Misteri Gudangku (02)

Misteri Gudangku (02)

Malam itu benar-benar senyap, karena tak seperti biasanya yang banyak penghuni asrama. Hanya aku dan salah seorang petugas jaga yang secara kebetulan terjadwal piket. Lalu Lalang kota pun sepi bak pandemi korona saat ini, karena libur lebaran tahun 2019. Deru kendaraan pun taka ada, padahal baru sekitar jam 23.00. Saat itu kami berdua duduk di teras dan menghadap alam luas di belakang sana. Gundukan tanah berilalang menuju hutan resapan kecil penuh mahoni dan sengon sesekali kena sorot lampu sokleku. Bak savana jika di siang hari.

Karena dingin menusuk, kubuat perapian dari kayu sisa-sisa produksi untuk sedikit agar bisa menaikkan suhu malam itu. Agar juga jadi penanda untuk makhluk buas menjauhi kami. Karena masih banyak sekali ular dan biawak berkeliaran menyinggahi. Terakhir kami tangkap hampir sebesar manusia.

Biawak

Kobaran api pun kian menghilang dan tinggal bara yang sesekali terbawa angin.

Suasana pun kian mencekam, diantara kami membisu karena kehabisan kata untuk diceritakan. Akhirnya mengais cerita-cerita recehan untuk di daur ulang yang justru bisa membunuh seram”

Saat kelam, tiba-tiba kudengar suara jeritan. Aneh, tak ada tetangga kok terdengar suara itu. Kucari sumber suara dan kadang sirna. Saat kami duduk dan kembali, suara itu hadir. Kami diamkan saja. Namun semakin keras mengusik telinga ini menggerakan naluri kami untuk mencari. Kuperhatikan, ya benar itu dari arah hutan sana. Kudekati semampu kami hingga bibir jurang yang memisahkan hutan itu. Dan semakin jelas, ternyata suara tangisan perempuan. Hutan itu ada di seberang sungai itu, tepat berhadapan dengan Gudang asrama kami. 

Kurogoh HPku dan kurekam gambar dan suara itu, terdengar sayup suara tangisan itu dengan interval yang sama. Tangis rintihan itu bak ingin meminta pertolongan, namun apa daya kami.

Suara tangisan

Yang hanya ketakutan melanda dan merinding hingga urung kami merebahkan tubuh kami, terjadilah melek hingga pagi.

“Aaa ….. a…. a….” jika kucari justru menghilang. Jika kubiarkan kian tambah jelas mengusik.

Rasa penasaran itu mengoyak niat atas kaingintahuanku.

Paginya kudekati, dan kutertuju pada 3 pohon kelapa. Iya, ada 3 pohon kelapa yang batangnya hitam pekat. Kami pernah melihat  ketiga pohon itu terbakar di bagian ujungnya. Api menyala di tengah siang bolong, tapi tak satupun ada yang menghiraukan karena tak tahu siapa empunya. Kami mendekati pohon kelapa itu dan astaga.

Dibawah rerimbunan rumput dan ilalang kutemukan bekas kehidupan. Ternyata ini sebuah bangunan, masih ada pondasi, sekat kamar dan bahkan kolam pemandian. Dalam foto yang kuhadirkan ini jika anda jeli terlihat bekas tangga. Ini bekas rumah mewah tapi kini tinggal reruntuhan. Ada bekas ruang terowongan bawah tanah juga. Milik siapakah ini? Yang belakangan tersiar katanya bekas peninggalan Belanda (katanya). Jangan ditelan mentah dulu.

Aku pun kembali menyeberang sungai dan pulang duduk duduk di teras lagi sambil termenung. Oh mai gad, pohon kelapa itu terbakar lagi dengan api yang berkobar dari bawah. Dulu dari pucuk atas, kini dari bawah. Kulihat taka da seorang pun disana. Aku diamkan saja karena tak membahayakan dan jauh dari pemukiman warga. Apalagi terhalang sungai dengan hunian kami. Tiba-tiba mati dengan sendirinya dan nggak banyak menjalar kemana-mana.  

Penasaranku, apakah kejadian-kejadian aneh di dalam gudangku ada hubungannya dengan bangunan tua itu? Dalam rekaman suara yang kuambil sendiri, yang menangis adalah sosok wanita. Kemudian si Gombloh pernah dituntun perempuan cantik menuju istana dengan taman yang indah. Kemudian si Abed berpapasan dengan sosok perempuan cantik. Terus apa niatnya? Misteri yang semoga bisa terpecahkan.

Tahap awal kemaren selain cari narasumber, kami panggil team yang dirasa pintar dalam hal itu. Untuk menjawab semua teka teki itu. Macam-macam ceritanya dan justru menambah seru. Disini tempat saya mengetikpun menurut beliau ditungguin oleh seseorang.

“Bagaimana mungkin? Aku merasa enjoy saja kok berhari-hari disini?” Kataku kepada nujum itu.

Sambil beliau mendeskripsikan wujudnya. Saat aku menyebut makhluk itu benar merinding bulu kudukku. Aku tambah enggan keluar dan asik menulis ini. Iyah,… kurasakan sepertinya ia benar-benar disampingku gaes. Yakin aku tak bohong. Kalian jgn macem2 aku nggak berani edit tulisan ini. Dia baik ….tapi lama-lama berat ya kepalaku. Mana tak ada teman lagi. Aku teriakpun nggak bakalan ada yg kesini. Kecuali aku whatsapp pasti ada yang datang. Namun aku lagi asik nulis ini.

Aku foto saja ya gaes pososiku.

Astaga … hujan lebat dan angin tiba-tiba gelap. Jendelaku kenapa buka dengan sendiri?? Ah tidak aku harus tutup ini dan panggil temen-teman asrama untuk menjemputku kesini. Kepala berat dan pusing. Sepertinya butuh feshcare. Maaf berantakan nulisnya. Besok kusambung …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s