Roti Tanpo Ragi

Hidup adalah proses, album lagu ini cukup mewakili separuh perjalananku. Aku memanfaatkan sela waktuku untuk mencurahkannya. Saat kerja, main, duduk, makan, mandi dll. Desain ini pun hanya dari hp yang kupegang di angkringan kucingan sambil nyruput susu jahe anget. Simpel bukan?

wanci_Gusti adalah lagu cover bhs jawa atas saran temanku yang skrg jadi pendeta. Beliau yang menguatkan dan memotivasiku. Teringat cerita itu, tentang perjalanan nabi soleman.

Melodi lagu #tds_Kendalisodo kudapatkan saat berdevosi disana. Letihnya perjalanan yang terjal, terbayarkan segera saat setelah bersujud di kakinya. Lereng lembah tuntas kudaki. Terpampang tulisan “Datanglah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu”.

roti_tanpo_ragi Membuang ragi dari rumah kita memberikan kita suatu pelajaran penting yang kita harus kerjakan dan tantangan yang harus kita hadapi, yakni membuang dosa dari kehidupan kita. Ragi yang seringkali sulit ditemukan mengingatkan kita bahwa kita perlu memeriksa dosa itu secara seksama di dalam hidup kita, bertobat dan mencari pertolongan Allah untuk membuangnya. (Copas gogel)

Lagu #wanci_syukur mengingatkan kita agar senantiasa bersyukur. Bahagiaku sederhana kok, yaitu saat bangun pagi masih diberi kesempatan menghirup udara ini. Walau kita menghirup udara yang sama, namun belum tentu perasaan kita sama. Kugali dari laguku yang sudah lama bersama MAS choir.

Aku gak pede untuk mempublish lagu #Gusti_ra_sare. Bolak balik kuganti lirik dan irama. Namun masih jelek menurutku. Lagu ini sudah lama tapi aku selalu menundanya. Baiklah untuk pelengkap album saja tak usah didengarkan. Demikian aku, dilahirkan untuk melengkapi dunia ini. Penuh salah dan dosa.

Uniknya album ini, karena tanpa konsep dalam pembuatannya. Alias sak-sake disela kerja. Itupun kalau ada kerjaan. Begitu suwung langsung take, gasss semangat menggebu. Tiba-tiba terhenti karena jadwal dan moody.

Oiya ada satu lagu yang belum pasti kukeluarkan yaitu #wanci_eling. Bercerita tentang kekonyolan teman-temanku. Dari dulu hingga sekarang selalu dekat dengan permainan kartu dan alkohol. Dulu teman geng plesir sekarang asrama.
Ada lirik yang menggelitik “bendino cekelane hp miring ombenane cap topi miring, penting tansah eling, ben ora sinthing”.

Ada lagi “bang kumis, matine dino kemis, mergo ketiban linggis, getune ora wis uwis, sing layat ra podho nangis, durung nganti dibabtis” adalah selorohan saat itu.

Demikianlah aku, entah apa yang telah mereka pikirkan. Sampah masyarakat atau pun apa kek terserah. Yang penting ingin mengisi sisa usia ini dengan yang lebih baik.

Kembang Soka (press release)

Press Release

Dari sekian lagu hasil ciptaannya, kali ini Didiek Buntung mencoba memaknai sebuah bunga yang melambangkan kecantikan wanita.
Bunga ini tidak selalu dibicarakan kebanyakan orang atau tidak nampak terselip saat momentum pemberian hadiah, namun ternyata memiliki makna yang dalam, Bunga Asoka.

Persis di depan rumah masa kecil Didiek Buntung, tumbuh beberapa tanaman bunga soka yang sering berbunga lebat, rontok kemudian berbunga kembali, seolah tidak mengenal musim. Setiap hari dapat dipastikan orang yang mendatangi rumah ini dapat melihat keindahan bunga ini.
Sesuai maknanya Bunga Asoka memiliki aura tegas, salah satu bunganya berwarna merah menyala, lambang kebahagiaan dan namanya diambil dari bahasa sansekerta yang memiliki arti terbebas dari kesedihan. Asoka juga memiliki banyak nektar sehingga mengundang kupu-kupu untuk mendekat. Seperti halnya bunga-bunga lain, yang bisa dipergunakan untuk persembahyangan, konon kabarnya bunga asoka dipergunakan untuk penghormatan kepada Dewa-Dewa, yang menjaga keberlangsungan alam semesta beserta seluruh isinya. Penggunaan bunga Asoka ini selain sebagai lambang penghormatan, juga harapan akan tercapainya kedamaian jiwa, jauh dari kesedihan dan derita. Sehingga yang tertinggal hanya kebahagiaan di dalam setiap hati manusia.

Inspirasi ini menggugahnya untuk bermain dalam melodi-melodi cantik bergenre pop jawa yang dibalut dengan kata-kata kisah cinta, yang di dalamnya mengandung arti; seseorang yang menemukan orang lain untuk menjadi belahan jiwanya karena keberadaannya dapat mengusir kesedihannya selama ini dan membuat hatinya bahagia.

Harapannya dengan situasi negeri saat ini, semoga lagu ini dapat menginspirasi banyak orang, yang sedang sedih, galau atau patah semangat untuk menemukan satu kebahagiaan yang pasti akan ada. Bagi masyarakat yang ingin menikmati lagu ini dapat kunjungi ke youtube channel Didiek Buntung Official.

“Karena berkarya pun tak mengenal usia, maka kuterus mencipta, menembus ruang batin yang tersisa”. Semboyan hidup yang terus mengawal semangat Didiek Buntung dalam berkesenian, semoga dapat menggugah semangat kita tanpa menyerah dengan keadaan.

‘VILLA’ itu

‘Villa’ #Gabut

Ini villa kubangun tahun 2004 diatas lahan seluas 1500 m2. Terdiri dari ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan kamar tidur.

Villa

Sayang hanya sebentar kami menempatinya karena setiap sudut terasa kurang nyaman. Kamar tidur terasa panas, karena atap genting yang terlalu rendah. Dapur sumpeg karena sirkulasi udara tidak ada, ruang tamu terlalu sempit karena hanya sisa space. Kamar mandi kubuat luas sekali agar nyaman namun tetap saja gak berfungsi. Karena lantai yg kupilih salah hingga sering kepleset jatuh. Ada lagi septictank juga kubuat dalam dan seluas mungkin agar bisa menampung puluhan tahun namun baru seminggu sudah tersumbat.

Ada sisi lain yang indah, yaitu tampak luar. Atap menyentuh genting, dinding kayu jati berlapis, batu bata belakang yang meringis ala bali, dan teras berupa gebyok asli yang ku cat warna warni bersama perupa wayang. Artistik, unik dan klasik. Tampak luar memang demikian bagusnya. Setiap orang lihat. Wuih bagus mantab siapa yang punya? Setiap hari kuberhasil mengelabui mereka agar tampak bagus dan sok tegar.

Yah karena memang saat ku membuat kuhannya mementingkan looknya saja tanpa memikirkan matang segi fungsi di dalamnya. Jiwa mudaku yang terlalu ambisius tanpa berkonsep waktu itu.

Sayang seribu sayang, terhitung hanya 1 atau 2 bulan kami menempati dan pergi tanpa kembali. Beberapa masalah hadir. Kurenovasi pun percumah karena harus merombak total. Apalagi sekarang, sempat kutengok sudah penuh dengan rayap. Beberapa soko sudah melapuk. Membahayakan seluruh penghuni jika tetap kutempati. Bisa-bisa roboh dan menimpa kami semua.

Tetangga nyelethuk : “Robohkan saja dari pada membahayakan semua termasuk kita” katanya.

Biarkan menjadi lahan kosong dan kudirikan ulang.

buntungsuwung

Rain in May

Rain in May

“Kriiingggg…kringggg…..kringgggg” mataku masih berat terbuka, meski separo badanku mulai terbangun, kugerakkan tanganku, meraba-raba sekitar, meraih sumber suara yang membangunkan aku dari mimpi

“Kriiingggg…kringggg…..kringgggg” seolah bertambah pekak mencuri perhatian telinga dan mataku untuk menggapainya

“Kriiingggg…kringggg kringgg…..kringgggg” kali ketiga dan gerutuku mulai terdengar “arrrrgggghhh….beker sial” sambil memencet kuat-kuat tombol untuk mematikan suara

Aku terduduk, mulai membuka mataku, menggeliatkan tangan dan badanku sambil menguap melepaskan penat-penat dan malas yang masih melingkupi. Pagi menyapa, menggantikan kantuk mataku dengan pandangan baru, mengalihkan lelah tubuhku dengan segarnya udara pagi. Iyaa…hari baru datang, aku melihat sekeliling dan aku masih seperti kemarin, berada di ruangan ini berteman dinding yang selalu setia memperhatikan aku, menghangatkan tubuhku dari batas dingin di luar bangunan ini, tanpa protes melihat apa saja yang aku lakukan, dan memberiku ketenangan dari bisingnya lalu lalang jalanan. Aku tersenyum menyadari keadaan ini, dan beranjak meninggalkan selembar alas tidurku.

Kubuka kaitan jendela yang sengaja kubuat tidak terlalu kuat mengunci, dan segeralah percikan air dari hempasan angin menggoda kulit wajahku.

“Apa, kamu butuh perhatianku juga, sampai membuat mataku terkaget?” kubiarkan basah lebih lama berada di sekeliling kening dan hidungku.

“Ahhh….ternyata hujan masih setia sampai pagi ini” ujarku sembari membuka telapak tangan dan menerima tetes-tetesan airnya

“Kemana perginya mentari? Heiii….kamu tidak perlu sembunyi, hujan sudah menemaniku sejak semalam dan membuat nyenyak tidurku, sekarang aku rindu hangatmu!” protesku sembari mencari di antara awan-awan pucat di atas sana.

Aku yakin dia mendengar, “mana ada yang tidak rindu bertemu dengan aku barang sehari saja?”, batinku sambil tersenyum menggodanya 

Sekejap aku memejamkan dua kelopak mataku, menarik udara dingin sebanyak yang aku mau ke dalam paru-paruku, dan menghembuskannya seringan mungkin, menghalau apapun yang ingin hinggap di pikirku pagi ini, aku ingin merasakan kekosongan dan menikmati keadaan pagi ini; satu detik, dua detik, ………lima detik, sepuluh detik…., lima belas detik, 

“cukup perintahku”, kubuka kembali mata ini  dan aku menemukan damai, 

“terima kasih pagi” senyumku sembari meninggalkan daun jendela yang terbuka, mengijinkan angin pagi memenuhi ruanganku.

Kutarik tubuh gempalku menuju luar ruangan, bersapa dengan kawanku yang sudah berkeringat mengerjakan sesuatu,

 “hei….nikmati pagi ini dulu, jangan terlalu keras dengan dirimu” sapaku sambil tersenyum dan menuruni anak tangga.

“Pagi katamu? Ini sudah siang bro, mungkin alam mimpimu terlambat membuatmu bangun” serunya di antara terdengar jelas atau tidak di telingaku.

Kulewati deretan pintu-pintu di lantai bawah, masih tertutup rapat dan belum ada tanda kehidupan dari pemilik kamar.Kubayangkan mereka masih meringkuk dibawah selimut, menenggelamkan diri dengan bantal, dan membuat hangat tubuhnya agar bisa tetap terlelap dalam tidur. Jika kubuka pintu-pintu ini, aku akan mendengar seruan-seruan protes menggerutu bersautan dengan nyanyian dengkuran mengalahkan teriakan minta tolong atau jeritan anak bayi menangis. Aku tak menghiraukan lagi pikiran usilku. 

Beranjak ke dapur dan aku terkaget dibuatnya. Ruangan favoritku dengan kawan-kawan sudah bersih pagi ini. Deretan gelas, cangkir tertata rapi sesuai bentuknya, piring, sendok dan panci kotor sisa masak semalam sudah bersih dan berada di tempatnya. Sisa-sisa puntung rokok dan isian asbak telah pindah ke tempat sampah. Ku ambil cangkir kegemaranku dan segera kuisi air putih hangat yang menjadi rutinitas pagi, dua cangkir cukup. 

Beruntung sekali pagi ini, setelah melawan malasku saat bangun, mendapati tempat favorit bersih sekarang aku bisa menikmati pagi tanpa kebisingan dari suara penghuni disini. Kicau burung-burung gereja, suara salakan anjing tetangga, dan kokok ayam dari belakang rumah, sesekali terdengar menemaniku dalam lamunan. Kuhempaskan pantat ini di salah satu sofa hitam, memposisikan nyaman di badanku, sembari jari di kedua tanganku asik menarik-narik rambut di janggutku, pikiranku berkelana, merindukan suatu masa yang telah lalu, mengingat-ingat segala kenangan yang sekarang aku tertawakan karena kebodohanku waktu itu dan kecerobohanku, lalu beralih membayangkan suatu keadaan yang aku impikan, damai, tenang, berelasi dengan kawan atau orang-orang baru, bertemu keluargaku yang aku rindukan, tertawa bersama dan aku ……..

“plak…” sebungkus rokok mendarat di samping pundakku

“apaan sih!! Bikin orang kaget tau, untung aku…..”

“makanya jangan suka ngelamun pagi-pagi!! Mimpi apa semalam haaaa…..sampai kamu pikir-pikir terus? potong Panji

“jangan-jangan dia ngelajor? Ngelamun jorok” timpal Aden 

“Hahahahahaaaa…..” kompak suara sekelompok laki-laki tertawa puas menimpali kalimat Aden dan Panji

“Kalian apaan sih, ganggu mood orang aja, huuu” sahutku sambil akan beranjak dari sofa

“Eh….bro, mo kemana? Tanya Dimas sambil memegang bahuku.

“Sudahlah disini dulu, tadi pesanmu kita harus menikmati pagi, jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri, ya sudah mari kita ngobrol-ngobrol bersama” lanjut Dimas sambil mendudukan aku lagi 

Kuhempaskan kembali pantat ini, tidak aku tidak sedikitpun aku marah karena mereka mengganggu pagiku. Bagiku ini adalah bagian dari awal hari yang sayang jika dilewatkan.

“Betul itu Dim, kita nikmati sisa dingin hujan pagi ini, sambil minum kopi, sebatang rokok dan bercengkrama” susul Panji sambil mengucurkan air panas ke cangkir berisi kopi hitam.

“Aden, tolong bawakan gitarnya, biar Mario yang pagi ini menghibur kita, setuju kan” timpal Dimas

“Oke brooo…..kalian mau lagu apa, roman-roman gitu atau gimana?” jawab Mario

“Terserah kau sajalah, yang penting ini tempat tidak sepi seperti kuburan, bener ga?” balas Panji

“Sepakatttt….” tukas yang lainnya kompak

Sebenarnya aku sangat paham kebiasaan pagi ini. Kebiasaan yang tanpa sengaja terjadi. Bangun tidur, berkumpul di dapur, membuat minuman kegemaran masing-masing; Panji dan Dimas senang minum kopi hitam pahit, Aden dan Rahmat teh panas manis, Mario dengan coklat panasnya, dan aku cukup air putih hangat. Kemudian saling duduk melingkar, menyalakan puntung-puntung rokok, bermain gitar, mendendangkan lagu tanpa khawatir hafal lirik lagu atau nada yang fals kemudian berlanjut dengan berbagi cerita tentang kejadian kemarin.

Cerita tentang kerinduan dengan keluarga yang jauh, tentang teman kerja yang menjengkelkan, tentang gebetan yang susah didekati ternyata sudah punya kekasih, tentang motor yang ditabrak angkot dan sopirnya pergi, tentang seksinya penjual warteg sebelah dan masakannya yang lezat, tentang pak rt yang tiba-tiba narik uang iuran, tentang anjing tetangga yang buang kotoran di depan halaman, tentang konser kla project besok lusa, tentang keponakannya yang baru lahir, tentang piutangnya yg belum dikembalikan, tentang jerawat, tentang rokok termurah di warung kelontong, dan masih banyak lagi. Aku selalu ingat gaya mereka bercerita, membuatku kaya akan kesimpulan dan refleksi diri. Aku belajar dari keseharian kita yang sederhana, yaitu saling menyapa tidak peduli apa yang dirasakan teman yang ditemuinya, sehingga saat aku merasa sedih atau memiliki masalah lain, sapaan mereka yang sering konyol membuatku ringan menyelesaikan rintangan.

Penghuni rumah ini, telah hampir dua tahun bersama. Kita bertujuh, namun belum lama ini salah satu keluar. Kita berasal dari latar belakang keluarga, agama, suku dan kebiasaan yang berbeda. Ada yang anaknya orang kaya namun tidak sombong, ada yang bapaknya tentara dan sangat keras mendidik, ada yang berasal dari keluarga broken dan merasa minderada yang berasal dari tanah karo dan kesulitan saat berkomunikasi karena maksudnya berbeda, dan masih banyak perbedaan lainnya. Tapi apa yang kita dapat? Persaudaraan dan kebersamaan. 

Kulangkah kakiku keluar dari bangunan dua lantai ini. Dominasi warna putih dengan tanaman di halaman depan dan pagar hitam yang tinggi, menampakkan gaya pemiliknya yang modern. Sambil merapikan kemeja dan rambutku, kuingat kembali saat pertama memasuki rumah ini, bahagia dan penuh harapan dalam menjalani aktivitasku. Sadar, waktu akan terus berjalan, namun aku tidak pernah sendiri, meski jauh dari keluargaku tapi aku menemukan keluarga kedua. Mereka di sekelilingku, dengan sadar menatapku, mendengarkan aku, memahamiku dan menemani hari-hariku, tanpa menuntut aku menjadi seperti yang mereka mau. Karena mereka menerima aku apa adanya.

“Hari ini akan aku lalui, esok yang datang juga akan kusongsong, selamat datang harapan baru, tetap temani semangatku”, pupukku dalam pikir sebagai doaku

Sendiri tidak akan berakhir sepi. Dan sepi tidak melulu berakhir dengan kesedihan. Terima kasih teman-teman hidupku.

Prasetyaku

Bersyukurku diberi nama oleh orang tuaku Didiek Prasetya. Beliau berharap aku selalu prasetya (memegang janji).

Janji apapun termasuk janji pernikahan yang sakral dan kudus. Walau pernah luput olehku. Kini kutuangkan dalam lagu berjudul Prasetya.

Kanggo kowe : “Aku wes ra arep macem-macem mergo kowe wes genepi uripku. Dadio malaikatku”

Prasetyaku cipt. Didiek Buntung

Cukup sayangmu marang aku
Ra sah nambahi sakwernomu
Ngertio, prasetyaku
Nganti putus umurku nggo sliramu

Biru wenteran sih bisa luntur
Katresnanku sing rabakal luntur
Atiku kasep manjing
Tekan tuo pinginku tetep nyandhing

Reff.
Cukup ngene rasah ngreridhu
Aku wes tentrem cerak awakmu
Ojo nganti mbok gawe tatuku
Dadio … Malaikatku

Tenang tulung tenangno pikirmu
Mengko bakal tak sayang pipimu
Kowe wes gawe genep uripku
Menengo, ojo gawe aku gelo

Misteri Gudangku (02)

Misteri Gudangku (02)

Malam itu benar-benar senyap, karena tak seperti biasanya yang banyak penghuni asrama. Hanya aku dan salah seorang petugas jaga yang secara kebetulan terjadwal piket. Lalu Lalang kota pun sepi bak pandemi korona saat ini, karena libur lebaran tahun 2019. Deru kendaraan pun taka ada, padahal baru sekitar jam 23.00. Saat itu kami berdua duduk di teras dan menghadap alam luas di belakang sana. Gundukan tanah berilalang menuju hutan resapan kecil penuh mahoni dan sengon sesekali kena sorot lampu sokleku. Bak savana jika di siang hari.

Karena dingin menusuk, kubuat perapian dari kayu sisa-sisa produksi untuk sedikit agar bisa menaikkan suhu malam itu. Agar juga jadi penanda untuk makhluk buas menjauhi kami. Karena masih banyak sekali ular dan biawak berkeliaran menyinggahi. Terakhir kami tangkap hampir sebesar manusia.

Biawak

Kobaran api pun kian menghilang dan tinggal bara yang sesekali terbawa angin.

Suasana pun kian mencekam, diantara kami membisu karena kehabisan kata untuk diceritakan. Akhirnya mengais cerita-cerita recehan untuk di daur ulang yang justru bisa membunuh seram”

Saat kelam, tiba-tiba kudengar suara jeritan. Aneh, tak ada tetangga kok terdengar suara itu. Kucari sumber suara dan kadang sirna. Saat kami duduk dan kembali, suara itu hadir. Kami diamkan saja. Namun semakin keras mengusik telinga ini menggerakan naluri kami untuk mencari. Kuperhatikan, ya benar itu dari arah hutan sana. Kudekati semampu kami hingga bibir jurang yang memisahkan hutan itu. Dan semakin jelas, ternyata suara tangisan perempuan. Hutan itu ada di seberang sungai itu, tepat berhadapan dengan Gudang asrama kami. 

Kurogoh HPku dan kurekam gambar dan suara itu, terdengar sayup suara tangisan itu dengan interval yang sama. Tangis rintihan itu bak ingin meminta pertolongan, namun apa daya kami.

Suara tangisan

Yang hanya ketakutan melanda dan merinding hingga urung kami merebahkan tubuh kami, terjadilah melek hingga pagi.

“Aaa ….. a…. a….” jika kucari justru menghilang. Jika kubiarkan kian tambah jelas mengusik.

Rasa penasaran itu mengoyak niat atas kaingintahuanku.

Paginya kudekati, dan kutertuju pada 3 pohon kelapa. Iya, ada 3 pohon kelapa yang batangnya hitam pekat. Kami pernah melihat  ketiga pohon itu terbakar di bagian ujungnya. Api menyala di tengah siang bolong, tapi tak satupun ada yang menghiraukan karena tak tahu siapa empunya. Kami mendekati pohon kelapa itu dan astaga.

Dibawah rerimbunan rumput dan ilalang kutemukan bekas kehidupan. Ternyata ini sebuah bangunan, masih ada pondasi, sekat kamar dan bahkan kolam pemandian. Dalam foto yang kuhadirkan ini jika anda jeli terlihat bekas tangga. Ini bekas rumah mewah tapi kini tinggal reruntuhan. Ada bekas ruang terowongan bawah tanah juga. Milik siapakah ini? Yang belakangan tersiar katanya bekas peninggalan Belanda (katanya). Jangan ditelan mentah dulu.

Aku pun kembali menyeberang sungai dan pulang duduk duduk di teras lagi sambil termenung. Oh mai gad, pohon kelapa itu terbakar lagi dengan api yang berkobar dari bawah. Dulu dari pucuk atas, kini dari bawah. Kulihat taka da seorang pun disana. Aku diamkan saja karena tak membahayakan dan jauh dari pemukiman warga. Apalagi terhalang sungai dengan hunian kami. Tiba-tiba mati dengan sendirinya dan nggak banyak menjalar kemana-mana.  

Penasaranku, apakah kejadian-kejadian aneh di dalam gudangku ada hubungannya dengan bangunan tua itu? Dalam rekaman suara yang kuambil sendiri, yang menangis adalah sosok wanita. Kemudian si Gombloh pernah dituntun perempuan cantik menuju istana dengan taman yang indah. Kemudian si Abed berpapasan dengan sosok perempuan cantik. Terus apa niatnya? Misteri yang semoga bisa terpecahkan.

Tahap awal kemaren selain cari narasumber, kami panggil team yang dirasa pintar dalam hal itu. Untuk menjawab semua teka teki itu. Macam-macam ceritanya dan justru menambah seru. Disini tempat saya mengetikpun menurut beliau ditungguin oleh seseorang.

“Bagaimana mungkin? Aku merasa enjoy saja kok berhari-hari disini?” Kataku kepada nujum itu.

Sambil beliau mendeskripsikan wujudnya. Saat aku menyebut makhluk itu benar merinding bulu kudukku. Aku tambah enggan keluar dan asik menulis ini. Iyah,… kurasakan sepertinya ia benar-benar disampingku gaes. Yakin aku tak bohong. Kalian jgn macem2 aku nggak berani edit tulisan ini. Dia baik ….tapi lama-lama berat ya kepalaku. Mana tak ada teman lagi. Aku teriakpun nggak bakalan ada yg kesini. Kecuali aku whatsapp pasti ada yang datang. Namun aku lagi asik nulis ini.

Aku foto saja ya gaes pososiku.

Astaga … hujan lebat dan angin tiba-tiba gelap. Jendelaku kenapa buka dengan sendiri?? Ah tidak aku harus tutup ini dan panggil temen-teman asrama untuk menjemputku kesini. Kepala berat dan pusing. Sepertinya butuh feshcare. Maaf berantakan nulisnya. Besok kusambung …

Kuthoku, Ungaran ing Saiki

Sugeng rawuh ing ungaran,
Kutho ku,
Omah e awake dewe,

Ungaran saiki sepi
Toko lan kantor tutup
Pasar, panggonan wisata, restoran, ora ana sing tuku

Awak e dewe ora iso dolan bareng
Ora popo
Adoh2an dhisik
Sing penting kabeh sehat, bagas waras

Yen pagebluk iki wis lewat
ketemu maneh neng pasar senggol,
ben minggu,
kowe mbonceng aku
Dewe jajan pecel karo ngombe dawet
Neng asjo ungaran