TRAGEDI TOILET (part-5) Sambutan

Ketika itu aku bersama keluargaku menghadiri opening ceremony sebuah pameran buku di kota gudeg. Kami berlima menginap di hotel yang kebetulan bersebelahan dengan venue event tsb. Tiba tiba si bungsu mengingatkan : “pak, wes yah mene kok gak persiapan”. Ternyata benar, kulihat hanya tinggal 5 mnt lagi sisa waktu kami. Akhirnya semua bergerak cepat ada yg mandi pun ada yg tidak.

Kini tiba giliranku, aku nggak bawa ikat pinggang. Diperparah lagi celanaku gombor2 dan kebesaren. Muncul ide dari ke3 anakku agar baju dikeluarin saja. Namun bagaimana dengan celana yang mau melorot? Tetep tak mau kehilangan akal, anak2ku bekerjasama cari tali. Perutku diubel ubel dengan tali kain diantara lubang sabuk2 itu. Ketiganya saling bekerjasama, sibungsu mengempiskan dengan paksa perutku dan kedua kakaknya menarik dua utas tali sekuat mungkin. Berkat kekonyolan keluargaku tersebut akhirnya semua bisa teratasi. Kami pun berangkat bersama menuju festival gaek tersebut. Berjalan dengan semangat baru. (Perut langsing n ketat).

Kami duduk di barisan kedua namun dari belakang. Acara pun berlangsung dan tiba giliran istriku memberikan sambutan selaku event organiser.

Tiba tiba tak ternyanakan perutku mulai sakit. Aku tahan agar aku bisa merampungkan acara tersebut. Apa lagi anak2ku enjoy dengan acaranya. Namun, kok semakin lama makin gak kuat mules yg kurasakan itu. Perut seperti di hantam kesana kemari.
Eee hh….. ternyata, 3 jam yang lalu aku minum herbalax tea (obat pelangsing perut).

Kuputuskan utk menuju hotel dan kupinta perlahan kuncinya sebelum kuayunkan langkahku keluar mimbar itu. Ngglenes … lhes … akhirnya berhasil. Semakin tegas denyut usus besarku mengoyak utk mempercepat langkah kakiku menuju lift itu. Begitu keluar lift kupaksa utk berlari.

Kulihat samar dan mulai berkunang pandanganku. Kamar 3xx pun berhasil kubuka dan bergegas menuju lubang penyelamat satu2nya yaitu kakus putih yang megah itu. Ingin segera kududuki singgasana itu.

Duarrrrr … sialan rupanya, aku gak bisa buka celanaku. Cencang sana cencang sini ora karuan. Tali gak bisa dilepas, gunting pun tak ada. Kupandangi antara perutku dan toilet putih bertulisjan toto tersebut berulang2. Semakin cepat …. semakin cepat …. tidak ada hal lain yg harus kulakukan. Aku gak tahan dan maaf terpaksaku”keluarkan” di celana yg masih tercencang penat diperutku. Gak apalah yg penting di kamar mandi. Aku sudah berusaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s