Maafkan Ayahmu nak …

(Sebuah lamunan fiksi #buntungsuwung)

Sungguh beratnya menyandang marga keluarga besar yang ‘tanpa cemar’. Setiap waktu hidup dalam aturan ‘jaga nama baik keluarga’. Digembor-gemborkan dan selalu diperbandingkan dengan keluarga lain tanpa menghargai hakekat hidup dan jati diri masing2. Berbuat benar saja belum tentu benar, apalagi salah. Salah dan benar hanya ada di kepala suku. Suatu saat kudengarkan pidato itu :

“Kalian harus jaga nama baik keluarga ini. Sukses seperti para pendahulu keluarga kita. Jangan kau nodai nama besar keluarga ini. Jika tidak sanggup keluar saja dari marga ini”

Hanya nama besar yang diagungkan tapi tak ada upaya pendekatan dan pendampingan. Demikian aku terbawa dalam pengaruh itu. Sehingga aku turunkan kepada anakku. Suatu saat menjelang ujian aku sampaikan kepada anakku thole begini :

“Nilaimu harus bagus agar kelak jadi orang yang berguna, terlebih tidak memalukan orang tua dan jaga nama baik keluarga”

“Nggih pak” jawab anakku. Mulai saat itu dia belajar terus dan sesekali kudampingi saat ku dirumah. Dan kulanjutkan seperti ini :

“Jika nilaimu jelek apalagi tidak naik kelas, tidak usah pulang saja thole”

Pesanku memotivasi. Dan tibalah saatnya penerimaan raport kenaikan kelas. Anakku berkata dengan lirih : “pak, ini undangan pengambilan rapotnya, besok adik nggak ikut, mau bantu-bantu di rumah” katanya. Kuiyakan dan kutanyakan : “nilaimu bagus kan?”

“Emm … iya pak bagus kok” jawabnya.

Kutemui wali kelasnya, karena saya diundang khusus di ruangan guru bersama kepala sekolah. Dikisahkan kenakalannya dan yang membuat kukaget ketika disampaikan bahwa :”maaf, … anak bapak tidak naik kelas”

Seketika langsung lemas badan ini, dan terlalu beban, bagaimana dengan keluarga besarku nanti? Apa yang harus kusampaikan? Pikiran berkecamuk itu terus. Bayang-bayang keluarga besar terus membebaniku. Dan akhirnya saya pun pulang. Kupanggil anakku : “thole?”

“Thole, kemana kau, bapak sudah pulang” teriakku. Kucari dimana-mana tidak ada dan ternyata dia pergi meninggalkan rumah sejak kuberangkat ke sekolahnya. Rupanya dia sudah tahu kalau harus tinggal kelas.

Kucari kerumah saudara nggak ada. Hari terus bertambah sepi dan tak ada tanda tanda tentang keberadaanya. Semakin buntu dan dan kami pun patah semangat. Hingga melunglai tubuh ini. Ibunya bahkan tak kuasa menahan derita ini hingga terpaksa opname di rumah sakit.

Belakangan kuketahui dari seorang sopir bahwa dia menyebrang ke pulau bali jadi kernet truk mengangkut lombok. Dia mau menunjukkan jati dirinya dan kasihan kepadaku harus menanggung beban keluarga. Dia mau hidup mandiri dan akan kembali besuk jika sudah sukses.

Akhirnya kutanyakan kepada komunitasnya dan membenarkan dia. Sulit mencarinya karena masih belum berumur, sehingga tanpa identitas. Hari-hari kuhabiskan di penyeberangan gilimanuk untuk menemuinya. Sementara istriku semakin parah sakitnya.

Tiba-tiba kudapatkan informasi keberadaanya di sebuah kafe di jalan legian bali. Langsung kebergegas kesana. Tak kutemukan dia, mau tanya pun kepada siapa? Degub suara diskotik yang kencang semakin menegangkan. Disana sini kulihat banyak yang sudah sempoyongan. Lampu gemerlap, gadis2 menawarkan pijat, dan keramaian yang tak bersahabat. Kulihat kerumunan mengelilingi sesuatu, ternyata itu anakku. Sudah terlunglai lemah tak berdaya. Langsung kugendong dan ku larikan ke rumah sakit.

“Rumah sakit mana pak” tanya sopir taksi tersebut.

“Terserah, saya nggak tahu harus kemana” jawabku.

“Maafkan thole pak” kata anakku dalam lunglainya.

“Thole pingin hidup sukses pak” lanjutnya.

Kuciumi dalam tangisan yang tak tertahankan. Tak kuasa melihatnya dalam kondisi over dosis. Begitu turun menuju UGD langsung dilakukan penanganan. “Tolong dokter, upayakan maksimal. Dia anak saya” teriakku sambil menangis. Dan akupun disuruh keluar.

“Keluarga thole silakan masuk” kata suster itu.

Akhirnya dokter menyuruhku duduk dan akupun tak mau. “Bagaimana anakku dokter, baik baik kan?” Bentakku. Sambil berkalung stateskop dengan nada lemas, dokter memandangiku. Kulihat sorot matanya aku sudah tahu isi pesan dokter.

“Kami sudah melakukan upaya semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain” kata dokter.

“Tidak, tidak …tidak mungkin … thole … thole … jangan pergi” kataku

Habis sudah perasaanku dan kusangat menyesal atas kata-kata tak pantas kepadanya. Egois sekali aku yang harus memaksakan anak dalam bilah nama besar keluarga. Tak memperhatikan jati dirinya.

Seminggu kemudian baru kukabarkan kepada ibunya. Karena kondisinya yang kritis terus-menerus menanyakan : “thole dimana?”

Bingung menjawabnya dan terpaksa kuharus mengatakannya bahwa thole telah tiada.

Dan menyusullah ibunya menuju alam baka. Habis semua harapanku. Hilang sudah semua orang yang kucintai.

Ternoda sudah dinasti itu

Hati-hati berbicara kepada anak

https://arjunalife.com

#buntungsuwung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s