TRAGEDI TOILET (part-4) Poli

Senja di poliklinik pada sebuah ruang tunggu umum berapa tahun yll, bau mengambar2 dan kusangat mengenalinya, iya betul aku tahu itu … Kepada si bungsu kupesankan :
+ nak, jangan duduk disitu, kesini saja bau lho.
– ya
+ kok masih bau ya, duduk diluar saja yuk.
– ya. Namanya saja rumah sakit, pasti banyak yg sakit.
+ rupanya harus lebih menjauh nak, ayok langsung apotik saja.
– ya. Sabar jangan marah.

Kami pergi 50 meter menjauh menuju apotik dan kududuk di ruang tunggu juga.
+ kok masih bau ya, jangan2 kamu yang cepirit.
– gak, senengnya nuduh sembarangan, aku mesthi ngomong to. Paling orang itu lho, yang tadi ngantri juga di poliklinik.
+ oh … oke. Sorry.

Bau semakin menusuk padahal sudah tidak ada satu orangpun disekelilingku kecuali si bungsu. Langsung kupaksa dengan sedikit membentak :
+ berdiri dan ayo ke toilet sama pa2!!
– ya.
Sesampai di wc aku buka dan Astaqirullah sudah lengket semua. Tetep masih ngeyel :


– lha nggak terasa. Biasanya bunyi lha ini nggak.

Begitulah ngeyelnya si bungsu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s