dari IBUDESA menuju IBUKOTA

Adalah kemaren sebelum ke ibukota saya sungkem dulu ke ibuku yang ada di desa (ibudesa). Dari jalan raya yang mulus hingga tertidur beberapa menit, tiba-tiba terbangun oleh gemuruh getaran ban. Kukira itu rumble trip (polisi tidur mini) disepanjang tol yang sering kujumpai, namun ternyata tidak. Kuberanjak dan kutengok, memang asli jalanan yang mulai tak rata pertanda memasuki perdesaan. Kutahu lereng bukit kendalisodo yang mulai menjulang hitam di depanku. Menara lonceng pun menandai desa itu.

Kulihat beberapa obor ditengah sawah dan kuyakin mereka mencari belut atau yuyu untuk dikonsumsi. Terbayar sudah oleh keramahan warganya. “Monggo mas” aruh sapanya sambil kusuruh buka kaca mobilku. Belum separo ditutup didepan sudah ada tegur sapa yang kedua, ketiga dan selanjutnya masih dalam anggukan : “monggo”. Dan kuputuskan kami buka saja kaca itu lebar-lebar serta kunyalakan lampu seterangnya.

Berhenti sebentar, seperti biasa beli bakso lek thukul dan sate untuk ibukku. Sampai didepan, anakku minta bakmi roban dan dalam pesan watsap temanku minta rica-rica rw cikwa atau mentir jajanan khas desa itu.

Dingin semakin menusuk bertiup udara beraroma kabut yang enggan tak jadi datang karena keburu tersusul rintik. Dan waktu baru jam 21.00 ternyata ibuku sudah tertidur sare.

“Emak, … mak … mak” teriakku sambil menggedor pintu sekencangnya laksana rusa mendamba air, rinduku pada ibuku.

Kubendung air mata ini agar tetap diam di kelopak saja. Ibuku membuka ‘cakil kayu’ (pengait pintu) hingga jatuh ke lantai : “klothak”. Ibuk melihatku terperanjat dan hanya bahasa kalbu. Dia malaikat pertamaku yang aku kenal sebelum istriku. Tanpa bilah kata satupun terucap beliau sudah tahu bahwa ada beban yang sedang menderaku.

Tak kuasa menahan air yang kian menggenang berat hingga pelipis ini. Satu sambaran petir saja sudah deras air mata ini. Seperti awan yang sedang menahan hujannya. Menunggu pawang memuntahkannya.

Pecah linangan ini saat dalam pelukan ibuk. Kekuatan kalbu yang melebihi pawang itu.

Itu saja dan tanpa hanyut dalam haru ibu menawarkan durian, mangga, dan pisang hasil panen kebun. Tersapu sudah air mata itu oleh rentetan temanku dan bau durian yang semakin menyengat . Ada sugian si tukang kayu yang lucu selalu garuk tangannya. Ada ondong tukang batu trendy dengan semir warna jambulnya yang selalu membuatku tertawa dalam kepolosannya dan kang pur pemain gitar bassku dulu yang selalu setia. Diakhir ada sugiyono si musyafir yang menggeluti dunia metafisika datang pamit ingin mengembara. Sungguh indah hidupku mendengar riuh cerita mereka di pendopo rumah tua ibukku. Menghidupkan hidup ini.

“Emak, … aku pamit ke kota” ijinku kepada ibukku.

“Hati-hati ngger” jawab ibukku sambil memberikan berkat tanda salib di dahiku. Yah, jadi teringat masa-masa sebelum dilarang makan roti tak ber ragi itu.

Dari situ ku melanjutkan petualangan event ke ibukota.

Melaju menyusuri tol, dengan jalan yang halus tapi justru sengaja digurat dengan polisi tidur agar bergemuruh saat titik2 tertentu. Kontradikrif dengan jalanan desaku. Masuk ibukota, kulihat mata-mata yang tajam tak seperti dikampungku. Kuingin menyapanya seperti di desa, kubuka kaca namun justru lenyap handphoneku disambar mereka. Yah, mereka secara terang-terangan menjambretku di seputar tugu tani itu. Ahh, … didepan tugu lain sudah dihentikan mobilku karena hari ini seharusnya plat ganjil. Repot amat ingin menemui ibukotaku saja.

Kusampai di tugu lagi yaitu monas. Kupandangi tinggi menjulang, mengingatkan tugu lonceng di desaku. Tinggi megah dengan sejuta kenangan menguburku.

Melaju terus dan menghibur diri dengan membaca brand-brand yang tak kujumpai didaerahku. H&M, Zara, Mango, Pul n bear dan sederet merk baju lainnya yang menyemangati ku. Rupanya mulai terpupuk gaya hedon. Ah, entahlah … dari pusaran hati menyeruak ketegangan.

Bersambung next …

buntungsuwung

https://arjunalife.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s