Siluman ‘minibus’

Gara-gara ada pembaca yang penasaran dengan kisah mistis saat petualangan ngamen itu, maka saya tulis cerita ini. Mudah-mudahan ingatan ini masih ada walau tak segar, karena peristiwa sudah lampau banget dan sempat saya telepon teman-temanku kok samar-samar lupa. Lagian para sahabat dekatku pasti tahu bahwa saya sangat keras kepala untuk mempercayai hal-hal gaib ini, dari dulu hingga sekarang saat ku menulis ini. Tapi ini bukan ilusi, ini fakta dan benar-benar menyanderaku.

Adalah malam itu, saat saya ada job ngamen (main musik) di daerah hutan karet arah timur PTP Ngobo Karangjati Kabupaten Semarang. Kami berangkat bersama group, saya mbonceng sepeda motor, satu lagi temenku bersepeda juga sebut saja Sugeng dan 1 armada Mitsubishi L300 berisi seperangkat alat berpenumpang penyanyi kami namanya sebut saja Nanik.

Menjelang Maghrib kami berangkat beriringan menuju lokasi. Dua sepeda motor kami mengawal di depan sebagai penunjuk jalan. Kami konvoi dengan enjoy sambil bernyanyi-nyanyi menghafal lagu di jalan (karena malamnya ada request dan saya luput gak bisa) seraya guyon-guyon. Sesekali ngepot dan mbleyer layaknya kaum muda. Saya masih ingat lagu yang kami lantunkan di jalan itu berjudul “sebujur bangkai” bersahutan melodinya. Dan setelahnya hokya-hokya … hati senang riang dan gembira bak raja di jalan raya.

Masuk pertigaan Ngobo, hari sudah mulai gelap hingga lurus terus ke arah timur menyusuri hutan karet. Hujan gerimis mulai merintik dan suasana pun semakin senyap. Kanan kiri gelap mencengkeram kami pun mengehentikan euforia. Lalu lalang kendaraan pun semakin berkurang tak seperti tadi. Sepi dan menyeramkan ditambah cuaca yang nggak bersahabat. Tiupan angin mengurangi kecepatan kami dan jalanan mulai licin akibat gerimis. Beberapa kubangan air menggenang, mungkin tadi selepas hujan lebat.

Tiba-tiba dalam kegelapan hutan karet tersebut kulihat minibus nun jauh disana melaju ke arah kami. Oh, lumayan ada kendaraan lain memecah sunyi -pikirku-. Minibus semakin mendekat dan semakin kulihat dengan jelas. Dia bahkan menyalakan lampu penerangan di dalam minibus itu dan jelas terang berwarna kekuningan. Kulihat ada seseorang yang berdiri menggantung pegangan handel penumpang padahal masih banyak kursi yang kosong, mungkin kernet. Entah mengapa pandanganku hanya tertuju pada indoor minibus itu?. Tak sempat detail, sekilas kupikir itu bus antar jemput karyawan perusahaan karena diujung sana adalah kompleks industri. Sebentar lagi kami berhimpitan dan kami pun mulai menepi. Lebar jalan lumayan longgar untuk berpapasan.

Teman kami Sugeng yang berada di paling depan mulai minggir dan demikian pula yang kami tumpangi, keluar bahu jalan.

Astaga, semakin mendekat dia tak memperlambat lajunya dan minggir ke kiri, namun justru mepet kami goyang stir ke kanan. Sehingga kami pun banting stang minggir sampai kehabisan aspal. Pudar pandanganku, tak memperhatikan minibus lagi dan konsentrasi mempertahankan kemudi agar tetap terkondisi tak tercebur selokan. Kami semua berjalan diluar aspal, di rumput dan bebatuan. Akhirnya tetep oleng dan “prakkkk!!” terhenti oleh bebatuan besar di tepi jalan terseok kami jatuh. Mas Sugeng luka dan velg sepeda motor pun penyok.

Satu kata : “Bajindull …” untuk minibus warna kehijauan tadi.

Sementara mobil L300 di belakangku ikut berhenti menghampiri kami kemudian menepi menyalakan sign lampu emergency.

Driver pak Anan pun segera menolong kami dan bertanya : “Ada apa kalian tadi? Motor kalian ada yang tak beres?” kata beliau yang lebih tua dari kami semua.

“Gimana to, tadi kami dipepet minibus kan!” teriak mas Sugeng terbawa emosi.

“Nggak ada minibus kok, justru saya tadi bingung, jalan masih lebar kok kamu minggir-minggir sendiri kenapa?” kata penyanyi mbak Nanik menimpali.

“Matane, jelas ada mobil segede itu kok” kata Sugeng lagi yang sudah terbiasa bernada kasar seperti itu di lingkup kami.

“Ya, saya tadi juga lihat dengan jelas. Kami dipepet minibus itu yang melaju kencang” ujarku menyudahi perdebatan.

“Haaaaa … aaa … ” kami saling berpandangan, kami kebingungan lihat atas kanan kiri pohon karet berjajar rapi dan mulai merinding. Tak ada lalu lalang motor ataupun mobil lewat di jam itu yang seharusnya ramai. Kini suara-suara penghuni malam mulai terdengar seperti binatang. Kami semua terdiam terbawa sunyi dan segera starter motor berjalan beriringan pelan-pelan. Menahan luka dan memaksa motor untuk dikemudikan. Mulai ada satu dua motor yang berpapasan. Lumayan mulai sirna ketakutan itu. Kami terus beriringan.

Masih terangankan dan penasaran, mobil itu jelas-jelas ada karena buktinya kami melihat hingga terperosok. Tapi kenapa mobil L300 dengan body seukuran itu merasa nggak berpapasan? Harusnya justru mobil itu yang terseok karena sama-sama mobil dengan ukuran yang lebih besar. Kenapa justru saya yang melihat?

Kemudian kami belok kanan hutan karet. Di tengah-tengah hutan tersebut ada perempatan kecil untuk kami sejenak berhenti, ada gubug untuk berteduh sejenak walau gelap. Kami lihat ada seorang lelaki berwajah seram dan dengan berat hati terpaksa kami beraruh sapa. “Selamat malam pak” kata temanku. Dia menengok dan hanya mengangguk.

Kami ceritakan singkat kejadian tadi untuk mendapat dukungan moral, mungkin beliau penghuni lokal karena kami ketakutan. Namun tetap tak berjawab, hanya melirik dan kembali menunduk dengan rambut gondrong sama-sama kehujanan. Pelan-pelan kami pun menjauhinya dan selanjutnya pergi. Jantung kembali berdegub kencang, ditengah hujan tak tahu berapa lama lagi perkampungan. Sial bener malam itu. Kami mempercepat laju semampu kemudi kami.

Alhamdulilah, mulai ada cahaya lampu dan terdengar suara-suara musik. Akhirnya hanya 15 menit kami pun sampai lokasi dan semua tamu sudah duduk rapi di depan panggung. Untung peralatan sudah terpasang dan kami tinggal pancal main. Kami sampaikan permohonan maaf perihal keterlambatan ini. Alhamdulilah acara berjalan lancar, aman, dan penonton pun berjoget walau perasaan kami masih terus terngiang.

Jam 00.00 kami diantar pulang hingga jalan raya utama Semarang-Solo. Kami lanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing.

Dasar keras kepalaku, saya pun masih meyakini bahwa itu minibus beneran yang lewat. Mungkin pak Anan pengemudi L300 dan mbak Nanik penyanyiku lebih konsentrasi pada motor kami yang oleng sehingga melewatkan pandangannya kepada siluman ‘minibus ‘ itu.

*) maaf terhadap kesamaan nama tempat atau tokoh