‘Pohon Nangka’ mistis yang kini lebat tanpa kusiram

Belakangan ini setiap bangun tidur kuterusik dengan wewangian. Barangkali mistik atau apalah hingga menggerakan energi kosmos dalam spiritualku. Kupendam rapat dan menyirnakannya dalam aktifitas biasa yang sewajarnya.

Adalah pagi ini, saat aku menikmati lamunan pagi diatas kursi goyang, berteman jadah bakar, tiba-tiba seorang sahabat (mas darno) tergesa-gesa dan bertutur demikian : “bos, (panggilan akrabku olehnya) buah nangka di samping rumah sudah masak dan siap dipanen”, katanya.

Kubingung, pohon yang mana?

Kubergegas menuju kesana dan kaget kumelihatnya. Pohon nangka sebatang kara tanpa anak-anaknya, yang sudah mulai merenta tua. Tapi kini dia justru menunjukkan kesegarannya. Berdaun lebat dan buah pun bergelantungan tanpa noda hama seperti biasanya. Batangnya semakin kokoh walau harus menahan beban dahan yang terus menjalar. Meranting pun tidak. Akar menjalar kemana-mana membuat kokoh hidupnya. Walau beberapa daun ada yang mulai menguning tapi tak meranggas, demikian pula parasnya tak memudar.

Oiya, … sedikit mulai teringat, ternyata telah lama kumelupakannya.

Semakin kuat aromanya melonggarkan nafasku. Hati bertambah nyaman seakan kutemui kembali. Nafsu kesumat tak terbendung ingin menggapainya.

Kerindangan daunnya membawa kesejukan.

Kekayaan buahnya melambangkan kemakmuran.

Kekokohan dahannya pertanda kejayaan.

Kelebatan daunnya menawarkan pengayoman.

Dan aroma buahnyanya mengundangku untuk bercengkerama.

Dan kutersadar, rupanya inilah ‘aroma mistis’ itu berasal. Sengatanya berhasil menggelorakan jiwa ini.

Bagaimana mungkin itu terjadi? Menyiram, memupuk, bahkan menengok pun tidak apalagi memikirkannya. Iya, memang benar aku dulu pernah menyemainya”

Tak mungkin kumenyemainya kembali.

Seolah tak percaya, kupandanginya terus pohon itu tiada henti. Dulu dia menunduk kurus, tapi kini justru ku yang tahu diri. Kutundukkan diri dibawah ketegarannya. Sungguh malu diri ini.

Kupanjat buah itu, tapi kutak berani memakannya. Kutinggal pergi begitu saja. Seorang sahabat lama berkepala botak klimis tiba-tiba mengantarkan membawakanku buah itu kepadaku. Kulihat pada sebuah nampan, kuning cerah menganga keblingsatan. Menerobos tersipu, kumakan buah itu walau diri ini malu.

Aduhai, rasanya manis legit matang dengan sengatan keharuman yang tak kunjung memudar. Iya, ingat buah ini aku pernah memakannya. Seketika menetes air mata ini.

“Dulu yang kulihat hanya getahnya yang pekat selalu mengotori tangan dan mulutku, tapi kini getah itu tak terlihat sedikitpun mengotori, karena hancur tertelan manisnya nangka”

Kulihat isi buah nangka (namanya: ‘beton’) itu berserakan kemana-mana. Kupungut dan kukumpulkan semua untuk kurebus. Kutersadar, berapa kali beton itu dalam kuluman mulut mereka? Berapa orang mengulum beton itu? Apakah juga masih berlendir jika dalam rebusan ini? Ah jorok.

Apakah selalu menuruti nafsu si ‘beton’?

Akhirnya kusudahi niat itu. Cukup kumelihat kesuburan ‘pohon nangka’, hijau, lebat, kokoh, dan ketegarannya saja sudah cukup membahagiakan diri ini. Apalagi ditemani bakal betonku yang kini sudah beranjak dewasa.

“Menunggu beton itu bertunas, dan kutimang bakal tunasnya, itu sudah luar biasa”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s