Mulia

(Sebuah puisi perpisahan karyawan)

Kau tanggalkan jabatan pada sebuah perusahaan sang goliat itu, empat tahun yang lalu, hanya ingin bertengger pada kami si daud kecil. Demikian kabar yang tersiarmelalui dara bertahi lalat yang juga sahabat sejengkal dari rumahmu.

Ratusan juta tiket kau berhasil jual kala itu, namun tetap lebih besar pasak, daripada tiang.

Receh kau dapatkan … sesal kau terima … angkara kau dapatkan …

Krisis pun melanda kami, daud kecil. Helai demi helai, kami sobek.

Dan hanya seumur jagung bisnis itu.

Almanak berjalan terus menerjang hari. Hanya paksa yang memaksa kami mengais rejeki.

Strategi baru kutemui. Nafsu ingin meraksasai bumi.

Festival Buku itu kau awali di kota gudeg.

Sosialisasi Sekolah, …  setahun kau mengitari bumi pertiwi.

Pengharhagaan Energi, … setahun juga kau PIC

ARJI , … pun juga setahun kau genapi tahun ini.

Mungkin masih ingat, …

Tepak nasi mu yang dilempar … pialamu diejek … eomu dicap ecek ecek …

Kau di barisan terdepan menghadapi bullian user.

Kau di ujung depan membawa kami melangitkan doa dan harapan harapan ini

Kini bullyan tersebut mendewasakan kita,

Doamu membesarkan kita,

yang akan menjadikan raksasa yang tahan akan serangan daud.

Lambat laun tergenapi.

Sejuta bonus menghampiri

Bonus Rumah pun telah menanti … di depan mata.

Namun … justru kini kau hengkang diri.

Saat kutanya apa rencanamu kau jawab :

“Saya akan full pelayanan di gereja dan membantu kakak jual nasi goreng”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s