PILIH MUNDUR ASN DEMI PASSION

https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/178258/pilih-mundur-dari-asn-demi-passion

Berbeda dari kebanyakan orang yang kini berlomba-lomba ingin menjadi aparatur sipil negara, Didiek ‘’Buntung’’ Prasetya yang sudah menjadi ASN, justru mundur dari zona nyaman itu. Dia memilih menggeluti dunia hiburan, bidang yang menjadi passion-nya.

BELASAN tahun sudah Didiek Prasetya menjadi ASN. Sejak 1998, dia menjadi ASN di Bagian Sandi dan Telekomunikasi (Santel) Setda Pemkab Semarang. Meski sudah hidup di zona nyaman, Didiek merasa masih ada yang kurang.

Di sisi lain, Didiek yang dikenal sebagai pemain musik organ andalan itu sangat bergairah saat berbicara tentang bagaimana mengorganisasi sebuah event. Dia menemukan ‘’dunia’’-nya. Dorongan itu yang membuatnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari ASN (tanpa mendapat uang pensiun) pada 2015.

Tertantang ingin menekuni bidang yang menjadi passionnya, yakni dunia entertainment dia pun mendirikan Potensindo Group Event Organizer (EO) dan menjabat sebagai direktur. Kesuksesan pun diraih pria yang akrab disebut Didiek ‘’Buntung’’ itu.

Namun kesuksesan yang diraih itu, tidak datang begitu saja. Kesuksesan itu juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang pengalaman yang diperoleh dari keluarganya. ‘’Yang saya ingat setiap petang para pemuda dan pemudi berdatangan ke rumah ayah saya di Glodokan Bawen. Mereka membentuk grup-grup kecil.

Ada paduan suara, gambus ataupun keroncong. Mereka berlatih di bawah kendali ayah saya. Telinga saya setiap kali disuguhi irama- irama itu,’’ kenang Didiek yang dalam tujuh tahun terakhir sukses meggelar berbagai event besar di sejumlah kota di Indonesia. Saat kelas 5 SD, dia telah dilibatkan sebagai organis gereja (tahun 1986).

Mulai saat itu, musik adalah segalanya yang mengisi ruang waktu Didiek. Setiap minggu, dia harus mengolah tujuh lagu baru untuk pujian. ‘’Saya lulusan STM Pembangunan Semarang (SMK 7), dan pada 1995 sempat kuliah di ISI Yogyakarta Jurusan Musik. Namun tak tamat.

Saya lalu bekerja di perusahaan kertas di Bawen. Pada 5 April 1997, saya kecelakaan kerja hingga merenggut keempat jari tangan kiri saya,’’ kata anak ketiga dari ‘’Pandawa Lima’’ itu. Semula, kecelakaan tersebut membuatnya turun semangat. Namun akhirnya, kejadian itu memotivasinya untuk berkreasi tinggi. Suami Lucia Arry itu pun mendirikan grup-grup musik.

Tampil di TVRI

Kelompok Didiek Musik dan Campursari Irama Manunggal mencapai puncak saat mengisi acara live TVRI Jateng pada 2005-an. Ini membuat namanya lebih melambung. ‘’Setiap hari pasti ada jadwal panggung juga,’’ ingatnya. Waktu terus bergulir. Pada 1998, Didiek mencoba melamar menjadi PNS. Dia pun diterima di Bagian Sandi dan Telekomunikasi Pemkab Semarang. Sebelumnya, Didiek pernah ikut pendidikan Juru Sandi di Jawa Tengah dan berpredikat lulusan terbaik sebagai sandiman.

‘’Ketika saya memutuskan keluar dari PNS pada 2015, keluarga saya tidak ada yang keberatan, dan biasa-biasa saja, karena keluarga memahami dunia saya sejak kecil,’’ tegasnya.

Di sela-sela menjadi pegawai negeri, Didiek masih banyak manggung. Lalu dia mendirikan Potensindo Event Organiser (EO) dengan akta pendirian 2007. Tahun 2012, Potensindo mulai menerima pekerjaan-pekerjaan tingkat nasional, seperti Jambore Penyuluh Kehutanan se-Indonesia di DIY, Soropadan Agro Expo di Temanggung.

Selanjutnya pada 2013 Gelar Seni Budaya Lampung, dan Gelar Seni Pesisir Tuban. Pada 2014 mendapat job Pameran Seni Rupa di Galeri Nasional. Pada 2015 menghelat Apresiasi Film Indonesia (AFI) di Yogyakarta. ‘’Tahun 2016 saya mengerjakan Festival Keraton Nusantara di Pangkalan Bun, Fabriek Fikr di Solo, Bamboo Bienale (Solo), dan LKS SMK Nasional di Malang,’’ ujarnya.

Pada 2017, dia dipercaya menggelar Festival Qasidah tingkat nasional di Padang. Lalu pada 2018, mengerjakan Debat Pilgub Jateng, Borobudur Art Festival, Parade Seni Jawa Tengah, Siberkreasi Netizen Fair, dan Festival Kopi Jawa Timur. Pada 2019, dia pun mendapat pekerjaan menggelar Festival Buah Jateng dan Apel Kebangsaan di Semarang.

‘’Dalam Apel Kebangsaan itu kami mendatangkan 130.000 orang. Mereka mendapat suvenir Merah Putih dan snack. Penonton disuguhi hiburan empat panggung yang tersebar di Simpang Lima dan jalan-jalan sekitarnya. Ada Nella Kharisma, SLANK, Letto, Armada, Virzha, dan lain-lain. ‘’Acara juga dihadiri KH Maimoen Zubair, Habib Luthfi, Gus Muwafiq, dan Gubernur Ganjar Pranowo, serta berbagai tokoh masyarakat.

Berkreasi Tanpa Batas

Didiek mengaku, tak mendapatkan teori khusus atau pendidikan tentang event organizer (EO). Sebab, semua yang dijalani saat ini berbekal pengalaman dan jam terbang yang tinggi. Hingga kini, dia bisa merekrut bahkan mensertifikasi hampir semua karyawan di bidang meeting, incentive, conference, and exhibition (MICE).

Bahkan, Potensindo juga mempunyai workshop khusus untuk produksi material event seluas 1.000 m2. ‘’Ada 20 karyawan Potensindo tersertifikasi MICE,’’ tandasnya. Sebagian karyawannya adalah anggota kelompok musik dan teman-teman di Kampung Glodokan Bawen.

Ruh event, menurut Didiek, ada di sumber daya manusia. Tidak semua orang mau kerja di bidang EO. Butuh tenaga dan pikiran yang ekstra maju untuk menangani suatu event. Karena itu, suatu acara biasa harus menjadi luar biasa tatkala disentuh ide-ide jahil EO,’’ tandas Didiek yang selalu tampil kalem itu.

Menurutnya, EO bertugas membantu klien mengatur acara agar berjalan lancar. Tapi, bagi Potensindo tidak hanya itu. Bagi dia, acara tidak hanya lancar tapi harus luar biasa outputnya. ‘’Apa pun yang terjadi, usahakan tidak akan membuat repot klien, karena kami tak sekadar business partner tapi juga melayani mereka.

Berapa pun minimal anggaran, kami tetap akan berkreasi tanpa batas, karena audiens tidak mau tahu itu,’’ paparnya. Potensindo terbiasa bekerja total dan profesional yang diatur dalam kontrak. Hal yang sering terjadi adalah pekerjaan yang tidak diatur dan tidak ada dalam kontrak tetapi harus dilaksanakan. ëíPadahal kami sudah tak ingin merepotkan klien.

Yang terjadi adalah kadang nombok, tergantung kebaikan hati userdi akhir pembayaran nanti,’’ ungkapnya. Bersama 20-an anggota tim yang berkantor di Ungaran, Didiek terbiasa hidup nomaden ke sana kemari untuk menghelat event di seluruh Indonesia. ‘’Monster apa kami ini, ratusan kali dibuat stres karena event, tapi selalu mencarinya lagi.

Di saat orang lain ingin selalu dalam zona nyaman, kami selalu menantang cari kerumitan baru. Event memang rumit dan kami menyukainya. Ibarat bermain teka teki balok rubik, sudah selesai game akhirnya dengan suatu warna yang indah, kini diputar lagi untuk warna selanjutnya,’’ papar Didiek. Dia selalu menargetkan, setiap event harus dipadati pengunjung.

Tak sukses jika tak membuat lumpuh suatu kota. Beberapa orang bertanya bagaimana mengatur massa sejumlah itu? ‘’Tak rumit karena pengalaman telah menempa kami menyelesaikan hal itu. Untuk hal ini kami bagi menjadi beberapa ring sesuai standar operating procedurekami.’’

Potensindo pun memiliki workshop sendiri khusus untuk pameran. Pihaknya juga ingin tampil unik. Karena itu, barang-barang, seperti partisi gate dan lain-lain diproduksi sendiri dan tidak ada di persewaan lain. Potensindo berkreasi sendiri dengan ide kreatif dan persetujuan klien.

‘’Kami punya lima desainer yang masingmasing mempunyai spesialisasi tersendiri, ada arsitektur, 2D, animasi, layout 3D, dan videografer. Bayangkan jika mereka berlomba2 menumpahkan idealismenya apa yg akan terjadi? Pastinya tim produksi dibuat repot,’’ tegasnya. (Rony Yuwono-41)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s