Homeschooling si Ragil

Kampus si ragil

Tumben si ragil sudah dirumah malam ini. Biasanya masih ulet ngurus rentalnya (marko transport). Seketika kusuruh beli nasi bungkus.

“Je, tolong beliin makan, mama dan kakak nasi goreng tanpa kecap extra telur dadar. Bapak tahu campur dan kamu pilih rw mestinya” suruhku kepada si ragil.

“Inggih siap” jawabnya.

Kemudian kami pun melakukan perjamuan nasi bungkus bersama di singgasana kami.

Tiba tiba si ragil menyela: “Pak, besok sekolahku gasik, anterin ya”

Kuiyakan dan setelah makan dia bergegas lari naik tangga menuju lelapnya. Sebelum dia masuk kamar kuteriakkan : “kadingaren kamu gak keluar malam?”

“Tidak, pokoknya aku mau tidur gasik malam ini” teriaknya sebelum menjebloskan menutup pintu kamarnya.

Iya, semenjak di home schooling dia rajin dan kian semangat. Riang gembira tidak seperti dulu yang selalu murung tertekan jika malam. Seperti ada beban untuk hari esoknya.

Pagi ini lebih awal dia sudah siap dengan dandanan keren nan wangi. Sepatu kets, sweeter, dengan rambut abu-abu model masa kini. Membangunkan aku seraya berbisik : “ayo antarkan ke sekolah, aku sudah siap. Tapi nanti ditungguin ya pak sampe selesai”.

Kujawab : “iya nak” dan kupandangi dari atas kebawah sambil kuberkata lirih : “wow keren sekali pagi ini jangan-jangan ada yang kamu taksir di kampus itu”.

Dia menimpali : “nggak ya. Bapak ngawur saja !”
Jawabnya semakin emosi dan protek hingga semakin kuyakin berarti iya.

“OK Sana keluar dulu, beri waktu 10 menit bapak untuk persiapan” ucapku.

Akhirnya kami berangkat dan si ragil yang pegang kendali atas gerobak putih besutan mitsubishi yg telah 5 tahun kupakai ini. Hanya 200 meter dari gerbang rumah kami adalah pintu tol ungaran. Demikian halnya, 500 meter keluar pintu tol keluar banyumanik adalah kampus si ragil. Praktis hanya butuh waktu 10 menit jika kami kebutkan roda tua ini.

Sesampainya, dia langsung lari bergabung bersama teman2nya. Hilir mudik kesana kemari.

Berbagai jenis lomba dia ikuti. Ya aktifitas seperti inilah yang dia mau. Ternyata ini yg dia idamkan, belajar ya bermain itu. Masuk sekolah hanya 3x seminggu.

Selebihnya dia di rumah, menyalurkan hobinya di bidang otomotif yg kini merambah bisnis. Jika berhalangan ke sekolah, guru pun bisa datang ke rumah.

Untung ada intuisi yang mau menampung minatnya.

Bermainlah sebelum bermain itu dilarang nak.

buntungsuwung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s