Edmund

Idolaku, Romo Karl Edmund Prier piawai not balok yang kena bacok
————————————————————————————-

Tak ada pilihan kala itu, saat aku masih duduk di bangku kelas 5/6 SD, yang harus menggantikan tugas rutin kakakku sebagai organis di kapel. Kakakku melanjutkan studi ke kota sunda kelapa hingga kini menetap disana dan masih aktif di blantika musik.

Senja sekitar 30 tahun yang lalu pada sebuah ruangan 3×4 meter berdinding kayu jati, dengan plafon anyaman bambu (gedeg) dan beralaskan mosaik alami tanah, aku ditempa secara instan oleh kakak dan ayahku (alm) untuk mengiringi lagu. Kakak mengajari teknis bermain secara cepat dan benar, sedangkan ayah lebih ke feeling dan improvisasi bermusik. Mereka semua beruntun memotivasiku kilat. Yamaha Portasound pss 260 menjadi saksi bisu.

Berawal dari situlah aku mulai mengagumi Romo Karl Edmund Prier lewat karya, gubahan maupun aransemen yang namanya selalu tercetak di sudut kanan atas teks. Seperti apa sosoknya? (asaku hendak menemuinya)

Aku tak kenal not balok. Aku hafalkan notasi kemudian aransmen not angkanya secara berulang-ulang baru aku mainkan lewat tuts mungil elektrik itu. Tak ada yang membimbingku, google dan youtub pun belum ada. Semakin banyak karya yang kuhafal semakin pula kumengidolakan beliau, hingga kuberanikan diri untuk berkirim surat dengan alamat yang tertera pada buku madah bhakti panduan pujian kami, yang kuingat jalan itu Ahmad jazuli …

Beranjak dewasa aku mengikuti kursus musik jarak jauhnya (KOGJJ) walau tak tuntas terkendala komunikasi. Kami saling berkirim pita kaset. Buku Ilmu Harmoni warna ungu karya beliau cukup menginspirasi sehingga tidak membuat sumbang iringanku, buku ilmu melodinya (dieter mack) bisa meliukkan jemariku untuk berimprovisasi.

Baru sekali aku melihatnya dan berhadapan secara langsung. Itu pun sedikit kusengajakan memaksa rasa malu saat aku melaksanakan praktik kerja pada SAV Puskat.

Saking ngefansnya kuberi nama anak sulungku “Edmund”.

Kemaren beliau (romo Prier) menjadi korban penyerangan dan pembacokan oleh seorang pria di Gereja Katolik St. Lidwina saat misa pagi, semoga segera sembuh dan pulih kembali agar bisa berkarya di musik liturgi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s