Malam

Tengah malam ku terbangun dan seperti candu, bergegas ingin membuat sesuatu. Tulisan, lagu atau acara semauku. Bersama malam aku bisa cerita, bersama malam aku berselancar tentang maya, bersama malam kusetubuhui pianoku, bersama malam ku tak sendiri, bersama malam kugoreskan tinta, bersama malam kujemarikan tuts. Bebas lepas di ruangan yang kedap suara, bergantungan perkakas yang kusuka, pengeras suara, busur panah, google wall, live cam, tak bisa kusebut satu persatu. Menjadi egois enggan bergaul. Ya itu lemahku, yang akan segera semerbak menjadi lentera kota ini.

Kubuka jendela duniaku, facebook, Instagram, whatsap, twitter, linkdin, line, semua mode on dan itu juga micro stage yang tanpa batasku. Gemerlap lampu hijau dan beberapa notifikasi pesan mulai masuk. Beberapa teman mulai tak acuh dan bersapa : “Jam segini kok belum tidur, jaga kesehatan” kujawab ya saja. Yang lainya juga bertutur demikian “Jaga kesehatan” kuiyakan juga. “Kok melek bos” ada yg bersapa juga demikian. Terima kasih sudah diingatkan.

Tapi perlu diketahui bahwa justru bersama malam aku masih bisa ada seperti sekarang ini. Engganku kepada siang yang sangat menekanku tanpa memberi kebebasan. Belenggu mencengkeram tanpa ampun. Terang itu jelas menyinari asa yang justru menakutkan. Pikiran berkecamuk tak ada ruang untuk berimajinasi. Semua berlomba mencari kebenaran dihadapan Tuhan. Aku bener-bener mendengar maling berteriak maling minta tolongnya kepada Tuhan. Hingga kusangsikan kebenaran.

JERAT

Malamku bisa tertawa mencurahkan segalanya lewat apapun yang ada. Sendiri ini semakin indah tanpa menjeratku. Yah, aku takut dengan jeratan yang telah bertahun menubi menyerangku. Berkedok ikatan yang tanpa ampun telah memasungku. Bagi mereka malam ini gelap namun tidak bagiku. Karena justru gelap ini, aku bisa melihat segalanya dan tertawa terbahak bahak kepada sunyi dan diam. Akhirnya jerat takut kepada sang malam. Setiap malam jerat hanya mendengkur tapi tak mampu memecah kesunyian. Melelehlah jerat itu melurus sebanding dengan kegelapan.

Stop, mau melanjutkan tulisan ini, teringat pesan kakakku, awas jangan terlalu vulgar kepada publik. Tak semua harus dicurahkan. Simpan saja dan kubur dengan baik.

Namun mengganjal rupanya, ingin berbagi bahwa ada manusia unik di dunia ini yang tak layak hadir sebenarnya. Hanya ingin mengisi sisa usia yang ada sebaik mungkin. Berkarya semampunya sebelum keranda menjemput.

Next title … SENDIRI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s