Prasetyaku

Bersyukurku diberi nama oleh orang tuaku Didiek Prasetya. Beliau berharap aku selalu prasetya (memegang janji).

Janji apapun termasuk janji pernikahan yang sakral dan kudus. Walau pernah luput olehku. Kini kutuangkan dalam lagu berjudul Prasetya.

Kanggo kowe : “Aku wes ra arep macem-macem mergo kowe wes genepi uripku. Dadio malaikatku”

Prasetyaku cipt. Didiek Buntung

Cukup sayangmu marang aku
Ra sah nambahi sakwernomu
Ngertio, prasetyaku
Nganti putus umurku nggo sliramu

Biru wenteran sih bisa luntur
Katresnanku sing rabakal luntur
Atiku kasep manjing
Tekan tuo pinginku tetep nyandhing

Reff.
Cukup ngene rasah ngreridhu
Aku wes tentrem cerak awakmu
Ojo nganti mbok gawe tatuku
Dadio … Malaikatku

Tenang tulung tenangno pikirmu
Mengko bakal tak sayang pipimu
Kowe wes gawe genep uripku
Menengo, ojo gawe aku gelo

Misa Ekaristi Virtualku

“… siapkan kuota yang cukup dan ketersediaan jaringan internet …”.

Demikian kudengar melalui youtube yang selalu kumode ‘on’ kan hingga mengusik sanubari untuk melanjutkannya. Kulihat imam berjubah putih dengan stola berwarna ungu membacakan aturan mengikuti misa online. Kuikuti dengan serius dari studio musik tempat bercengkaramaku 24 jam. Kutanggalkan sejenak aktifitasku dan sedikitpun aku tanpa nyambi kegiatan apapun selain hanya memandangi tabernakel di belakang altar itu. Ini seperti meja hijau penghakimanku, pikirku.

Ku maksimalkan layar LED 4 kotak menjadi screen persis didepanku dengan audio surround seolah benar-benar aku berada di depan altar. Benar-benar kumencoba masuk mengikuti prosesinya. Napas tersengal melihat apa itu? Pernah mengenalinya, dan seakan misteri menjadi tak ingin ku sedikitpun melewatkannya. Rasa penasaranku berkecamuk dan kupadamkan lampu agar lebih cinematik. Ohh … , lebih hikmat, khusuk dan sepertinya ada algojo mengawasiku dari belakang sana siap dengan cambuk dan pedangnya.

Sepertinya sulit merasuk kedalam batin ini, mengingat kegersangan jiwa yang sedikitpun tak pernah kupupuk. Logika selalu mendahului hatiku bahkan ingin menguasai sepenuhnya. Untung niat ini lebih kuat, sehingga mampu meredam daya nalar itu. Karena jiwaku haus , kering dahaga, laksana rusa mendamba seteguk air. Air yang kini habis untuk cuci tangan. Semua manusia beramai-ramai cuci tangan karena takut ajal.

Lantunan nada indah yang sudah pernah melekat itu mengggugah birahiku untuk semakin menyimak. Bersahutan antara pastur denganku, walau kadang kumelodikan dalam batin. Menjadi satu dan lentur, pori-pori jiwa mulai terbuka menerima urapan sabda. Bagai air segar menumbuhkan humus yang telah lama lapuk tertimbun kerasnya kepala. Semakin dalam dan tak sadar aku dimana sejatinya tubuh ini. Yah, ternyata aku bersamaNya. Aku tahu setelah sadar pipiku basah karena tetesan air mata. Air mata yang sekian tahun membeku. Mengapa mencair dengan sendirinya. Terpaksa karena ternyata akupun takut ajal menjemputku.

Ahhh … Kulihat ternyata mereka bukan algojo, bukankah mereka malaikat Tuhan yang sangat ramah murah senyum? Oh damainya hati ini. Aku merasa ada urapan yang entah bagaimana rasa ini pernah ada. Tolong jangan segera sirna kesempatan ini. Aku sendiri, bersama malam penuh bintang kulihat diluar sana. Kutengok dari jendela seperti kota mati tak ada pergerakan, kecuali di layarku. Aku benar sendiri dan hanya bersamaNya.

Aku kini tak malu karena aku disini sendiri, lepas dari cibiran mereka yang sekian lama terus menghantuiku. Kecamuk memprovokasiku untuk mendendam.

Komuni Batin

Saat komuni batin, kusenandungkan lagu ini yang sudah lama kuidamkan “kulo adreng, badhe nampi, Saliro Tuwin Rah Dalem, manah ngantu-antu Gusti, kang paring kabegjan jati, Enggal Rawuho Gusti” yang sangat kuhafal diluar kepala.

“Tuhan datanglah secara rohani ke dalam hatiku” bisikku membayangkan sakramen itu.

Yah, aku mulai memanjatkan terus, puji dan syukur, tentang semua dan semua yang lama kupendam. Panjang dan lama sekali hingga setengah tidurku melayang hampir gelimpang. Semoga Tuhan menerima doaku, mengingat aku masih tak yakin dengan tanda salib yang aku buat tadi. Sepertinya salah dan terbalik, tak ada yang melihat dan menegurku karena kusendiri. Berapa tahun tanda itu tak kujejakkan. Ah entahlah yang terpenting rinduku terobati dan doa kumadahkan.

Aku tahu misa streaming ini tak bisa menggantikan sakramen ekaristi. Tapi akankah berlanjut ‘komuni batin’ ini? Dunia memang misteri. Kali ini aku mengambil kesempatan menghadirkan tubuh Tuhan dalam batinku.

Kali ini aku mengambil kesempatan menghadirkan tubuh Tuhan dalam batinku.

Sandal Jepit Sangklir

Tak seperti bisasanya, aku benci komuni yang dulu itu. Karena yang terjadi adalah saya hanya duduk menyesali diri saat mereka komuni. Aku hanya sandal jepit, itupun sangklir lusuh dan pernah bedat (putus). Tak layak ditempatkan didepan, cukup ditaruh dibelakang, walau sejatinya selalu dipakai.

Aku hanya sandal jepit, itupun sangklir lusuh dan pernah bedat (putus).

Kala itu, tiba penerimaan sakramen, aku terpaksa duduk berdiam diri mendengar ‘auto pagging” dari orang yang benar-benar suci menggemakan himbauan : “Yang diperkenankan menerima Komuni adalah mereka yang sudah dibaptis atau yang sudah diterima secara resmi di dalamnya, sudah menerima Komuni Pertama, dan tidak mempunyai halangan

Kumenyesali atas dosa besar yang pernah kulakukan dan hanya berdiam diri tanpa beranjak sedikitpun. Kusadar akan sandal jepit sangklir yang kukenakan. Beberapa orang disebelahku sudah mulai bangkit berdiri dan menyapaku, “permisi mas, apa nggak komuni? …” katanya sambil melangkah kesulitan didepanku, gang yang sangat sempit.

Aku hanya menggelengkan kepala. ” …. ” Entah karena keluguan atau kejujuranku. Aku merasa tidak beres dengan diriku. Lebayyy … iya terserah eloe …

Sementara semua berbaris antri maju, hanya kami yang tersisa beberapa gelintir saja. Adalah penghakiman yang kejam, karena mereka semua hanya melirik dan ‘mbatin’, dosa apa yang diperbuat? Mereka tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi, dan aku sangat ingin mengklarifikasi tapi tak kuasa. Maaf, kok tiba-tiba malah teringat lagu ‘Tatu” karya Didi Kempot : “Opo aku salah, yen aku kondho opo anane…”

Kuterima saja, kemudian mereka kembali ketempat duduk dan lagi-lagi ada pertanyaan “permisi mas, apa nggak komuni? …” katanya sambil melangkah yang kedua dan tak perlu kujawab.

Dari kejauhan, kulihat ada ‘begal’ yang pun ikut dalam barisan komuni itu. Mengapa ia sudah boleh menerima? Mungkin sudah ada penebusan dan pengakuan atas dosanya. Atau jangan-jangan ada orang dalam yang berhasil menggeretnya? Ah, biarkan itu urusan mereka. Aku masih bersikukuh dengan kekurangpantasanku.

Misa Online Berlanjutkah?

Semoga misa virtual secara online ini masih berlanjut tak berhenti hingga karena korona menghampiri. Kami adalah sang pendosa, namun berusaha tetep setia. Kami perlu di sapa dan sadar akan keselamatan dunia akherat. Menunggu jawaban sambil membenai sandal jepitku, yang sangklir kucat ulang agar terluhat sama kanan dan kiri. Yang bedat atau putus kusambung lagi menggunkan kawat yang dilelehkan agar seolah utuh.

Walau sakit rasanya jika kupakai, tidak melulu sarana baru untuk hidup baru, biarkan sakit itu merongrong jiwaku. Aku yakin Gusti akan menggandakan anti body yang ada dalam diri hingga sakit itu menjadi tidak terasa karena buah penebusan.

Berkah Dalem.

Ratu Sejagat

Cipt. Didiek Buntung

Dino iki rep tak sandhing sliramu
Susah bareng, … seneng bareng, wes ben karo mlaku
Kowe bakal dadi sigaran nyawaku
Igaku, … atiku … dadi pilihanmu

Cewek :
Dhewe tak gadhang langgeng tekan tuwo
Aku tibo, … aku loro, … tulung mbok tangekno
Sedino iki ngundang kabeh bolo
Kowe Rojo … aku sing Ratu …. Ayo padha pesto

Reff
Cowok :
Ngono manjamu
Sak karep-karepmu
Polah gaya mu
Koyo Ratu Sejagad

Cewek :
Seneng atiku
Wes dadi bojomu
Ambruk aku, cium aku
Kabeh ki duwekmu