Vodka nenek

roadtokoeswomuseum

Kupandangi hampir setiap malam ayahku membuka almari jumbo terbuat dari jati tua dengan dua pintu model kuno setinggi 3 meter itu. Secawan anggur ketan hitam dan sesloki cairan kental berwarna kuning yang bergambar orang tua berjenggot di konsumsi setiap musim dingin tiba.

“Ini adalah jamu untuk orang tua, agar bisa kuat dan kembali bekerja” ucapnya setelah melihatku yg tiba2 sontak menyelinap.

Ku hanya mengangguk dan berdiri terdiam sambil penuh mengamatinya.

Selanjutnya ayah kembali menuju ruang kerja melanjutkan malamnya bersama timah panas yang selalu menganga.

Saat kumulai besar, aku cari kerja sambilan. Disamping kerjaan utama adalah bungkusin es lilin ibuk. Aku kerja sbg tukang petik cengkih ditempat siapapun yg sedang panen.

Tiba2 terasa capek juga badan ini, dan sekilas teringat ayahku, agar bisa kembali beraktifitas harus minum jamu. Apalagi cuaca saat itu sangat dingin.

Aku beli jamu itu pada toko tua langganan ayahku. Ternyata yang kupinta sudah tidak ada. Dan aku ditawari merk lain yaitu mdonal atau vodka. Kupilih vodka karena botolnya ramping.

Kutenggak malam itu bersama temenku yg sudah tiada. Puguh namanya. Cuaca dingin disertai angin lebat melanda desa kami saat itu. Genting2 atap pun ikut runtuh.

Saat itu aku dirumah hanya bersama nenek. Sedangkan Ibuk, adik dan kakak semua pergi ke jakarta acara melayat saudara. Sementara aku disuruh jagai nenek dirumah.

Nenek duduk di lincak sebelah dalam nonton acara TV sendirian. Apapun acaranya suka yg penting gambarnya jelas. Sedangkan aku duduk di ruang tamu bersama si Puguh pada kursi bagong.

Per sloki kami menenggak cairan putih vodka jumbo tersebut. Bedanya dengan ayah, kalo ayah cukup satu sloki setiap hari, tapi kalau aku langsung bersloki-sloki sebulan sekali. Semakin segar dan renyah gurauan kami berdua. Bercerita ke utara ke selatan (ngalor ngidul) ra karuan genahe.

Tiba2 nenek yg kedinginan menghampiri kami.

“Ngombe opo kuwi?” Tanyanya

“Jamu …. ha ha ha … ” jawab kami serempak sambil tertawa.

Selanjutnya nenek datang membawa cawan dan berkata : “sini minta sedikit”

Kutuangkan cawannya sekitar 2 sloki dan akhirnya kembali nonton tv. Nenek mulai berisik sendiri dan tiba2 datang lagi.

“Kok enak, anget, minta lagi” ucapnya.

Kembali kutuang namun sedikit, karena sudah akhir sisa kami.

Selanjutnya kutengok nenek sudah tidur mendengkur di depan layar kaca. Diatas lincak dan kuambilkan selimut dek bergaris putih hitam klangenannya. Kuambilkan juga bantal agar lebih nyenyak dan kusiapkan tremplong urinal untuk pipisnya.

Dan akupun ikut terlelap tidur nyenyak hingga pagi didepan TV.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s