatinya dan vio pun menyeret tanganku ke dadanya yang sedikit menyembul. “Ayo mas … bunuh jaimmu” bisiknya. Akhirnya kami terlibat adegan ciuman mesra diatas sofa itu. Semakin dalam dan kami tak saling mengendalikan kalau itu ruangan kerja. Masih dengan pakain resmi dia tiba-tiba duduk ke pangkuanku. “Mas tahu nggak, aku sengaja nggak pakai celana dalam dari rumah. Dan selama disini aku nggak akan memakainya. Karena aku tahu apa yang akan kau lakukan” katanya. Dan astaga, benar dia tak memakainya untukku. Dia duduk sambil memberingaskan diri entah nyata atau sandiwara. Dia menari-nari sambil melepas dadanya hingga menghujamkan mahkotanya kepadaku. Bak pesawat menukikkan diri diatas pangkuanku. Adegan pun tak lama karena kami paham ini ruangan kantor dan tak bisa loss berteriak.

Tak kuasa dan vio berteriak : “mas, mas … i love you … i love you …” langsung ku tutup mulutnya. Akhirnya vio pun orgasme, namun tidak dengan aku, karena aku terganggu teriakannya dan kulihat dari cctv beberapa teman mendengar rintihan vio. Mereka kaget dan mendekatkan diri ke pintu. Vio lunglai lemas di sofa dengan kondisi nggak karuan. Kulihat memang benar-benar seperti pelacur. Semakin tegang batangku melihatnya karena kagol tak bisa terlampiaskan.

Akhirnya kuhujamkan saja ke tubuh vio yang lunglai. “Maaf sayang harus ku lakukan” kataku sambil membuka selangkangannya yang putih. “Iya, mas … silakan, aku sudah tadi, enak banget” jawabnya makin aku beringas sementara dia lemas. Lama kelamaan vio pun mengikuti ritmeku. Mendesah dan kututup bibirnya agar kontrol suaranya. Mulai dia bicara lirih, : “mas, aku mau lagi ini makin enak. Terus mas … ” aku pun mempercepat peemainan dan semakin tak terkendali. “Oh … oh … yes” kataku dan kini vio yang justru menutup mulutku.

Umur tak bisa dipungkiri, kami sama sama capek dan terlelap tidur di sofa bersama. Tak ada satupun yang berani mengusik.

Kami pun bergegas mandi bersih diri dan teringat target pekerjaan. Goal projek itu. Minum kopi, menata ruangan hingga merapikan diri sebelum memanggil team. “Kita meeting di luar saja, nggak enak ruangan ini habis berantakan, bau keringat kita pula” kataku kepada vio.

“Yah, ngikut saja” sahutnya.

Satu jam kemudian ku agendakan meeting di luar dan vio pun keluar bergabung dengan mereka. Kudengarkan paparanya. Gila, out of the box beneran. Daya kreatifiasnya diluar prediksi kita. Terobosan terobosanya benar benar membuat tercengang. Hampir merubah paradigma kami semua.

“Kadang sesuatu gagasan original muncul dari orang yang justru tidak dalam kapasitasnya”

Terobosan vio pun kita gali dan dituangkan bersama dalam proposal baru. Termasuk desain dan redaksionalnya. Vio enjoy memaparkan. Tapi aku sebenarnya was was. Takut vio tak kontrol dan duduk menganga. Karena dia tak memakai celana dalam.

Janur Alum

Saya bikin lagu jawa berjudul “Janur Alum” yang artinya janur, merupakan daun kelapa yang masih muda berwarna kuning. Janur sering dipakai maayarakat untuk dekorasi atau penanda ada hajatan. Biasanya dipasang di tempat-tempat strategis sebagai penanda punya gawe (ada acara). Tak hanya jawa, bahkan di bali, pun hingga kini masih sangat subur pemanfaatan janur itu. Mungkin boleh dibilang umbul-umbul atau bahasa kininya rountag, T banner dll. Janur lebih sakral daripada mmt itu.

ilustrasi gambar dari google by louis devianart.com

Sedangkan ‘alum’ berarti layu atau tak segar. Janur Alum yang kumaksud dalam lagu ini adalah dengan muka yang layu karena memikirkan sesuatu.

Lagu Janur Alum berkisah tentang percintaan gadis dan jejaka yang sedang dilanda asmara ‘lagi sayang-sayange’. Namun tiba-tiba kandas karena ternyata sang kakak yang paling dicintai juga mencinta orang yang sama, yaitu pacarnya tersebut

Dilema, pilih meninggalkan pacarnya atau melupakan kebaikan kakaknya? Sang kakak sangat baik dan sering menolongnya disaat apapun berani berkorban untuk adiknya. Itu yang yang tak bisa dilupakan.

Dengan berat hati dia pilih meninggalkan pacar yang disayanginya demi kebaikan sang kakak. Dia tahu kekurangan kakaknya, sulit bergaul dan lambat untuk berpikir sehingga menjuhkan dari semua gadis. Orang tuanya pun mendesak agar segera mencari jodoh karena sudah berumur. Bahkan menyarankan adiknya melepas demi sang kakak. Adiknya selalu berkeluh kesah kepada gadis tersebut tentang kebaikan kakak termasuk kondisi kakak yang sebenarnya.

Mengapa gadis itu mau dipinang oleh sang kakak? Memang cinta, iba, atau justru demi pacarnya itu? Simak saja lagunya. Menurut anda bagaimana?

Yang jelas berakhir ke pelaminan dan langgeng.

JANUR ALUM
Cipt. Didiek Buntung
Bola bali mbok gawe loro
Nanging aku tetep tresno
Dino iki kok kuciwo
Medot ati sak rempelo
 
 
Kowe pilih kangmasku dhewe
Jare mbiyen  bagus adhine
Kadang tresno nutup moto
Nadyan  tetep kudu nompo
 
 
 
Reff.
Mbiyen mulo, aku kok ora ngiro
Saikine, aku kudu narimo
Mengko sore bakal nyeksekke kowe
Siramanmu ro kangmasku dhewe
 
 
Medot kowe pas  lagi sayang-sayange
Ati iki  jane sopo sing gawe
Janur kuwi wus ra kuning warnane
Alum ora seger koyo kowe

Dengar lagunya di https://www.youtube.com/channel/UC6OFcLdkhfiX51dFz5geyFQ/featured?view_as=subscriber

Vio si pelacur : Truth or Dare (18+)

Bisnis

Dari musik, beralih ke dunia entertain hingga kini bidang kreatif. Itulah bisnis yang sekarang kami geluti. Mengkonsep suatu acara menjadi spektakuler, menyulap suatu venue untuk acara menjadi unik megah tiada mendua. Menata panggung itu bagian yang sering ku tangani bersama team. Unik bukan? Untuk itu kami butuh team yang dinamis dan out of the box.

Kami adalah bagian terkecil dari sekian ekosistem alam yang masih diberi ruang untuk hinggap memberi jejak.

Adalah kemaren saat kami di Bali bertemu dengan investor dibidang property, mr Liem namanya dari negeri bambu. Beliau tertarik dengan hasil kerja kami dalam gelaran kreasi hiburan tingkat dunia.

Seorang teman mengenalkan kami kepada beliau. Dan akhirnya kami pun ditantang untuk membuat konsep bisnis kreatif. Kutawarkan ide gilaku yang masih mengampas sperti residu. Bagi orang lain sampah yang hanya di spam, namun mutuara bagiku. Ide kami godog bersama team gila itu bersama mawar sebagai desainer, bunga bidang IT, ndaru bidang landscape arsitektur, rosa komunikasi dan allen sebagai artistiknya.

Cukup simpel, terinspirasi kehidupan abnormal dunia malam di kota leak ini. Pada segmen tertentu manusia pada titik kejenuhan, untuk itu dibutuhkan suatu wadah yang bisa menyalurkannya. Dan itu dimanapun, sejak dahulu hingga sekarang selalu eksis. Pasar tersebut didominasi oleh kaum menengah atas yang notabenenya berduit. Untuk itu kami tangkap perjudian dan porstitusi sebagai peluang, bukan ancaman.

Dengan berbagai upaya, kami pun presentasi kepada investor mr liem dan para stakeholder.

Kami membuat konsep akan membangun dataran tinggi Bandungan Jateng sebagai pusat kasino dan dunia gemerlap porstitusi tersentral. Hanya ditempat itulah bisnis judi dan porstitusi dilegalkan. Dilain tempat itu harus dibasmi. Bandungan akan jadi tempat destinasi baru bidang Mice. Meliputi penataan kota, gedung kasino, rumah sakit, dll berkelas bintang 5.

Sayang presentasi kami hanya berkedip sebelah mata dan beberapa pihak menolak sebelum berpikir. Hanya segelintir orang yang sejalan dengan pemikiran kami. Dengan sentralisasi perjudian dan prostitusi secara legal, maka mudah untuk mengontrolnya dan bisa membasmi yang ilegal. Bahkan bisa untuk tambahan devisa negara. Semua negara tetangga kita punya arena tersebut. Sayang, investor pun ikut hengkang namun kami pantang menyerah.

Kehadiran Vio

Tiba-tiba datanglah vio kepadaku dan mengucapkan selamat atas paparan yang katanya sangat visioner. Sayang datang tak tepat pada waktunya hingga Mawar, rosa, bunga cemburu atas kedatangan vio. Jadi bahan pergunjingan teamku. Udara yang tadinya dingin kini mulai memanas, oleh angkara manusia.

Muka kecut menyeruak lewat sorotan mata rosa. Apalagi bunga, langsung melepas permen loli popnya dan nyengir. Hanya si tomboy mawar yang berani pasang ketiak.

“Siapa itu dad” cetus mawar yang pura-pura tidak tahu.

“Kenalkan ini vio, temanku” kataku kepada mereka. Vio pun mendekat dan berjabat tangan satu persatu.

“Oh …” kata mawar sambil mengangguk sinis mlengos.

Rosa, bunga dan lainnya kemudian mengelompok menyendiri dan memperbincangkan kami. Bagai team basket yang sedang break menyusun strategi. Kutunggu yel yelnya yang tak kunjung bunyi.

Setelah bersalaman dengan mereka, kuajak vio menjauh sebentar dan kutanya : “Ada apa kamu kok tumben?” Sambil kudorong menepi keujung tembok, mungkin mereka berpikir kami menyusun yel yel juga.

“Kalau mas gak terganggu dan ada waktu aku mau ngobrol. Jikalau tidak pun tak mengapa” katanya. Dan vio tak seperti onel yang harus saklek. Kupandanginya sudah tak beralis tebal dan bulu mata. Kini anggun dengan setelan blazer dan sepatu hitam. Keren dan anggun sekali. Tak nampak wajah pelacur lagi ha ha ha. Kepadanya kujawab begini :

“Bisa tapi nggak sekarang, nanti aku kabari deh” kataku. Masih belum konsentrasi karena presentasi tadi. Dia datang dengan waktu yang kurang tepat.

“Malam ini bisa? Biar aku yang cari hotel, aku tahu mas sibuk” rayu vio. Kupandangi, antara kutolak atau tidak. Tapi sayang kalau tak kuiyakan. Vio tak seperti biasanya ngrangsek kaya gini. Pasti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.

“Em … oke deh” jawabku singkat. Padahal sudah ada janjian bersama team untuk diner bersama. Pasti tambah sirik jika aku membatalkanya. Dalam kebimbangan ini muncul pemikiranku, barangkali basa basi timbul akibat seperti ini.

Tibalah saatnya dan aku harus memilih.

Aku memilih malam ini bersama vio.

Tak lama kemudian ada pesan di layar. Baru kuintip pesan itu dan belum membukanya agar tak ketahuan kalau sudah aku read centang hijau. Begini isinya : “Malam mas, vio di villa susan spa” kuoptimalkan dulu waktuku bersama team. Walau selanjutnya aku justru sudah diusir untuk segera menemui vio. Mungkin sudah sebel tingkat dewa mereka kepadaku.

Kumenujunya dan kucari villanya. Naik menanjak menuju arah bukit. Benar-benar di lereng pegunungan ungaran yang masih lebat dengan hutan. Disekitar berjajar kebun bunga dan kebun jagung yang masih nampak hijau oleh sisa rembulan.

Sesekali kulihat pemandangan dua jiwa yang bersatu dalam satu hasrat. Ada yang berdiri diatas motor. Ada yang membawa tikar, ada yang hanya duduk melihat pemandangan dibawah sana, bahkan ada yang nyungslep di perkebunan itu karena motor parkir tanpa awak.

Bersyukur vio bisa menyewa villa itu, hanya satu dipan ranjang, berair hangat bertirai kaca seharga jutaan per malam. Uang dari mana ia dapat? Setiap kutanya karena hasil tabungan melacur denganku.

Akhirnya akupun menemukan villa itu dan mengetuknya masuk. “Ya, … masuk mas” sambut vio yang pura-pura acuh tak menyambangiku. Dia duduk di bahu teras menghadap kesana. Kamar luas ditebing, terang dan terbuka melihat bintang malam yang gemerlap. Astaga indah sekali pemandangan malam ini. Apalagi dandanan vio malam ini, kulihat pake setelan gaun dan dalamnya ada lingerie yang indah. Rupanya ini yang ia sembunyikan sehingga nggak menemuinya.

Kupandangi dan kaget aku, dia membawa kejutan, masih dengan harum parfum rempah, make up yang tak tebal dan body yang semlohai. Aku melotot terus tertegun.

“Aku tak ingin apa-apa mas, aku hanya pingin ngobrol.” katanya membuat ku gundah. Apa yang dia pikir tentang aku hingga bertanya seperti itu? Atau mukaku mesum? Nggak kan? Atau sedikit ada kali. Akhirnya dia pun duduk dan bercerita panjang kali lebar sayang tanpa kali tinggi, sehingga tak ada isinya.

Bagaimana tidak? Gosip sana sini temanku, temannya, saudaraku saudaranya bahkan hingga yang tak ku kenal sekalipun. Mempergunjingkan baik buruk manusia adalah hal yang kuhindari, termasuk tulisan ini begitu ingin menjahui itu. Walau kadang khilaf.

Tapi yang bisa klik denganku tentang ini:

“Aku tertarik dengan presentasi tadi. Itu bidang kerja yang kusuka. Mungkin nggak jika aku bergabung. Aku bisa berikan sesuatu yang lebih untuk itu. Konsep, ide kreatif, apalagi?” Lanjutnya.

“Mustahil, bagaimana nanti dengan orang tuamu?” Tanyaku

“Pikir belakang mas, nggak cukup waktu untuk bahas itu semua, malah nyesek kita nanti”, katanya sambil beranjak dan menghela nafas pertanda tak sreg. Dia menuju bar dan meneguk air dalam kemasan itu.

“Plok … plok … plok … ” tepuk tanganku menyambutnya. Dan kulanjutkan : “Sekarang sudah berani ya bilang seperti itu, hebat?”

“Yah, setelah sekian lama merasakan beratnya menyandang pelacur dan itu semua demi kamu mas” jawabnya. Kata pelacur dia garis bawahi dengan menengok kekiri memberi aksen.

“Oke, oke, lupakan itu. Cukup aku tahu” serangku balik agar tak meluas kemana mana.

“Eh, gimana kabar anak kita?” Tanyaku.

“Baik mas, dia sungguh tahu diri dan semakin dewasa hadapi beban ini, dia sayang sekali sama mas. Bangga sekali sama mas. Dia akan balas dendam atas kebobrokan keluarga kita dengan menunjukkan kesuksesanya nanti, itu janjinya” jelas vio dengan bangga dan percaya diri. Senang jika kumenanyakan tentang kabarnya.

“Hebat dia, bangga kupunya dia” sahutku sambil terharu. Kami diam sejenak dan menahan genangan di kelopak mataku berusaha tegar. Akhirnya meleleh dan menetes mengingatnya. Jatuh lelehan mata itu semakin tak terbendung. Vio membasuh air mataku dengan tisu seraya berucap : “Jangan ditahan mas, jatuhkanlah” pintanya.

Kuhindari hal itu dan segera kuganti topik. Kubuka seluruh jendela agar dingin semakin menusuk. Serta kukurangi pancaran sinar lampu agar berkurang. Remang remang dan kebetulan diluar terang karena mendekati purnama. Bulan hampir utuh terlihat. Kubersihkan diri dan mandi sebentar. Setelahnya kuajak vio bermain. “Bukan saatnya ngomongin itu, aku sudah punya rencana yang indah buat dia, lihatlah sebentar nanti. Kita perlu bersenang-senang juga” kataku merubah arah pembicaraan.

Truth or Dare

“Eh, aku punya game menarik, ayo kita mainkan” suruhku dan kudekati vio di sofa panjang sudut itu.

“Aku punya game Truth or Dare, kamu harus pilih salah satu. Truth berarti harus menjawab pertanyaan dengan jujur, sedangkan Dare akan melakukan tantangan yang diminta, paham?” Jelasku.

“Kalau gak jujur trus gimana?” Tanyanya. “Kamu akan dicampakkan oleh malaikat Tuhan dan jadi pelacur beneran” tegasku. Sepertinya vio ketakutan.

“Trus kalau melakukan tantangan itu apa aja?” Tanyanya lagi. “Ya, terserah lawanya dong, suruh cebur ke laut, lepas baju, apaan kek terserah” jelasku lagi. “Oh, no no no …” tragis game ini. Tapi baiklah. Bentar aku ambil minum dulu.

Dia menuju minibar pojok pintu dan mengambil 2 gelas biir untuk kami berdua. “Let’s play darling” ucapnya. Dan kami pun duduk berhadap-hadapan.

Ronde 1. “Pilih aku atau orang tuamu, Truth or Dare” kataku. Vio berpikir mau pilih yang mana. “Kalau pilih keduanya boleh gak?”tanyanya pula “ya nggak lah” sahutku. “Hmmm … Dare ajalah” sambungnya sambil menahan dag dig dug. “Baik, lepas bajumu” suruhku. “Hahh… lega … siapa takut” dia menghela nafas lega dan melepas baju luarnya kini lingerie yang terlihat Akhirnya gantian vio yang bertanya.

Ronde 2. “Jawab mas, mau menikahiku lagi atau aku jadi pelacur sungguhan? Truth or Dare” suruhnya. “Hmm, ini semua berat, tapi baiklah pilih Dare saja” ungkapku. “Oke, darenya adalah telpon onel sekarang di loudspeaker minta putus” kata vio. Duh berat rasanya, aku yang mulai ide permainan ini aku yang jadi korban. Tapi baiklah aku harus sportif. Kuambil handphoneku dan kutelpon dia. “Halo, … halo, … ada apa daddy, … tumben telepon” kata onel. “Eee … anu, … aku mau sampaikan … kalo hubungan kita putus saja” kataku sambil ku loudspeaker dan vio denger langsung. “Ada apa sih mas, bercanda saja kamu ini, mas … mas …” kututup telpon ini. Aku tak kuasa melihat kesedihannya. Viopun tak ingin melihatku sedih. Akhirnya vio bilang : “maafin aku mas, aku cuma main2 saja, sana telpon lagi baikan,” kata vio yang sungguh besar hatinya nan tulus mencintaiku. Dan permainan kulanjutkan agar fresh kembali.

Ronde 3. “Berapa dan dimana saja jumlah tabunganmu, Truth or Dare” kataku. “Ya nggak mau lah sebutin, pilih Dare aja deh” katanya. “Baik darenya, lepas bajumu sekarang.” Pintaku singkat. “Loh, ini klo dilepas aku tinggal pake BH. Udah true saja” ralatnya. “Nggak bisa, dan terlanjur” jawabku. Akhirnya dia melepas bajunya dan hanya tersisa Bra dan roknya saja. Permainan semakin menegangkan. Selanjutnya vio yang bertsnya.

Ronde 4. “Pilih makan bekicot atau daging tikus” katanya. “Hah, nggak semua. Langsung dare aja. Yakin” kataku. “Ha … ha … akhirnya. Sultan bisa buka baju sekarang?” Suruh vio. “Oke, sepele itu” jawabku kembali dan kami pun sama sama tak berbaju.

Ronde 5. Aku bilang : “Jawab jujur, pilih anak atau aku. Truth or Dare” kataku. Kutebak dia nggak mau jawab jujur. Dia nggak bisa bermain hati. “Rupanya itu jurusmu ya. Aku tahu. Oke Dare. Jelasnya. “Tantanga darenya jelas, lepas rokmu” jawabnya. Astaga dia hanya mengenakan dalaman bh dan cawet. Putih semampai montok seperti artis tionghoa. Sempat kucuri fotonya saat seperti ini.

Ronde 6. Giliran vio bertanya”Selain onel, masih ada wanita lainnya nggak” kataku. “Dare, dare, dare … ” jawabku. Vio nglihatiku terus dan nampak kecewa selanjutnya bilang :”lepas clanamu sultan?”

Permainan memanas dan menegang dalam serius. Lanjut Ronde 7. “Pilih di telpon prast atau roni dihadapanku?, Truth or Dare” kataku. Roni dan prast adalah mantan pacarnya sebelum aku. “Oh, kamu jangan cari gara-gara sayang, plis deh, Dare aja” pilihnya. “Pastinya kau tahu tanpa ku meminta. Ayo lakukan” jawabku. Dia melepas branya dan benar-benar dia hanya menggunakan celana dalam tipis ketat. Oh mai gad, … aku pun mulai menegang. Dan dah gak konsen bikin pertanyaan.

Ronde 8. “Kamu jenius mas, bikin aku seperti ini. Ini giliran aku ya mas” kata vio. “Aku minta kamu langsung Dare saja deh. Lepas celana kamu” katanya dan langsung kulakukan perintahnya.

Ronde 9. “Aku dare saja deh, apa permintaanmu selanjutnya mas, aku turuti sekarang?” Jawabnya mulai manja. “Saat tak bersamaku pasti kamu merindukanku, apa yang kamu lakukan?” Tanyaku. “Masturbasi mas” jawabnya. “Oke tunjukkan kepadaku, itu dare terakhirku” kataku.

Dia melakukannya mulai dari meremas-remas payu dara sambil sesekali melirikku. Dia pun semakin gelisah dan meraba-raba sendiri. Dan akhirnya memainkan jarinya ke suatu bagian yang membuat mabuk kepayang jika disentuh.

“Ah mas, aku kau suruh ngapain ini?” Desahnya. “Enak mas” desahnya lagi.

Terus dan membuatnya semakin beringas. Semakin kencang tangan kanannya meremas dan jari kiri menutup selangkangnya erat. Apa yang ditekannya hingga suara becek gesekan air terdengar.

“Oh, … Dare, dare, … dare aja mas … plis dare” teriak sambil mengambil paksa batangku dan memasukkan ke dalamnya. Dia duduk diatas sofa bersandar setengah tidur dan menyuruhku berdiri. “Oh, yes … dare sayang … aku dare … truthnya makasih sayang aku puass” desirnya memenuhi ruangan remang ini.

Kami tertidur di sofa. Beberapa saat mungkin 1 jam terbangun dan kami pun tak bisa tidur kembali. Waktu sudah nelewati hari, rembulan pun sudah berganti sudut. Vio minta diantar jalan-jalan di pasar bandungan. Yah, kami kesana dan beli bubur kesukaanya. Bubur tapi piringnya berupa kerupuk dan bisa ikut dimakan. Tepat berada di perempatan pasar itu. Bubur putih, sambal kacang dan bakwan goreng cukup mengisi kekosongan energi yang terkuras untuk permainan Truth or Dare tadi. Vio kulihat demikian lahapnya, semakin aku menyayanginya seperti masa pacaran lagi.

Masa sebelum kami menyatukan janji di depan altar. Masa sebelum sulungku bersarang di tubuhnya.

Dalam lamunan itu tiba-tiba bubur vio tumpah. Yah karena terlalu banyaknya ia makan sehingga kuah bubur membasahi krupuk dan pecah. Seketika kubersihkan bajunya, dia menengokku. Bener-bener merasa muda dan dicintai.

“Dad … !!!” teriak mawar, bunga dan rosa. Kaget aku tiba-tiba mereka didepanku, hendak membeli bubur katanya. Tapi kulihat-lihat dia seperti ada yang aneh. Mereka bersama om-om siapa aku gak paham, bergandengan mesra. Ya, aku paham, dia menato alisnya dan mengenakan softlens baru. Sattu lagi, dia pake bulu mata palsu. Hmmm … gila bener neraka ini.

Kami makan bersama dan akhirnya suasana kami jadi cair. Vio, mawar, bunga, rosa, bercanda tertawa bersama. Kulihat dari jauh, oke juga penampilan mereka mawar, rosa dan bunga. Dasar, nggak ah mataku lagi kabur. Lagi-lagi insting vio tepat, : “Tadi apa yang kamu pikirkan tentang mereka?”

“Enggak ada apa-apa, kok kalian secepat itu menjadi kompak?” Jawabku.

“Ok, i believe you” jawabnya.

Bubur itu bener-bener bisa mengubur kebencian mereka. Kini tak ada jarak vio dengan mereka. Semakin pagi tak menenggelamkan hasrat canda rianya. Kami pun berjalan menuju villa, Susan Spa.

KAPEL

Menanjak 1 km menuju ketinggian. Suhu dibawah 20 derajat mampu menusuk tulang kami. Kabut tebal menyelimuti kuberjalan melewati sisa asap jagung bakar.

Dalam nama Tuhan, kami berhenti sebentar. Kumelihat kapel putih mungil nan indah itu disini. Masih layakkah aku ? Seberapa pantas kami di hadapan Mu?

Jika Tuhan berkehendak dan mengijinkan dengan jelas tanpa perantara, akan kupinang dia kembali.

Akan kuhayati dengan baik janji setia itu tidak seperti dulu, yang hanya kuhafal lewat kursus dan kembali kunyanyikan lagu merdu itu dengan sepenuh hati:

“Bapa yang di surga, kami berdua Bersujud di depanMu, di Altar mulia Saling mengucap kata, berserah setia ingin hidup berdua denga penuh cinta”

Karena belum hilang ingusku saat imam menengadahkan berkat kepada kami berdua.

Kuberkeliling di kapel ini, berpoto-poto ria. Sendiri dan masing-masing manjauh sibuk dengan angannya, hanya saling sesekali bertatapan. Kuyakin pikiran kami sama. Hanya tak berani mengungkap. Sama ingin kembali bersama menjelma.

Tapi tak kuasa, kami hanya sandal jepit dan serbet di dunia ini. Lusuh dan tak layak ampas dan residu dan hanya kami yang menganggap mutiara. Agar ada asa untuk hidup.

Walau sejatinya kami terkucilkan dari penerimaan roti tak berRagi yang sangat kami rindukan. Kapel ini memasung kami untuk enggan pergi sejenak. Dia melompat kesana kemari seperti masa remaja. Aku pun bengong, kutatap kapel ini semakin rendah diri ini bahkan menyatu dengan tanah kareba banyaknya dosa.

Tak ada yang berani ngomong diantara kami berdua. Karena sama-sama tak pantas. Dan aku pun berjalan duluan menunggunya.

Selanjutnya kami lanjutkan menuju villa yang masih satu kesatuan dengan kapel itu. Sesampainya kami duduk di teras.

Vio jadi freelancer projek

Kami pandangi gemerlap lampu lembah sana bak bintang menyemut di lautan. Tiba-tiba vio nerocos terus tentang angan dan idenya yang menyemangatiku. Dia punya sejuta angan yang dahsyat tentang dunia kasino dan prostitusi yang telah aku presentasikan. Dia lebih gila, dia riset lebih awal tentang dunia itu dan mengguruiku.

Kutanya demikian : “Bagaimana kau tahu tentang kasino dan prostitusi ini? Ungkapku. “Sebelum aku meraihmu, aku telah melakukan riset dan aku terjun langsung menjadi pelacur seperti yang engkau ketahui” jawabnya

Hebat juga vio. Akhirnya kami bikin kesepakatan kontrak kerja freelance dengan vio. Kutawarkan bergabung dalam team kami untuk menge-goalkan projek kasino ini.

(Bersambung) …

Vio Pelacur itu (18+)

Saat di ranjang memang aku sebagai pelacur, selebihnya aku manusia biasa seperti kalian yang tetap mengenal Tuhan”

—-
Tiba-tiba kami terbangun bersama. Vio namanya sahabat berbagi tubuhku, dia mendekatkan wajah dengan sorot tajam, mata kecoklatan membulat kepadaku dan berdesah : “Kenapa sering kau lakukan seperti ini kepadaku?” Ucapnya di kamar yang kusewa sehari di kota Bandungan itu.

Separuh badan memberatiku beraroma rempah, terasa payudaranya halus melekatiku. Kaget dan kudorong spontan mengenai tubuhnya yang hanya berbalut selimut putih. Menyelingkap dibalik dadanya yang seperti salju, masih ranum dan seharum susu, mata melirik kepadaku. Dan baru benar tersadar apa yang telah kami lakukan. Kulihat pemandangan pegunungan ungaran yang indah lewat celah tirai jendela itu. Rumput mengembun dan udara terasa menusuk tulang walau tanpa pendingin AC.

Selanjutnya kutarik tangannya dan tanpa malu vio menutup auratnya dengan hanya satu tangan bersiku menggenggam, menjadikan mengeras batangku dan kutanyai selanjutnya :

“Kenapa juga selalu kau tanyakan di belakang? Tidakkah lebih baik diawal sebelum kita bersetubuh?” Jawabku sambil kulempar amplop atas jasa pelampiasan semalam.

Selanjutnya dia membuka dan menghitung isi amplopnya.

“Kurang 1 lembar, mas” katanya sambil memasukkan lembaran merah itu ke dompetnya.


“Itu adanya, tagihkan untuk besok, saat kita bertemu” jawabku yang sebenarnya belum puas ingin kembali menyetubuhinya. Tapi tak mungkin, pelacur itu pasti akan berhitung uang, sedangkan ini saja tak cukup.

Selanjutnya vio mulai berkemas membersihkan semua noda dengan tisu dan entah apa yang dia pungut itu.

“Mari aku mandikan kamu?” Suruhnya

“Tidak, tidak, … aku tak cukup uang untuk itu semua” kataku dan tiba-tiba dia memaksaku beranjak, menyeret dan mendorongku ke kamar mandi seukuran 3×5 meter. Cukup luas hingga aku tepat menepi ke tembok wastafel. Astaga, kemolekan tubuhnya sungguh indah, seindah candi gedong songo yang sedikit kutatap dari balkon tadi.

“Ssssstttt ….” desisnya menghampiriku sambil meletakkan jari menutupi mulutku. Tanpa sepatah katapun keluar dari mulut kami kecuali gemericik air shower yang setengah memanasi badan kami. Berdua dalam satu pancuran air, berebut tetesan air dan sesekali berciuman.

Air itu benar-benar menyatukan tubuh kami berdua.

Vio menekan shampoo untuk mengeramasi rambutkuku. Dan aku pilih sabun cair saja. Untuk melumuri semua lekuk tubuhnya yang elok sempurna dengan kedua tanganku. Masih ada luka sayatan di pergelangannya, dan akupun tahu persis asal muasal sayatan itu.

Tetap saja membisu dengan tatapan sarat makna. Dibawah siraman air vio menggeliat memandangiku sedikit mendesah saat tangan kiriku meremas dadanya dan tangan kananku di selangkangannya. Masih dengan sabun cair hotel itu. Yang licin hingga berbusa dan mengkhaliskan air ditubuhnya.

Hingga selesai sudah ritual bersih diri kami lakukan, karena air semakin panas tak terkendali, demikian pula syahwat dalam diri kami yang semakin membara.

Setelahnya, sengaja atau tidak, dia menjatuhkan handuknya dan spontan aku langsung mengambilnya. Vio menatapi wajahku dan ekspresinya mendendam kesumat ingin bercinta.

Astaga, tiba-tiba menghujamkan bibirnya bertubi-tubi kepadaku. Kusambut dan kuikuti alurnya. Desahan tak seperti biasanya semakin menambah gelora jiwaku ikut terbakar mesra. Apalagi dari sini bisa kulihat hutan pinus itu. Dia menggelora sungguh jelas ibarat foto bokeh dengan bluur hutan pinus itu.

Tangannya mendorong kepalaku dan aku pun tahu, berharap aku melumat putingnya. Vio semakin mendesah dan aku kembali menciuminya. Tangan mulai menggerayangi batangku dan menyentuh-nyentuhkan miliknya. Apa yang dia inginkan. Nge flow saja.

Tiba-tiba aku hentikan dan aku lepas paksa. Dan dia pun bertanya : “Kenapa engkau jahat seperti ini?” Kujawab serta : “Aku tak mau jatuh dalam perangkapmu. Aku tak punya uang dan banyak sudah hutangku yang akan kau tagih”

“Kali ini tidak usah bayar dan kuanggap lunas semua hutangmu” jawab vio.

“Ada satu syarat” katanya kemudian. “Apa itu” tanyaku.

Dia menempelkan mulutnya ke telingaku : “Kamu harus bikin aku puas” bisiknya mendesah. Mendengar kata-kata itu langsung geram dan mulai meneganglah aku dengan batangku.

Kubayangkan video aril dan luna maya yang pernah kutonton dan merusak menodaiku masa itu.

Kuangkat langsung tubuhnya yang 10 kg dibawahku beratnya dan kubaringkan menengadah persis di tepi springbed. Kulipat lututnya dan tepat kuberdiri di depanya. Perlu satu bantal agar persis di selangkangnya. Tak terlalu tinggi ataupun rendah supaya nyaman, sebab bisa jadi 30 menit beratraksi didepanya agar benar dia mencapai titik klimaks, permintaanya.

“Apa yang kau rencanakan sayang?” Tanyanya. “Lihat saja nanti” jawabku sambil mempersiapan posisi.

“Apa yang kau rencanakan sayang?” Tanyanya. “Lihat saja nanti” jawabku.

Kumulai pelan-pelan sambil menunduk menciuminya. Dia mulai mendesah. Kuraba semua badannya dan mengajaknya untuk aktif. Dia menyuruhku meremas payudaranya. Sementara jarinya memegang megang tubuhku. Terus hingga 10 menit terus berjalan. Semakin membara takkuasa berteriak menyambar ruangan ini. Dia menjingkat-jingkat.

“Apa ini mas, oh yesss …. terus mas, kusuka ini … ” katanya.

Kelanjutkan berdiri, lama-kelamaan vio meremas -remas sendiri kedua payudaranya. Semakin kencang menggeleng-gelengkan kepalanya ‘self service’. Ekspresif tak karuan dan kubiarkan saja kuikuti apa yang dia mau. Kulihat payudaranya membatu semakin kencang dan licin oleh tetesan keringat kami berdua. Ini panggungnya apapun maunya kubiarkan.

“Mas, … penuh … apa ini yang masuk didalamku, ohhh …. vio gak kuat mas. Maaf aku … aku … dapet mas …. ohh … yesss … ” teriaknya plong.

“I love you” katanya dan kujawab basa basi “love you too”. Bagaimana tidak? Dia hanya pelacur, tak harusnya ada cinta. Karena hanya nafsu belaka.

Tertidur lagi dan bangun oleh telepon kamar yg berbunyi dan kuyakin itu dari resepsionis menanyakan tentang cek out kami. Astaga, semua tirai jendela terbuka. Pemandangan pegunungan dan hutan pinus yang indah. Sejernih pagi ini kami berdua. Tak banyak waktu dan kami pun bergegas pulang.

Kami berpisah di lobi, seolah kami tak saling kenal. Dia berjalan keluar dan kuamati dari jauh. Akupun menuju tempat parkir. Dari jauh dia menolehku dan aku menolehnya. Dasar pelacur murahan, kataku.

Grab pun menjemputnya dan aku mengambil mobilku. Aku pulang menyusuri turunan itu, kampung prostitusi tapi bukan komunitas vio. Aku gak tahu vio ber markas dimana. Tapi selalu ada untukku. Mustahil pelacur secantik itu tak laku. Tak konsentrasi aku, dan kubelokkan pada sebuah kedai kopi joglo itu yang ada di sebelah kiri jalan.

Para penjaja memandangiku, bak artis. Ada apa denganku bajuku? Rambutku? Ah masa bodohlah. Sepertinya aku benar-benar orang paling berdosa dengan perilaku yang seperti ini. Kapan kumulai bertobat. Ah, bertobat? Kemana kubertobat. Agama yang kucintai dan kuyakini saja telah mengucilkan keluarga kami. Adalah gaya ortodoks yang tidak lentur dengan problematika masa kini.

Masih capek badan ini, dapet gratisan tapi bikin kaki kesemutan. Sok perkasa saja dihadapan pelacur itu. Biasanya pelacur pura-pura merintih mesra dihadapan klientnya. Tapi tadi aku yang pura-pura mendesah. Padahal biasa saja.


Pada sebuah kedai kopi kumerenung, … diantara sekian pelacur, kenapa harus orang itu? Malas kuberpikir masa silam yang sungguh pahit itu. Tak tertarik untuk mengingatnya tapi sulit untuk menguburnya.

Apakah ini yang harus disebut menemani dalam suka dan duka? Dan mengapa juga harus selalu ada? Ah tidak juga. Bagaimanapun dia pelacur yang kutemukan di lorong jalanan kota. Dia sudah ditiduri oleh banyak orang.

Secepat kilat kutinggalkan problem itu dan fokus lagi pada pekerjaan yang kian menumpuk. Toh dia hanya pelacur jalanan dan pintar bersandiwara kepada semua pria hidung belang.

Walau siang, tapi masih tak begitu terasa panas karena baru turun separo dari ketinggian tadi. Lagian sudah kulampiaskan nafsuku kepada si pelacur semalam dan penat pada secanngkir kopi. Semutan pun mulai menghilang, nampaknya aku harus mulai menata pola makanku lagi.

Akhirnya Kupergi ….

Ke pulau dewata untuk suatu pekerjaan adalah kegemaranku. Disana adalah miniatur dunia menurutku. Banyak orang segala bangsa menjajakan uangnya disitu. Termasuk diantaranya aku. Semua potret dunia dengan segala kemaksiatan pun ada.

Mawar, bunga, dan suci adalah wanita-wanita yang ingin selalu mendapat perhatian lebih dariku. Selalu membuntutiku kemanapun aku pergi. Ya, karena semua partner kerjaku dan akupun harus profesional. Dia yang mengisi indah hari-hariku menjadikan aku masih bertahan ingin hidup. Kerja, makan, kafe, traveling dan musik adalah aktifitas rutinku di pulau indah ini. Tak terhitung berapa banyak uang kuhamburkan disitu untuk kesenangan. Dentuman bas dan irama dance memekati telingaku di setiap malam. Lalu lalang bule memamerkan tubuhnya mewarnai jalan legian. Namun tak mempan aku, karena masih terngiang pelacur itu.

Jalan seputar kuliner di sepanjang jalan raya kuta. Kuparkirkan mobil di depan supermarket balijaya yang 24 jam buka yang terkenal murah untuk minuman berlabel manca. Kuberlima berjalan menyusuri sekitar sambil menenteng biir adalah pemandangan biasa. Soto cakar, bakso soto wijaya dan babi bu dayu adalah kegemaranku. Hampir setiap malam tak pernah bosan. Tak seperti nyiyiran orang dikampungku yang membosankan.


Tak terasa sudah satu bulan di pulau ini, sepi dan jenuh berselimut lagi. Akhirnya kubuka lagi aplikasi online pemanggil pelacur itu. Kucari-cari wanita sesuai harapanku. Dan kulihat foto vio yang selalu tersedia dan ada waktu untukku. Kenapa dia lagi?? Ah tidak lagi. Disampingku ada mawar, bunga, kupu, rosa, dan vero yang semakin mendekatiku. Tapi tidak mungkin daripada merusak hubungan pertemanan. Teman lebih mulia bagiku. Karena di setiap saat bisa ada.

Eh, nyantol aplikasiku, kusandingkan dengan vio. Ah, … vio tetep nomor satu. Berselancar 15 menit lagi. Dan tak kudapatkan pembandingnya. Akhirnya pun kembali ke vio. Aku malu masih ngutang beberapa lembar kepadanya. Dan akhirnya dapat juga.

“Halo vi” chatingku kepadanya.

“Ya mas” balasnya secepat itu.

“Aku di seminyak bali, kamu dimana?” Tanyaku

“Aku tak jauh darimu, kebetulan lagi di Denpasar” jawabnya cepat.

“Ya udah, aku share lokasi. Aku di The Haven, tahu kan” jawabku

“Ya, vio dah tahu, karena pasti mas gak mungkin pindah tempat kalau dah merasa nyaman dengan suatu tempat. Demikian pula tentang wanita” tulisnya

“Dah, cepat ah” sahutku.

Dia datang dengan memakai bikini yang sepertinya aku pernah melihatnya. Tangan kirinya menenteng rokok. Yah namanya saja pelacur, begitu deh dandannya. Kulihat tak ada yang berubah, lesung dekik pipinya, pink bibirnya, kelopak mata bulat, gigi yang gingsul dan bicaranya yang kental medok.

Satu hal yang sangat berubah yaitu alis matanya yang menjadi sipit ala ala pelacur gitu. Alisnya tatoan dan pake bulu mata kebiruan gitu. Yang paling kubenci justru dipakainya. Agar kutahu kalo dia stres, ingin merebut pandanganku.

Kusamperi di lobi dan kutawarkan makan. Namun ia menolak dan lebih memilih pergi ke bar karaoke. Kami naik lift dan kuingat aroma parfumnya masih seperti dulu, aroma rempah. Kami pun masuk dan minum sambil menikmati live musik. Cukup 2 jam dan kuajak kekamar. Hingga habis aroma rempahnnya, tergantikan bau asap rokok dan alkohol.

Setengah lunglai badannya, sedikit tersengat 5% alkohol. Dulu sangat tidak menyukai, tapi kini setelah melacur selalu meminta alkohol jika bersamaku.

Kurebahkan dan astaga, payudaranya menyembul besar. Ingin ku menuainya dan rasa ini semakin tak tertahankan. Dia mulai memelukku mesra dan saat itulah kucumbui. Kuciumi wajahnya, masih seperti dulu tak mau ber make up tebal. Sayang, aku sangat terganggu dengan alis dan bulu matanya. Terganggu konsentrasiku dengan alisnya.

Berhenti sejenak, desiran ombak di kejauhan itu masih terdengar dari sini. Yah karena teras kubuka agar bisa memandang pantai doubel six seminyak. Udara pantai membawaku lagi ke alam mesum.

Kumulai lagi dengan kulumat bibirnya. Masih dengan warna merah muda transparan seperti dulu. Kuciumi pelan-pelan dan vio mulai on. Semakin memelukku erat hingga lipstik memudar tak berbekas. Bau rokok pun mulai hilang. Dia merokok semenjak jadi pelacur bahkan termasuk perokok hebat.

Kuambil dari tasnya, parfum rempah itu dan kusemprotkan pada tubuhnya. Aroma terhapy kesukaan kami. Kemudian kucari warna lipstiknya lagi, kuoleskan sedikit saja kemudian kuolesi yang transparan agar cerah. Dia masih enggan bergerak. Rupanya lunglai alkohol membuatnya nyaman.

Sambil kuraba dadanya semakin menggeliat-geliat usil. Kumasukkan tanganku kedalamnya hingga menyentuh puting dan memilinnya pelan. Desahannya menjadikanku semakin sedikit beringas. Dia melepas pakainnya dan kulihat puting yang mulai menegang. Tak sabar dia dan berbisik : “sayang, aku nggak kuat” katanya manja. Jawabku mendesah : “ya, pasti nanti sampai sayang, aku sengaja bikin yang lembut dan lama”

“Ohhhh …” desah singkatnya. Tangannya menundukkan kepalaku untuk melumat putingnya, dan semakin manja desahannya. Gak banyak gerakan, karena kami semua capek. Cukup berbaring dan terus meraba-raba saja. Semakin lama semakin tegang dan celanakupun mulai basah.

“Aku tahu kamu capek sayang” ucapku.

“Iya, tapi aku mau, … pingin banget” jawabnya.

“Sebenarnya aku yang undang kamu karena aku pingin sayang” jawabku sambil dalam pelukan.

“Sekali ini sayang, aku yang minta” sahutnya lagi mengiba mesra. Padahal bulan kemaren juga begitu.

Terganggu oleh banyak peswat yang mau landing atau take out dari bandara ngurah rai. Lagi-lagi desiran ombak mengangkat kami kembali.

“Oke, karena kita sama-sama capek kita selow di dalam saja” kataku. Yah, istilah selow di dalam adalah istilah kami berdua. Kami lakukan setiap kami capek, dimana hanya perasaan tingkat tinggi yang dimainkan. Tak butuh banyak pergerakan karena berangan fantasi.

Akhirnya kami pun mulai. Kami melepas semua baju dan tak sehelai kainpun menutup kami. Kami berciumam mesra, meremas dan sambil menggesek-gesekkan kemaluan kami. Tak kupaksa biarkan nafsu memuncak hingga cairan keluar membasahi. Fokus pada lumatan bibir, dan biarkan desahan. Hingga batang pun masuk dengan sendirinya tanpa dipaksa. Biarkan mengalir.

“Akhhh …. ” desah kami berdua. Biarkan, tak usah ada gesekan. Biarkan batang mekar sebesar-besarnya. Bertahanlah bersama sama. Hingga ilusi, bayangkan kecantikan kepeperkasaan pasangan. Berciuman terus dan klimaks pun terjadi secara halus.

Lagi-lagi kami terbangun bersama dan kali ini tertawa terbahak-bahak.

“Ha, ha, ha, … nakal” katanya

Dia menagih bayaran dan sisa kekurangan kemaren. Aku sarankan jangan pulang dulu.

“Tugasku selesai sultan, sekarang mana amplopku, termasuk kekurangan-kekurangan waktu itu. 3 x kamu lupa bayar aku. Ayo mana!!! … ” katanya sambil duduk dengan tegar ceria. Meminta menengadahkan kedua tangannya sambil bermanja-manja penuh iba. Rupanya ingin mengajakku bercanda malam ini. Dia curhat tentang capeknya, aktifitasnya, teman-temannya dan sebagainya. Gila, kami dalam kelakar yang luar biasa lepas. Kami terlibat perang bantal guling. Saling lempar hingga kamarpun berantakan. Seperti kerasukan leak saja.

Tak tahu, mungkin akuya salah dan tiba-tiba aku ngomong begini. :

“Aku bawa duit banyak, aku pingin lama bersamamu” kataku.

Vio terdiam membatu, seperti hilang mood atau ada yang dipikirkan. Kutinggal ke kamar mandi dan bikin teh. Kulihat masih terdiam dan kutinggal duduk di teras. Menambahku geram karena masih saja mematung. Akhirnya aku tak sabar dan mulai sedikit bernada keras.

“Berapa mintamu?” Tanyaku lagi dan masih terdiam. Kuputar chanel TV itu untuk meredakan ketegangannya.

“Kamu ada kencan dengan orang lain? Biar aku bayar” bentakku mulai cemburu, berpikir hal yang tidak-tidak.

“Jawab! Berapa lelaki telah menidurimu?” Kataku semakin menyerang. Dan lebih keras karena teringat masa lalu itu.

Tampaknya dia tahu aku mulai terusik masa lalu, sehingga dia menangis dan benar-benar hanyut dalam kesedihan.

Aku memang type orang yang tak gampang melupakan kepahitan masa lalu. Segala peristiwa suka duka sedih aku mudah mengingatnya. Jadi bahaya jika terbawa emosi dan berakibat dendam.

Kemudian kuhentikan omonganku kutunggu dan akhirnya vio pun buka suara. Duduk dan menunjukkan kelembutanya, yang kurindu :

“Mas, semenjak kita bercerai aku memang menjadi pelacur. Tapi tak satupun pria yang meniduriku kecuali kamu. Aku paham keanehan tentang mas, bahwa lebih suka pelacur daripada aku. Untuk itu aku pelajari semua apilkasi agar mas bisa pilih aku. Dan aku selalu memperhatikan setiap mas kemana aku dilokasi terdekat. Agar pelacur yang mas cari adalah aku, percayalah mas” jelasnya.

Kuterdiam seribu bahasa, apa yg harus saya ungkapkan. Apakah aku akan mempercayainya begitu saja? Ah tidak mungkin. Memang dia dulu istriku. Namun karena pekerjaanku seniman menjadikan orang tuanya gak setuju dan mengusirku. Aku dekat dengan dunia malam dan penghasilan pun sangat pas-pasan. Aku pemain orkes dangdut dan dikerubingi banyak wanita pesolek. Kumenyadari godaan tinggi di duniaku itu.

Kepadanya kujawab begini : “Aku sangat percaya kepadamu dari dulu hingga saat ini kau berdiri. Kamu wanita yang terhebat yang aku kenal seperti ibuku. Dan jika kau pingin tahu aku masih mencintaimu sampai dengan saat ini kau didepanku. Dan akupun masih bisa memiliki tubuh indahmu walau tanpa restu keluargamu dan berbayar,” kataku sambil nyruput kopi.

Kini tubuhmu menjadi pascabayar, dan aku jadi pelanggan setiamu. Ijinkan aku prabayar saja.

“Namun, … ” lalu dia menaikkan dahinya saat ku mengatakan ini, kaget mestinya. Dia gusar sambil kuberpikir mencari cara yang pantas untuk mengutarakannya agar tidak menyakitinya.

“Bukankah sebaiknya kamu membuka diri untuk orang lain agar singgah dihatimu? Seperti aku yang pernah menerima orang lain dikehidupanku selain kamu” bicaraku hati-hati kepada pelacur itu.

“Apakah ini berarti kamu sudah tidak mencintaiku?” Sahutnya

“Jangan bicara seperti itu tentang cinta. Berapa kali aku menidurimu dari dulu hingga sekarang kamu menyamar sebagai pelacur. Apa kau meragukan kesetiaanku?” Kataku masih hati-hati. Karena sedang sensitif.

“Bukan itu maksudku” katanya dan segera kupenggal penjelasannya. Kudekati kupegang kepalanya demikian :

“Terima kasih, vio sayangku, … perhatikan aku, tatap mataku (sambil kudekatkan wajahku). Aku membuka aplikasi itu. Banyak wanita didekatku. Banyak wanita yang ditawarkan kepadaku. Yakinlah, tidak ada yang aku kencani, kecuali kamu, percayalah kamu vio?” jelasku. Dia semakin menangis sedu dan suasana tambah haru. Cucuran air mata semakin deras. Tapi tidak denganku, aku tak cengeng itu.

Apakah memang yang dipersatukan allah tidak bisa diceraikan oleh manusia kecuali maut yang memisahkan. Pengadilan negara yang menceraikan kami, bukan Tuhan. Pelacur itu dihadapan-Nya masih istriku. Namun negara memutuskan kami telah berpisah. Untuk itu aku pun menghargai semua. Menghargai negara dan Tuhan. Aku percaya Tuhan namun tak menuhankan agama. Entah apa yang kami anut tak perlu kupersoalkan. Dan aku akan hidup menduda hingga akhir ajalku. Aku belum mau utarakan itu kepada vio. Takut menyakiti perasaanya maka kuurungkan saja cari waktu yang tepat.

Biar ku lanjutkan saja hubunganku kepada pelacur itu. Profesional dan sah tanpa ada yang dirugikan. Tetap bayar tapi tanpa aplikasi lagi. Aku juga tak mau mengekangnya.

Hari semakin malam dan kuusir secara halus agar vio segera pulang. Dan akhirnya vio pun tak kerasan, barangkali tahu kode kerasku. Walau di dalam hati sejatinya aku masih ingin berlama-lama bersamanya. Tapi ini tidak baik baginya. Agar kami tidak hanyut dalam hubungan lancang kedua kalinya.

“Terima kasih penjelasanmu, dalam kondisi apapun, dalam suka ataupun duka aku tetep akan mencintaimu. Aku paham dan mengerti maksudmu. Pasti nanti indah pada waktunya” harapnya.

Kemudian dia lanjutkan penjelasanya sambil membawa dua kelopak bunga kenanga mendekatiku. Satu untuknya dan satunya mengenakanya di telingaku sambil berkata : “kenanga ini menjadi saksi kita bahwa kita masih ada bersama”

Kami diam sebentar, vio berjalan-jalan mengitari ruangan dan minta ijin : “ijinkan aku tidur bersamamu lagi malam ini, besok pagi baru aku pulang. Dan tak tahu harus kemana, karena aku hanya selalu mendekatimu tak jauh”

“Iya, gak apa-apa” jawabku singkat. Karena sudah mulai ngantuk. Kami pun dalam rebahan tidur bersama. Dia sudah hafal dengan posisi tidur yang kuharapkan. Berpaling membelakangiku, tangan kiriku dibawah leher memeluknya sedangkan tangan kananku masuk menggenggam payudaranya. Kaki kanan pun tak luput, dijepit oleh kedua kakinya tepat menyangga selangkangnya. Dijamin hangat sampai pagi baru terbangun.

Pagi benar kami terbangun dan pasti secara bersama. Dia pinjam hpku karena lupa tak bawa charger. Charger kami beda, karena hp vio type lama. Begini ucapnya :

“Mas baik sama vio nggak? pinjam hpnya boleh. Buat manggil gojek, hpku mati” rayunya kepadaku.

“Oiya, boleh pasti pake saja” kataku

“Aduh, dipasword ya. Gak bisa deh” katanya lagi

Bingung kumenjawabnya, kalau kujawab pasti dia berpikir apa tentang aku. Akhirnya kujawab : “masukkan saja angka 02051980” tuntunku.

” hahh … yang benar, … bukankah itu hari perkawinan kita dulu? Astaga … kau masih mengingatnya?” katanya. Kuterdiam gak kujawab.

Vio tambah bengong menatapiku semakin enggan pulang.

Akhirnya dia memanggil grab pakai hpku. Namun tiba-tiba kulihat dia serius membaca hapeku. Seperti ada yang tak beres sambil memandangiku. Aku jadi takut pasti ada yang tak beres dengan yang dia baca.

“Ini ada pesan singkat manggil sayang siapa dia?” Tanyanya

“Oh, nggak …. nggak … itu … itu … temen cowok kok” jawabku gugup semakin meyakinkan kalau aku berbohong. Vio tak sebodoh itu. Dia dikaruniai insting yang luar biasa tentang aku. Seperti malaikat keduaku.

Dan ternyata itu onel cinta pertamaku dari desa yang kirim pesan memanggil “sayang”.

Vio pulang dan masih menunjukkan kedewasaanya. Menutupi amarahnya dan tetap tegar, itulah vio.

ONEL

Sementara onel yang sudah beberapa tahun menghilang kini menampakkan diri kembali. Sudah kupastikan sedang kalut tentang keluarganya. Iya, onel bunga desa cinta pertamaku dulu. Dia kucampakkan begitu saja setelah lama tak berkabar. Dan seperti itulah dia, bagai bunga musiman. Tiba tiba tumbuh pun kadang lenyap ditelan bumi. Kebiasaan itu sejak kami ingusan pacaran masih berseragam biru tua. Jadi siapa diantara kami yang selalu menggantung tanpa kepastian. Tak tahu jawabnya. Bisa aku bisa dia.

“Aku butuh kamu besok di tempat seperti biasa habis ku kerja” cukup seperti itulah pesannya.

“Aku butuh kamu besok di tempat seperti biasa habis ku kerja” cukup seperti itulah pesannya. Dan tak bisa tidak, karena sudah menjadi komitmen. Paling setahun atau bahkan 2 tahun sekali kami bersua. Kalau ketemu ya, seperti layaknya suami istri.

Dulu menangis bukan main saat kutinggal menikah dan berjanji mau hidup sendiri atau menungguku menduda.

Lebih dari itu, kami pernah mencemplungkan diri bersama ke dalam sungai. Sayang tidak jadi mati.

Dia menikah sebelum ku akhirnya menduda. Sempat bertemu sebelum menikah dan berucap begini :

“Aku mau menikah, tapi aku tetap menyayangi kamu. Aku hanya ingin status untuk menyenangkan keluargakh. Hanya kamu satu-satunya di sanubariku. Aku akan mencarimu jika aku membutuhkanmu dan kamu harus mau temui aku. Istrimu harus tahu diri, tak boleh menghalangiku. Karena dia telah merebut kamu tanpa hormat. Dan hanya aku dan kamu yang tahu rahasia itu” ancamnya.

Vio tahu kondisi ini dan dia hanya diam tak menghalangiku, itulah kebesaran hati vio.

Jujur, aku berterima kasih. Onel mendapat pasangan yang sungguh serasi. Suaminya sangat menyayanginya. Mereka dikarunia 5 orang anak. Keluarganya sangat harmonis. Tapi sedikitpun aku tak iri tapi sungguh senang melihatnya. Aku tak membenci suaminya sama sekali.

Kutanyakan tentang keberadaanku dihati onel, kepada suaminya dia sudah bercerita tentang semuanya. Aku sangat tak berharap datangnya onel yang mengusikku. Tapi dia yang justru ingin menemuiku. Yah apalagi kalau tidak tentang permainan sex itu.

Bersambung …