Rain in May

Rain in May

“Kriiingggg…kringggg…..kringgggg” mataku masih berat terbuka, meski separo badanku mulai terbangun, kugerakkan tanganku, meraba-raba sekitar, meraih sumber suara yang membangunkan aku dari mimpi

“Kriiingggg…kringggg…..kringgggg” seolah bertambah pekak mencuri perhatian telinga dan mataku untuk menggapainya

“Kriiingggg…kringggg kringgg…..kringgggg” kali ketiga dan gerutuku mulai terdengar “arrrrgggghhh….beker sial” sambil memencet kuat-kuat tombol untuk mematikan suara

Aku terduduk, mulai membuka mataku, menggeliatkan tangan dan badanku sambil menguap melepaskan penat-penat dan malas yang masih melingkupi. Pagi menyapa, menggantikan kantuk mataku dengan pandangan baru, mengalihkan lelah tubuhku dengan segarnya udara pagi. Iyaa…hari baru datang, aku melihat sekeliling dan aku masih seperti kemarin, berada di ruangan ini berteman dinding yang selalu setia memperhatikan aku, menghangatkan tubuhku dari batas dingin di luar bangunan ini, tanpa protes melihat apa saja yang aku lakukan, dan memberiku ketenangan dari bisingnya lalu lalang jalanan. Aku tersenyum menyadari keadaan ini, dan beranjak meninggalkan selembar alas tidurku.

Kubuka kaitan jendela yang sengaja kubuat tidak terlalu kuat mengunci, dan segeralah percikan air dari hempasan angin menggoda kulit wajahku.

“Apa, kamu butuh perhatianku juga, sampai membuat mataku terkaget?” kubiarkan basah lebih lama berada di sekeliling kening dan hidungku.

“Ahhh….ternyata hujan masih setia sampai pagi ini” ujarku sembari membuka telapak tangan dan menerima tetes-tetesan airnya

“Kemana perginya mentari? Heiii….kamu tidak perlu sembunyi, hujan sudah menemaniku sejak semalam dan membuat nyenyak tidurku, sekarang aku rindu hangatmu!” protesku sembari mencari di antara awan-awan pucat di atas sana.

Aku yakin dia mendengar, “mana ada yang tidak rindu bertemu dengan aku barang sehari saja?”, batinku sambil tersenyum menggodanya 

Sekejap aku memejamkan dua kelopak mataku, menarik udara dingin sebanyak yang aku mau ke dalam paru-paruku, dan menghembuskannya seringan mungkin, menghalau apapun yang ingin hinggap di pikirku pagi ini, aku ingin merasakan kekosongan dan menikmati keadaan pagi ini; satu detik, dua detik, ………lima detik, sepuluh detik…., lima belas detik, 

“cukup perintahku”, kubuka kembali mata ini  dan aku menemukan damai, 

“terima kasih pagi” senyumku sembari meninggalkan daun jendela yang terbuka, mengijinkan angin pagi memenuhi ruanganku.

Kutarik tubuh gempalku menuju luar ruangan, bersapa dengan kawanku yang sudah berkeringat mengerjakan sesuatu,

 “hei….nikmati pagi ini dulu, jangan terlalu keras dengan dirimu” sapaku sambil tersenyum dan menuruni anak tangga.

“Pagi katamu? Ini sudah siang bro, mungkin alam mimpimu terlambat membuatmu bangun” serunya di antara terdengar jelas atau tidak di telingaku.

Kulewati deretan pintu-pintu di lantai bawah, masih tertutup rapat dan belum ada tanda kehidupan dari pemilik kamar.Kubayangkan mereka masih meringkuk dibawah selimut, menenggelamkan diri dengan bantal, dan membuat hangat tubuhnya agar bisa tetap terlelap dalam tidur. Jika kubuka pintu-pintu ini, aku akan mendengar seruan-seruan protes menggerutu bersautan dengan nyanyian dengkuran mengalahkan teriakan minta tolong atau jeritan anak bayi menangis. Aku tak menghiraukan lagi pikiran usilku. 

Beranjak ke dapur dan aku terkaget dibuatnya. Ruangan favoritku dengan kawan-kawan sudah bersih pagi ini. Deretan gelas, cangkir tertata rapi sesuai bentuknya, piring, sendok dan panci kotor sisa masak semalam sudah bersih dan berada di tempatnya. Sisa-sisa puntung rokok dan isian asbak telah pindah ke tempat sampah. Ku ambil cangkir kegemaranku dan segera kuisi air putih hangat yang menjadi rutinitas pagi, dua cangkir cukup. 

Beruntung sekali pagi ini, setelah melawan malasku saat bangun, mendapati tempat favorit bersih sekarang aku bisa menikmati pagi tanpa kebisingan dari suara penghuni disini. Kicau burung-burung gereja, suara salakan anjing tetangga, dan kokok ayam dari belakang rumah, sesekali terdengar menemaniku dalam lamunan. Kuhempaskan pantat ini di salah satu sofa hitam, memposisikan nyaman di badanku, sembari jari di kedua tanganku asik menarik-narik rambut di janggutku, pikiranku berkelana, merindukan suatu masa yang telah lalu, mengingat-ingat segala kenangan yang sekarang aku tertawakan karena kebodohanku waktu itu dan kecerobohanku, lalu beralih membayangkan suatu keadaan yang aku impikan, damai, tenang, berelasi dengan kawan atau orang-orang baru, bertemu keluargaku yang aku rindukan, tertawa bersama dan aku ……..

“plak…” sebungkus rokok mendarat di samping pundakku

“apaan sih!! Bikin orang kaget tau, untung aku…..”

“makanya jangan suka ngelamun pagi-pagi!! Mimpi apa semalam haaaa…..sampai kamu pikir-pikir terus? potong Panji

“jangan-jangan dia ngelajor? Ngelamun jorok” timpal Aden 

“Hahahahahaaaa…..” kompak suara sekelompok laki-laki tertawa puas menimpali kalimat Aden dan Panji

“Kalian apaan sih, ganggu mood orang aja, huuu” sahutku sambil akan beranjak dari sofa

“Eh….bro, mo kemana? Tanya Dimas sambil memegang bahuku.

“Sudahlah disini dulu, tadi pesanmu kita harus menikmati pagi, jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri, ya sudah mari kita ngobrol-ngobrol bersama” lanjut Dimas sambil mendudukan aku lagi 

Kuhempaskan kembali pantat ini, tidak aku tidak sedikitpun aku marah karena mereka mengganggu pagiku. Bagiku ini adalah bagian dari awal hari yang sayang jika dilewatkan.

“Betul itu Dim, kita nikmati sisa dingin hujan pagi ini, sambil minum kopi, sebatang rokok dan bercengkrama” susul Panji sambil mengucurkan air panas ke cangkir berisi kopi hitam.

“Aden, tolong bawakan gitarnya, biar Mario yang pagi ini menghibur kita, setuju kan” timpal Dimas

“Oke brooo…..kalian mau lagu apa, roman-roman gitu atau gimana?” jawab Mario

“Terserah kau sajalah, yang penting ini tempat tidak sepi seperti kuburan, bener ga?” balas Panji

“Sepakatttt….” tukas yang lainnya kompak

Sebenarnya aku sangat paham kebiasaan pagi ini. Kebiasaan yang tanpa sengaja terjadi. Bangun tidur, berkumpul di dapur, membuat minuman kegemaran masing-masing; Panji dan Dimas senang minum kopi hitam pahit, Aden dan Rahmat teh panas manis, Mario dengan coklat panasnya, dan aku cukup air putih hangat. Kemudian saling duduk melingkar, menyalakan puntung-puntung rokok, bermain gitar, mendendangkan lagu tanpa khawatir hafal lirik lagu atau nada yang fals kemudian berlanjut dengan berbagi cerita tentang kejadian kemarin.

Cerita tentang kerinduan dengan keluarga yang jauh, tentang teman kerja yang menjengkelkan, tentang gebetan yang susah didekati ternyata sudah punya kekasih, tentang motor yang ditabrak angkot dan sopirnya pergi, tentang seksinya penjual warteg sebelah dan masakannya yang lezat, tentang pak rt yang tiba-tiba narik uang iuran, tentang anjing tetangga yang buang kotoran di depan halaman, tentang konser kla project besok lusa, tentang keponakannya yang baru lahir, tentang piutangnya yg belum dikembalikan, tentang jerawat, tentang rokok termurah di warung kelontong, dan masih banyak lagi. Aku selalu ingat gaya mereka bercerita, membuatku kaya akan kesimpulan dan refleksi diri. Aku belajar dari keseharian kita yang sederhana, yaitu saling menyapa tidak peduli apa yang dirasakan teman yang ditemuinya, sehingga saat aku merasa sedih atau memiliki masalah lain, sapaan mereka yang sering konyol membuatku ringan menyelesaikan rintangan.

Penghuni rumah ini, telah hampir dua tahun bersama. Kita bertujuh, namun belum lama ini salah satu keluar. Kita berasal dari latar belakang keluarga, agama, suku dan kebiasaan yang berbeda. Ada yang anaknya orang kaya namun tidak sombong, ada yang bapaknya tentara dan sangat keras mendidik, ada yang berasal dari keluarga broken dan merasa minderada yang berasal dari tanah karo dan kesulitan saat berkomunikasi karena maksudnya berbeda, dan masih banyak perbedaan lainnya. Tapi apa yang kita dapat? Persaudaraan dan kebersamaan. 

Kulangkah kakiku keluar dari bangunan dua lantai ini. Dominasi warna putih dengan tanaman di halaman depan dan pagar hitam yang tinggi, menampakkan gaya pemiliknya yang modern. Sambil merapikan kemeja dan rambutku, kuingat kembali saat pertama memasuki rumah ini, bahagia dan penuh harapan dalam menjalani aktivitasku. Sadar, waktu akan terus berjalan, namun aku tidak pernah sendiri, meski jauh dari keluargaku tapi aku menemukan keluarga kedua. Mereka di sekelilingku, dengan sadar menatapku, mendengarkan aku, memahamiku dan menemani hari-hariku, tanpa menuntut aku menjadi seperti yang mereka mau. Karena mereka menerima aku apa adanya.

“Hari ini akan aku lalui, esok yang datang juga akan kusongsong, selamat datang harapan baru, tetap temani semangatku”, pupukku dalam pikir sebagai doaku

Sendiri tidak akan berakhir sepi. Dan sepi tidak melulu berakhir dengan kesedihan. Terima kasih teman-teman hidupku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s