Hadroh Gloria

Hadroh_Gloria

Biasanya facebook mengingatkanku akan kenangan2 beberapa tahun lalu. Tapi kali ini ia tak menjangkau masa silam itu, untung masih segar ingatanku tentang semua kenangan indah natal yang sudah dua puluh tahun terkubur. Terlebih setiap masa adven mulai beringsut menuju natal, bak jamur mulai tumbuh, bunga desember (Scadoxus multiflorus) pun mulai merekah keluar dari umbinya, demikian pula kenangan itu.

Masa seperti ini biasanya sudah sibuk dengan konsep dekorasi natal, pernak pernik natal, pentas natal, latihan koor, drama natal dan berasa sok paling sibuk di dunia. Eh, gua pernah menjadi aktor Yusuf dalam drama natal lho. (Pamer, … siapa yang nanya). Pernah juga bikin acara “tembang-tembang natal” dengan jualan tiket berkonsep ala tembang kenangan indosiar. Tiket ludes dan hasilnya disumbangkan. Umurku saat itu 17 tahunan sudah menggawangi acara itu, bisa jadi embrio terbentuknya EO ku.

Kini, Natal bagiku cukup hanya mengingat saja, adalah lagu ‘ing ratri’ (malam kudus) waktu itu yang lebih bisa ‘ambyar’. Jemaat bermadah dalam keheningan kudus, suasana gelap selanjutnya cahaya lilin yang berjalan merayap, bukan flash layar handphone seperti sekarang. “Ing ratri, … ndalu adi, … wus nendro” demikian syairnya menyayat malam. Ambyar karena kuasa Tuhan.

Beda dengan ambyarnya syair didi kempot yang booming sekarang, ambyar karena sang mantan.

Saking semangatnya menyambut natal, pernah kami meminjam seperangkat alat musik rebana dari masjid untuk menggelorakan misa malam natal. Gloria kami arransir dengan interpretasi yang seadanya saat itu berirama qasidah. Namun sungguh tak kusangka justru sontak membuat meriah dan umat pun berdiri dalam sukacita bersemangat dan berseru : “Gloria … in ex celsis … deo …” Tak ada yang membisu, anak kecil hingga tetua semua menggemakan nyanyian itu dalam liturgi.

Kulihat beberapa sesepuh pemegang dogma gereja berdiri dalam keterkejutan. Antara ingin marah dan menghentikan, mereka melotot, tapi setelah melirik seputar kanan kiri dan ekspresi pastor yang terlihat enjoy, akhirnya ikut juga bersukacita dalam alunan hadroh tersebut. Bak ahli taurat yang kehilangan tongkat, mereka blingsatan tak karuan. Sementara dentuman rodad dan terbangan terus menggaung, teriring lengkingan lonceng hingga usai bait akhir. Gemerlap lampu natal yang bersahutan warna warni ikut menambah suasana.

Setelahnya umat berangkulan, bersalaman usai misa itu. “Sugeng natal, … sugeng natal … (selamat natal)” semua bersalaman membuat kemacetan di depan pintu gereja hingga jalan raya. Pamali jika melewatkan waktu untuk berjabatan tangan.

Tak ada pengamanan yang serius, tak ada posko natal, tak ada satgas karena semua berjalan humanis dan kekeluargaan. Sampai rumah pun kami saling bersilaturahmi baik antar pemeluk ataupun dengan pemeluk lain. Tradisi selamatan yang dihadiri pemeluk lain pun selalu dijalankan dalam balutan toleransi, bahasa kininya.

Kedangkalan makna Natalku saat itu, yang ku tahu setelah mengikuti prosesi itu semua, gegap gempita malam natal, baju baru, sepatu pun baru, yang berakhir capek, #Tuhan_pasti_menyelamatkanku, itu saja.

Sekarang menunggu bunga desember itu mekar penuh seperti bola merah, bersama Gloria itu didengungkan tapi jangan diiramakan koplo ya gaes. “Gloria … in ex celsis … deo …” Lihat saja komposisi yang apik oleh David Foster dan Andrea Bocelli dalam lagu itu “Angels We Have Heard On High”

Madahkanlah Gloriamu,
Gloriaku tak selantang dahulu,
Karena pita semakin tergores,
Oleh tajam aibku, yang kian meruncing.

Hidup ini semakin keras, lembutkanlah.


ngotewe jakarta ungaran

buntungsuwung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s