Oh … Adikku, …

“Adikmu akan menjadi beban sepanjang umurmu” pesan orang tuaku yang terus menghantuiku sepanjang masa itu

Menjadikan ku terlalu posesif terhadap adikku. Selalu berhati was-was bahkan kadang masuk kedalam lingkup keluarganya yang berakibat buruk. Hingga akhirnya kulepaskan bayang kekhawatiran itu, kubiarkan agar terjadi proses pendewasaan.

Tapi sial, malam itu ketika penghujung bulan ramadhan, teleponku berdering dari seseorang bersuara tegas, yah dia aparat : “selamat malam pak, kami dari polsek menyampaikan bahwa adinda berada di sel dan kami tahan”. Tanpa berpikir kutanya alamatnya dan langsung kuhampiri polsek tersebut. Dan benar, dia mendekam dengan tangan diborgol dan beberapa tubuh sudah memar. Beberapa saksi menuturkan dia ngutil belanjaan di supermarket tanpa bayar hingga di masa. Yang diambil adalah susu untuk anaknya.

Sudah kupahami, dan kuingin cepat selesai agar tak ketahuan intuisinya dan anggota keluarga lain. Kutebus saat itu beberapa juta rupiah agar bisa lebaran bersama. Hari itu pula kuajak pulang. Dan dia berjanji tak akan mengulanginya lagi. Kurangkul dan ia benar-benar bersimpuh kepadaku.

Tak beringsut membaik justru kondisinya semakin parah. Kuhadapi dengan sabar dan ku baru yakin benar pesan orang tuaku. Aku harus selalu menasehatinya karena bagaimanapun akan membebebaniku. Aku tak bisa menghindari hal itu.

“Pak, ini tagihan kontrakan rumah belum dibayar” sapa tamu menghadangku di depan rumahku.
Kuhadapi dan puji Tuhan kami diberi rejeki yang cukup untuk itu semua.

Waktu berkata lain, satu hal penyesalanku yang tak berujung, adalah saat kami sekeluarga bepergian ke luar kota. Sepulangnya kulihat seisi rumah habis. Kursi, kulkas, tv, almari, dll dan isi rumahku pun sudah melantai.

Kutahu perbuatan siapa ini dan kutelepon dia “Kau kemanakan perabotku! awas, jangan sampai mendekat lagi dan jangan panggil aku kakak. Kapan kamu tak merepotkanku?” bentakku dalam emosi tinggi.

Dia pun takut hingga minta maaf dan berjanji mengembalikan jika kelak punya uang.

Aku lupa aku bicara dengan siapa? Dia adikku. Aku dan dia minum ASI yang sama. Terlalu kecil hatinya tak sebanding dengan perbuatannya. Mulai saat itu kami tak pernah lagi bertemu ataupun bahkan telepon pun tak kuketahui. Tak tenteram hidupku, selalu teringat pesan orang tuaku yang telah tiada. Akhirnya kucari informasi keberadaanya.

Ya Tuhan, seorang teman memgirimkan kepadaku video tentang dia. Dia susah payah berjalan dan sambil membawa tentengan karung baju dan menggeret bagor besar di sepanjang jalannya mencari sampah sisa makanan. Berjalan dari bak sampah satu ke bak sampah yang lain. Mana yang bisa dipungut untuk bisa dimakan, disimpan, atau dijualnya ulang.

Sungguh miris hati ini, tangisku pun pecah seketika. Kucari, kucari dan kucari sampai mendapatkannya. Bagaimanapun dia adikku. Terakhir dapat kabar pula bahwa dia diusir oleh istrinya. Lengkap sudah deritanya.

Datanglah tamuku : “Pak, ada kasbon nasi selama 3 bulan”
“Dari mana?”: tanyaku
Jawabnya : “katanya adiknya bapak”
“Oiya, saya bayar. Besok jangan enggan nagih saya lagi. Ini nomor telepon saya dan hubungi secepatnya jika ketemu” kataku.
“Baik pak”jawabnya.

Orang itu tercengang, melihat rumahku, menatapku, menunduk untuk selanjutnya geleng-geleng sebelum membuang muka kepadaku. Kutahu apa yang dia pikirkan.

Demikian juga aku, apa arti semua ini, harta, tahta, jika adikku sendiri seperti itu?

Sengaja atau tidak, hanya beberapa hari kumelihatnya persis dibak sampah depan rumahku sambil membawa beberapa bagor persis apa yang kulihat dalam video. Kupanggil dan kuajak bicara, itupun diteras maunya. Semua telah berubah dan sedikitpun tak mau menerima tawaranku : menginap, uang, pekerjaan, bahkan makan pun dia menolaknya. Dia minta maaf atas semua kesalahan yang telah diperbuat selama ini dan berjanji ingin menggantinya. Dia pamit dengan tetap menyeret karungnya sambil berkata : “Kapan aku boleh memanggilmu ‘kakak’? Tak kuasa kami mendengarnya. Dan tak bisa berbuat banyak.

Menyesal sekali aku atas kata-kata kasar yang kulontarkan. Ternyata sangat melukai batinnya menjadi membekas di hati yang sangat dalam.

Aku terus memantau lewat bapak kostnya yang belakangan datang untuk menagih uang kost. Dia cerita sama bapak kos kalau ingin menabung untuk mengembalikan semua perabot saya.

Beberapa minggu sesudahnya, saat aku berada di luar kota dapat telepon dari pemilik kos, “pak, adik bapak di kamar tidak bangun-bangun” katanya


Dibangunkan saja dan dikasih makan” ucapku.


“Diam terus pak, dan di mulut ada busanya” jawabnya mulai ketakutan.

Dan ternyata adikku sudah tak bernyawa. Difotonya dengan selembar kertas bertuliskan pesan:

“maafkan adikmu, mulai sekarang aku tak akan merepotkanmu lagi, ini aku titipkan ATM hasil jerih payahku selama ini. Pin nya semoga masih ingat, hari saat ayah minta ginjalku untuk kamu itu, kutanyakan dari rekam medis rumah sakitmu. Baik-baik selalu. Dan ijinkan adikmu ini memanggil KAKAKKKKKKK …. yang terakhir kali”.

Tak cuma pecah air mata ini. Remuk bagaikan ingin menyusulnya. Seperti hidup ini tiada berarti.

Dimana adikmu? Peluk dia sekarang. Dia masih butuh kasih sayangmu.

(Ini hanya karangan cerita fiksi belaka)


buntungsuwung

Fb : buntung wong EO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s