TRAGEDI TOILET (part-7) wastafel

Hidupku diatas roda, hari ini di magetan besok ke kota blitar. Jadi maklum ceritanya seputar kuliner jalanan atau toilet.

“Sandal harap dilepas” tulisan terpampang jelas kubaca sambil ngampet tak karuan. Kuikuti perintah itu sambil tergesa melantai. Semakin kedalam bukanya bersih tapi kok justru becek pasir campur tanah. Gak karuan.

Kubuka bilik itu, masih kotor dan bau pesing makin menusuk tak tahu sumbernya. Tahu gitu sandal tak kulepas. Bergegas masuk kucari pengaitnya gak ada, ternyata pakai paku pada seutas tali, menggantung mengganjal lingiran pintu. Membuat tambah kesulitan memicu emosi. Kukunci dan segeralah ritual melepas urin dimulai.

… gemericik …. (emosi pun mereda)

Ealah, elok tenan … yang dihadapan kukencingi ternyata adalah tak lain jebulnya wastafel. Menganga lebar dengan kran ditengahnya. Ngakak halus … wk wk wk …

Bergegas kusiram dan segeralah ku menuju keluar. Kulihat bapak berkalung handuk kusut sambil bawa sikat gigi. “Monggo pak” salamku hangat yang dibalas senyuman.

Besok kalau bikin wastafel konstruksinya yang agak tinggi ya sob dan dpasang diluar saja.

Kukisahkan kepada seisi mobil, jawabnya sangat singkat tapi kejam : “faktor U pak”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s