Tak ada kelingking, ibu jari pun jadi

“Kamu mau coblos siapa di pilgub nanti?” Tanya mamanya kpd si gendhuk.
“Rahasia” jawabnya
Kembali ia menimpali : “lho sama ma2nya kok rahasia?”
“Iya gpp to” eyelnya

Kulanjutkan pertanyaan kepada mereka : “pemimpin seperti apa yang patut kalian jagokan?”

“Aku ingin ada warna baru di era kepemimpinan nanti” jawab si sulung. “Bijaksana dan tak banyak bicara” imbuhnya pula.

Dan gendhuk pun selanjutnya nyeletuk : “Kalau aku suka pemimpin yg terdahulu, ganteng, … istrinya cantik dan putranya pun tampan pula. Oiya … oiya … gaya tutur bahasanya yang komunikatif ekspresif aku suka. Serius …. serius aku suka yg itu”

Nampaknya mereka selalu mengikuti event debat pilgub yang sering kami helat.

Namun demikian kupaham apa yg mereka maksud dan siapa yang akan mereka pilih. Nampaknya mereka punya pilihan yg berbeda. Tak mengapa dan kusuka gairah itu.

Sejatinya kupunya kuasa untuk memaksa mereka dalam satu pilihan. Sungguh sangat bisa, namun aku tak mau beropini utk menggiringnya kepada paslon tertentu. Kubiarkan nalar berkembang menaunginya, lagian aku tak cukup ilmu untuk mentelak mereka.

“Kalian sudah besar, dan dianggap dewasa menentukan pilihan untuk itu kamu diundang, tentukan suaramu jangan golput. Kalian dengan otensitas yg kalian miliki pasti punya insting masing2 untuk bersuara yang mungkin tak sama. Tak ada keterkaitpautannya dengan agama maupun radikalisme. Yang ada politik” ujarku sedikit menggurui.

“Trus seperti apa pemimpin idaman papa?” serentak mereka mulai mengkoyak balik menyerangku.

“Siapapun yg jadi, yang penting harus melanjutkan program yang terdahulu ada, sebelum bermanuver dengan proyek2 baru. Bayangkan berapa trilyun uang dihamburkan jika setiap ganti pemimpin langsung babat habis ganti kebijakan baru, sing penting bedo karo mbiyen”

Sambil manggut2 mereka nampak skak maat melihat pa2nya yg tumben encer.

Barangkali kehabisan bahan, si gendhuk memandangi tangan kiriku dan melanjutkan tanya yg tak bermutu diluar konteks: “terus terus terus … bagaimana nanti pa2 mencelupkan jari kiri?”

“Ada solusi, lihat aja nanti” sahutku

Dan kusudahi nasehatku untuk selanjutnya kami berempat menuju TPS.

“Ini oleh2nya” sambil kutunjukan ibu jariku yg sudah tercelup tinta.

“Kok bisa, bukankah harusnya kelingking kiri?” Celanya

“Dalam politik ada negosiasi, demikian pula tadi dan kelak” ungkapku sambil mengusap-usap bekas tinta menggunakan tisu pemberian kpps yang tak lain adalah tetangga baik.

Sementara si sulung yang tak banyak bertutur hanya menggoda dengan bahasa tubuh. Menggiringku ke kubangan hingga aku keseleo jatuh. Beneran aku nggak bohong. Kaki kananku bengkak terkilir hari ini.

“Hati2 bicara politik bisa2 nanti keseleo” sindirnya.

buntungsuwung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s