Hari Ibuku yang “Ternoda”

Natal ini saya justru kelabu, melamunkan Hari Ibu kemaren, berasa telah menjadi orang terjelek di Jawa Tengah. Sungguh-sungguh membekas caci maki dan menjadi bulan-bulanan pejabat pemerintah. Adalah event Hari Ibu 2019 kemaren yang mungkin tak akan saya lupakan seumur hidup. Perayaan ‘’Hari Ibu’’ yang indah itu, ternoda oleh satu hal yang tak pernah saya duga sebelumnya. Saya dimarahi Ibu? Saya diusir Ibu? Bukan! Saya sangat-sangat mencintai Ibu saya, lebih dari apapun di dunia ini. Karena sangat menghargai perempuan, saya pun bersemangat mengikuti tender dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk acara Peringatan Hari Ibu (PHI) 2019. Puncak peringatan tahun ini diselenggarakan di Semarang, Ibukota Jawa Tengah.

Saya bersyukur karena event organizer kami ditetapkan sebagai pemenang tender oleh pokja Kemenppa. Dari pagu anggaran sebesar 2,8 miliar, kami membuat anggaran (RAB) atau menawar hanya sebesar 1 miliar saja. Mungkinkah saya terlalu polos atau lugu (maklum wong ndesa) sehingga saya berpikiran bisa berhemat 1,8 miliar atau 60 persen dari total anggaran. Sisa dana pun kembali ke negara. Oh iya, saya membuat rencana anggaran sebesar 1 Miliar tentu sudah mempertimbangkan semua kebutuhan untuk peringatan acara tersebut. Karena di dalam dokumen tender sudah dijelaskan spesifikasi yang harus dipersiapkan dan selanjutnya diatur dalam MoU.

Kalau ada yang berpikiran dan bertanya, mengapa harga saya, ‘’ndlosor’’?, apakah karena saya menurunkan standar kualitas event? Itu hanya asumsi yang tak berdasar. Saya siap diajak berdiskusi dan membuka anggaran yang saya buat, mengapa saya bisa membuat paket hemat.

Menjelang persiapan acara PHI 2019, saya bertemu dengan Pak Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang saya hormati. Saya disuruh memperkenalkan diri, ‘’Selamat pagi, Pak, kami dari event organizer,’’ kataku menyambut Pak Ganjar yang mengecek kesiapan PHI 2019 yang rencananya dihadiri RI1.

‘’Saya tidak suka dengan Anda, EO mu jelek, jika perlu saya black list!!!,’’kata Beliau dengan nada tinggi, tanpa basa basi.

Deg, … saya pun kaget. Jantung pun berdegub. Terus terang saya bingung dengan kalimat yang Beliau ucapkan. Apa salah EO kami dan salah saya pribadi kepada Beliau. Ada data dan dokumentasi, EO saya pernah beberapa kali mengawal acara seperti Parade Seni Budaya Jawa Tengah di Pemalang, Borobudur International Art and Performance (BIAF), Sosialisasi Pilkada Lewat Budaya, Purbalingga Expo, Festival Jamu dan Kuliner di Cilacap dan beberapa event lain di Jawa Tengah. Seingat saya, tidak ada komplain yang berarti.

Namanya event, tak ada yang sempurna, kalau ada sedikit kekurangan, semuanya masih dalam taraf wajar dan bisa ditoleransi.
Tanda tanya terus berkecamuk memenuhi kepala ada apa?. Saya beranikan diri bertanya. ‘’Mohon maaf, ada apa dan boleh bertanya,’’ jawabku sambil membuntutinya, seperti ‘’babu’’ yang berbuat kesalahan besar ingin bersideku memohon ampun.

‘’Tidak, bisa… sampeyan yang garap di tenda pameran kemaren kan?!’’ ucap Beliau dengan nada suara yang semakin meninggi dan terus melakukan sidak mengecek kesiapan sound, AC, kursi dan properti lain.

“itu bukan kami pak” jawabku.

“Saya tidak mau tahu!!!, … anda harus bertanggung jawab semuanya disini karena anda pemenang tendernya” jawab beliau mulai tak bersahabat. Isterinya pun menimpali begini : “ini AC dari mana? Dari Provinsi kan, ingat AC dari propinsi bukan EO” sambil mengacungkan jari kepadaku.

Perlu diketahui bahwa didalam rangkaian pekerjaan PHI 2019 tersebut ada beberapa pembagian kerja yang sudah sangat jelas. Mana yang dipegang EO, mana itu konsultan, ada yang propinsi jateng dan ada yang dari Pemkot Semarang mereka pun meng-EOkan.
Pak Ganjar mengecek satu persatu peralatan dan sepertinya beliau tidak menemukan hal yang tidak beres. Yang pasti, di setiap event, kami tidak akan gegabah dan coba-coba. Kami mempersiapkan sebaik mungkin. Dan untuk acara PHI 2019 kami persiapkan semua di bawah arahan protokol kepresidenan dan paspampres hingga pukul 03.00 pagi.

Ada 28 cek list arahan dari semua instansi terkait kami penuhi tak ada yang kami tolak sedikitpun walau diluar kontrak. Harapan kami Pak ganjar bisa senyum menyambut paginya. Namun mengapa seperti ini jadinya, termungkinkan ada pembisik yang tidak beres.

Selanjutnya datang paspampres dan tiba-tiba memanggilku. “Mas Didik” katanya ingin membisikku diluar kerumunan. Ealah … Ediann tenan …, belum juga saya menerjunkan sebuah kata, Pak Ganjar sudah menimpali dan menghujam perkataan begini kepada kami

“He, mas (mungkin karena melihat semuanya telah beres terpasang) event ini sudah beres karena di take over oleh pemerintah propinsi, bukan EO” kata pak Ganjar dan itu dikatakan berulang-ulang agar saya mendengar, karena saya memang pura-pura melengos. Sepatah kata pun nggak kujawab, karena semua team paspampres telah melihat semua kerja kami, bahkan mereka ikut bantu usung-usung nata kursi dan mindah-mindah toilet.

Selanjutnya operator sound kami diminta untuk mempertahankan settingan sound system seperti itu. Saya diam meski hati ini sesak. Kejadian tersebut membuat saya shock tentu saja. Meski sudah beberapa kali bertemu dan hadir di acara yang saya gawangi, ternyata Beliau, belum mengenal saya, dan EO saya.

Ada kejadian indah yang terekam dengan baik di memoriku, saat EO kami mengawal acara ‘’Debat Calon Gubernur’’ tahun 2018. Saat itu kami mengemas acara debat sebanyak tiga kali. Saat bertemu di dalam lift, Beliau bertanya, ‘’Dari mana EO nya?” sapanya rendah hati.

‘’Ungaran, Pak,’’ jawab saya dan anak putri saya waktu itu yang mengenakan seragam EO. Kami sedang melangsungkan acara itu di hotel Best western soloraya.

‘’Oh iya, bagus,’’ jawabnya kembali, dengan senyum dan gayanya yang khas dan kalem. Jujur saja, saya kagum dengan Beliau, dan dua periode pun saya jatuhkan pilihan ke Beliau. Tapi hari ini, saya benar-benar kehilangan gaya khas Beliau yang murah senyum, sumeh dan bisa diajak ngobrol dua arah.

Dalam hati, saya bertanya, mengapa ‘’Bapak Orang Jawa Tengah ini, tidak memberikan alasan atau data, atau apapun yang membuat saya bisa menerima kalau EO saya jelek dan pantas diblack list?’’ Kalau ada data, pasti saya akan melakukan evaluasi. Meski saya orang ndesa, EO saya dari Ungaran, kami juga paham dikritisi, diberi masukan atau punishment apapunlah jika kami melakukan kesalahan. Saya juga tidak tahu mengapa Beliau sangat marah besar kepada saya?

Sebagai rakyat jelata haruskah selalu menerima kondisi sebagai orang yang lemah, pantas ditindas, digencet, boleh dipersalahkan tanpa dasar dan tidak ada celah untuk membela diri? Saya diam tak bersuara tak memberikan reaksi perkataan Bapak Jawa Tengah yang saya hormati. Di dalam hati, saya berjanji, hanya ingin membuktikan bahwa saya dan EO yang saya pegang bertanggungjawab penuh atas keberlangsungan acara tersebut sampai tuntas.

Sudah EO ndeso, direkturnya penyandang disabelitas, tempatnya untuk dicela rupanya saya ini.

Sebagai informasi, baru seminggu lalu kami melakukan kontrak pekerjaan dari Kementerian untuk acara PHI 2019 . Kami harus menyediakan tenda roder, memfasilitasi tamu untuk 1500 orang berikut suvenirnya (payung, tumbler, kaos, kipas). Lagi-lagi kami harus mengerjakan project ‘’Bandung Bondowoso’’. Kami kerahkan puluhan kru, lembur selama beberapa hari untuk mempersiapkan segalanya. Terutama menata panggung utama yang harus bisa menjadi penyeimbang keeksotisan Kota Lama, bukan malah menenggelamkannya.

Kami tidak sedang mengeluh, karena kami tahu konsekuensi bekerja di event organizer. Karena cinta pada pekerjaan, kami berusaha menaklukkan tantangan yang menghadang di depan mata. Mungkin bagi banyak orang, bekerja di event organizer dianggap memberikan keuntungan yang besar. Anggapan tersebut harus dilihat dalam perspektif yang luas. Kami bekerja dengan dedikasi. Kalau dapat imbalan setimpal, menurut saya wajar saja. Yang pasti, saya tidak akan pernah melebih-lebihkan atau mengada-adakan hal-hal yang tidak perlu dan tidak penting didalam event.

Saat kami menerima pekerjaan PHI 2019 dengan konsep outdoor, kami pun sempat bertanya soal kemungkinan turun hujan. Mengingat bulan Desember, intensitas hujan sudah mulai tinggi. Utusan dari tuan rumah dengan pasti menjawab, ‘’Sudah kami siapkan pawang hujan terbaik di Jawa Tengah. Kami berani jamin itu semua, Insyaallah’’ Saya pun ayem mendengarnya.

Tibalah saat yang dinanti. PHI 2019 mulai digelar pukul 16.00. Acara berjalan dengan apik. Background Kota Lama dengan hiasan dekorasi nan eksotis menambah indah dan khidmat acara. Namun, siapa menduga, awan mulai bergelayut di langit. Sambutan Gubernur pun mulai. Tak disangka, rintik hujan mulai turun. Para tamu dengan sigap mengepakkan payung souvenir berwarna putih yang diberikan. Tiba-tiba saya melihat awan hitam bergerak begitu cepat dan datang menyelimuti kami. Air hujan mengguyur Kota Lama sangat deras. Hanya bebrapa menit, ya 10 menit lah, air hujan berjatuhan ke bumi, sempat membuat kami kalang kabut. Seribu lebih sosok perempuan dengan busana beragam, berhambur mencari tenpat berteduh.

Plan B pun sudah kami persiapkan. Tanpa sepengetahuan mereka kami sudah mempersiapkan termasuk perlengkapannya untuk mengantisipasi kalau terjadi hujan. Acara PHI 2019, kemudian dilanjutkan di dalam tenda hingga selesai.

Usai acara, jiwa saya seperti mendendam, tak mengikhlaskan semua terjadi. Bukan karena hujan yang mengguyur. Karena hujan turun itu adalah kehendak Tuhan. Dan siapa yang kuasa menolakNya?. Dan, setahu saya, beberapa event besar di Semarang, pernah diguyur hujan bahkan angin yang lebat. Seperti acara fashion show di Lawang Sewu, juga di Taman Indonesia Kaya beberapa tahun lalu. Saya tidak mengambinghitamkan siapa-siapa, karena menurut saya acara yang diselenggarakan memang bertepatan dengan musim penghujan. Soal pawang, bukannya tidak percaya, namun di atas pawang hujan masih ada yang lebih berkuasa. Dialah yang mewarnai cabai, tomat, sayuran dan buah-buahan di muka bumi ini.

Saya menceritakan ini semua, bukan sedang marah kepada siapa-siapa. Saya sedang marah dengan diri saya sendiri. Mengapa saya, seorang rakyat jelata dengan segala keterbatasan yang saya miliki bisa berkarya di event organizer. Saya terlalu lugu, hanya memanfaatkan tidak sampai seratus persen dari rata-rata anggaran event yang pernah saya pegang. Saya pasrahkan semuanya kepada Tuhan. Semoga Natal yang sebentar lagi datang, bisa mendamaikan hati saya.
Sempat berkecamuk di pikiran, bolehkan disebut berburuk sangka, mungkinkah keberadaan kami, EO saya, dibenci kaum oligarki, kaum yang punya berkepentingan terhadap event ini (apa kepentingannya? Tentu sudah menjadi rahasia umum).

Atau termungkinkan ada ‘’EO jagoan’’ yang sudah digadang-gadang menjadi ‘’pengantin’’ untuk acara ini, eh ternyata meleset. Sayang EO jagoan tersebut harus kalah karena sistem lelang yang transparan dari kementerian yang membuat EO kami menang. Yang pasti, Ibu Menteri dan Kementerian sudah mempercayakan event tersebut kepada kami. Kami juga melakukan tender secara fair. EO kami juga bisa diperiksa track recordnya. Itu yang menenteramkan hati.

Oh iya, nanti, akan saya ceritakan kebaikan Ibu Menteri di cerita yang lain (saya tidak menyanjung karena saya menang tender).

Saya berusaha kembali kepada pikiran positif. Selama ini, kami terbiasa dikritisi, diomeli ini itu oleh penyelenggara acara. Sebagai EO, kami tentu harus professional. Kami tidak boleh egois, penyelenggara acara harus menurut kepada kami seratus persen. Kami hanya membantu membuatkan konsep, yang dalam perjalanannya, pasti ada penambahan di sana sini, negosiasi, koreksi dan hal-hal lain, menyesuaikan situasi dan kondisi, demi kelancaran dan kesempurnaan acara. Saya dan kru sangat terbuka untuk dikritik. Tapi ‘’diskak’’ tanpa alasan, tanpa data, siapa yang tidak sakit hati? Meski berusaha menenteramkan diri, tapi sampai detik ini saya masih penasaran dan membutuhkan jawaban atas pertanyaan dari Pak Gubernur yang saya hormati.

Usai acara, saya tak kuasa menahan genangan air mata di kelopak. Saya menangis. Saya teringat Ibu, di saat memulai pekerjaan, saya selalu sowan untuk meminta restu. Termasuk ketika harus menjalani roadshow event di Blitar, Jakarta, Bogor dan Semarang. Buat saya, hari ibu itu setiap hari. Tanggal 22 Desember hanyalah penandanya saja. Saya mengadukan semua persoalan yang saya hadapi kepada Beliau. ‘’Sabar,’’katanya sambil mendekapku. Ah Ibu, satu kata darimu, menenteramkanku. Dalam hati aku mencoba berintrospeksi diri, mungkinkan kejadian yang saya alami ini, karena ada kesalahan yang saya buat terhadap Ibu?

Buru-buru saya peluk perempuan sederhana di depanku. Di belakang punggungnya, dalam hati saya meminta maaf. Mungkin ada kesalahan yang tak disengaja sehingga saya mendapat ‘’ironi’’ di Hari Ibu.
Ibu, maafkan, anakmu. Restumu, selalu menjadi bekalku melangkah!

Tentang pak Ganjar, walau mulai luntur kekagumanku, aku senang melihatnya di media pagi ini ditanya tentang testimony guyuran hujan beliu bertutur “Plan B nya sukses, dari sana langsung ke tenda sini”.

Matur suwun pak.

didiekbuntung

buntungsuwung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s