Misteri Gudangku (01)

Sudah berjalan hampir 2 tahun aku menjadi tuan rumah bangunan tua itu. Tanpa merubah tatanan sedikitpun, kami memanfaatkan semua ruang yang sudah ada. Ada hanggar yang kami manfaatkan untuk gudang bekakas kayu, ada beberapa kamar dengan akses langsung outdoor yang kami pakai untuk mess teman nguli, dan ada hamparan lahan kosong sehingga kami bisa beternak unggas serta buat kolam ikan. Sayang seribu sayang, pohon-pohon yang rimbun tak terawat membuat mati suasana. Sekitar 2000 meter persegi lebih tanah dengan bangunan bertingkat model lawas bak negeri antah berantah. Berserakan masih dengan wajah aslinya, karena kami tak menyentuhnya dengan cat sedikitpun. Kami biarkan apa adanya.

Pertama kali masuk, jelas merinding dan kami saling menoleh diam, jelas pikiran kami sama, sepertinya ada penghuni lain selain kami

Lorong demi lorong kami telusuri, menyapu sarang laba-laba yang telah menghitam. Menjadikan tubuh kami lungset menyapunya. Jelas bau anyir menyerang sana sini. Dan kami simpulkan bahwa harus ada pembersihan total. Baik yang kelihatan ataupun yang tak kasad mata.

Kami berupaya pendekatan -pendekatan, lewat nujum, kyai, ahli-ahli taurat dan semua kami ‘jawil’ demi kenyamanan kedepan. Semua sisi kami sorot lampu hingga kebun-kebun rimbunpun kami sorot sokle. Adalah mbah John Gemblung (kami memanggilnya) orangnya pendek berisi dan berambut gondrong sedengkul penjaga gedung itu. Yah, nampaknya beliau sudah bersenyawa dengan makhluk-makhluk itu rupanya dan setiap malam melakukan ritual bakar dupa. Beliau yang mengenalkan gedung itu agar aku pinang.

Aku lakukan hal-hal yang wajar saja. Pertama kami kerahkan team untuk disemprot dan bersih-bersih. Kemudian kami pasang CCTV 20 titik agar setiap sudut aku bisa merekamnya. Karena aku penasaran dan nggak klik dengan frekwensi mereka. Aku sangat penakut, namun jiwa keingintahuanku sangat tinggi hingga ku gali lebih dalam. Maka aku bertahun ikut tidur bersama mereka. Cukup beralaskan karpet dan seadanya. Jika tak percaya boleh cek keadaan kamarku. Masih dengan cat seadanya tanpa kurubah. Jika terbangun pagi, tubuh sudah kotor oleh rontokan atap yang tersapu angin. Aku sengaja tidur dengan anjing, karena katanya mereka lebih peka terhadap hal-hal ghoib. Menggonggong ditengah malam tanpa ada musabab adalah hal biasa.

Aku sangat penakut, namun jiwa keingintahuanku sangat tinggi. Maka aku bertahun ikut tidur bersama mereka. Cukup beralaskan karpet dan seadanya.

Sekawan

Kami semua tidur seadanya, bahkan tanpa kasur termasuk aku. Aku selalu bersama mereka. Aku juru dapur, selalu masak buat mereka. Namun aku malas beres-beres cuci piring. Hal yang sungguh menyesal jika melewatkan mereka untuk tak menyiapkan makan. Walau aku luar kota pun aku selalu telepon. Bagaimana sarapanmu? Sudah makan malam belum?

Kami adalah sekawan jantan. Yang berkreasi dan berkumpul untuk sesuatu hal positif. Naluri kami lebih lembut dan saling mengasihi. Tak tahu apa yang akan kami kerjakan untuk esuk hari, tapi kami yakin Gusti Ora Sare. Yang terpenting kebutuhan keluarga kami bisa tercukupi.

Walau kadang ada isterinya yang protes kirim pesan whatsap begini : “pak, gajinya kok cuma segini?, untuk keluarga nggak cukup”

dan kujawab : “hidup itu pilihan, silakan pejantanmu suruh memilih” Kami disini bukan buruh kerja. Hanya berinovasi dan mencari inspirasi baru. Gaji itu adalah bonus yang patut disyukuri.

Kami disini bukan buruh kerja. Hanya berinovasi dan mencari inspirasi kreasi baru. Gaji itu adalah bonus yang patut disyukuri.

Kami pun mulai bangun pagi, setelah bangkit sadar dari tidur semalaman. Beberapa bersih bersih rumah, ada yang angon bebek, ada yang kasih makan ikan di kolam, ada yang cangkul tanam ubi dan ada yang masih tertidur karena begadang hp miring (main game) termasuk anakku. Kami tak mempermasalahkannya dan itulah keakraban kami dan saling memahami.

Tak ada aturan, milikmu milikku , makananmu makananku semua dalam keterbukaan. Puji Tuhan dari awal hingga kini tak ada satupun yang baku hantam berseberangan. Kami saling support.

Keraton Ayu

Suatu malam, ketika kami sedang duduk, tiba-tiba salah satu anggota kami, gombloh namanya, tiba-tiba berjalan dengan tatapan kosong. Dia berjalan lurus mengarah ke tempat rerimbunan bambu, padahal didepanya persis adalah jurang. Spontan kami beranjak lari menghentikan langkahnya seraya menggeretnya.

“Mbloh awas jurang, mau kemana?” Seru kami.

“Aku mau kesana dipanggil putri cantik bermahkota” jawabnya. “Itu disana ada keraton dan nampak terang” lanjut gombloh.

Kami cek tak ada apa-apa dan mbah john yang kami andalkan hanya tersenyum tak mau menjelaskan. Kuyakin pasti menyimpan sesuatu. Ketawa kecilnya semakin mengongkak penasaranku yang tinggi.

Akhirnya gombloh tersadar dan bolak balik kami tanya kamu pura-pura atau pingin bikin sensasi? Jawabnya : “benar, saat itu digeret kesana?” Yah barangkali stress karena peristiwa jungkelnya truk yang ia bawa.

Pompa Ajaib

Karena tandon air terlalu rendah, air gak bisa mengaliri lantai 2 bangunan itu. Akhirnya kami pasang pompa air listrik. Karena jarang dipakai, listrik kami cabut dan terputus hingga sekarang. Tiba-tiba terdengar semburan yang kencang memenuhi bak mandi atas. Kita tengok kran terbuka dengan air menyembur. Padahal pompa air mati dan aliran listrik putus total. Hingga kini belum terpecahkan misteri ini. Tandon air pun sering habis dengan sendirinya. Kapan kalau ada waktu akan aku telusuri secara logika ilmiah. Pasti bisa dan itu bidangku. Mungkin ada pipa lain yang tersambung.

Suara

Suara-suara menangis, mendengkur dan suara aneh adalah sering kami dengar tanpa wujud. Kami diam dan terbiasa akan hal itu. Untuk itu kami abaikan. Pernah aku merekamnya dan kuunggah di facebookku. Adalah si abed yang sering begadang hingga larut pagi. Katanya sudah terbiasa dengan suara-suara itu.

Kaos Gendruwo

Yah ada cerita lucu lagi, istriku ndelalah saat tidur disitu sendirian tiba-tiba terbangun oleh pria berbadan besar bukan main. Sosok gendruwo kemudian lari lewat jendela. Dikejar hingga kaosnya terjepit di jendela. Suara gemuruh menyertai. Akok kok sangsi sekali. CCTV tak merekamnya. Saat kutanya kebenarannya bahwa dia benar-benar meyakini hal itu. Hingga tak berani lagi tidur di sana sendirian.

Pagar

Tentang pagar gedung ini hati-hati ya, sudah banyak memakan korban. Ada yang kegencet rel, ada yang kejatuhan, ambruk dan sebagainya. Jangan langsung sebelum diijinkan penjaganya. Lebih baik bersabar sambil nunggu yang empunya membukakan.

Mobil

Saya kira masih banyak cerita-cerita kecil disitu. Kapan suatu saat akan kuulas secara lengkap. Sekarang aku ingin bercerita tentang kejadian yang baru ini yang lumayan membuat bingung. Adalah tentang mobilku yang tiba-tiba berjalan sendiri. Kemaren istriku dari rumah menuju gudang tua itu. Ndelalah saat itu lengkap dan saya pun disitu. Tiba-tiba kudengar suara jeritannya :

“Tolong-tolong … ! Tolong aku ketabrak mobil” teriaknya.

Kami bergegas menuju keluar dan isteriku sudah terhimpit antara mobil dan pagar. Mobil mendorongnya menabrak pagar dan menghimpit tubuhnya. Untung respon kami cepat berkat kesigapan warga dan anak sekolah smp depan.

Kami cek CCTV, ternyata istriku mau masuk, mau buka pagar. Mobil berhenti dan versneleng di posisi P (parkir). Kesaksian Sandy yang pertama mengecek, bahwa kondisi memang sudah di P tapi belum di handrem. Harusnya, walau belum di handrem, jika posisi P mobil tetep berhenti. Tapi ini tidak.

Setelah posisi P, isteriku turun dari mobil. Mobil masih berhenti gak bergerak sama sekali hingga berjalan kaki menuju pagar. Saat mau membuka kunci pagar, tiba-tiba dari arah belakang persis mobil melaju secara tiba-tiba lumayan kencang dan menyundulnya dari belakang. Peristiwa ini menjadikan terdorong dan terhenti oleh pagar yang masih terkunci.

Apakah mobil jika dalam posisi P masih bisa melaju? Sepertinya tidak. Tapi ini kenapa? Perlu saya cekkan kelayakan Honda Mobilio yang masih disekolahkan itu.

Belum sempat ngelanjutin …. entah kapan kubuat cerita cinematinya dengan bumbu-bumbu drama.