Keroncong ayah vs campursariku (3)

roadtokoeswomuseum

Keroncong ayah vs campursariku (3)

Vandel logo keroncong ini pun masih ada. Namanya ok. Irama Bhakti yang terbentuk sebelum aku lahir. Ayahkulah penggagasnya. Beliau menguasai semua alat musik ini, gitar, ukuleke, cello, bass dan biola.

Sebelum ayah wafat, sempat kupaksakan untuk mengajariku alur melodi gitar keroncong. Kuserahkan gitar ke pangkuannya, dan sungguh2 terpaksa dgn tak berdaya. Walau tak berbunyi nyaring karena tak kuasa menekan fret2 senar, aku sungguh terpana. Indahnya melodi bisa kurasakan. Dari mana beliau belajar? Batinku.

Ayah menatapku dg senyum gembira walau sejatinya menahan sakit, aku menatapnya pula, namun iba.

“Lekas sembuh ayah”, pintaku yang akhirnya tak terkabulkan.

Kupelajari sendiri serta kuolah. Kukembangkan sesuai jaman dan selera pasar. Ku inovasi sebagai tambahan hobi.

Dan jadilah group musik dengan irama baru ‘campursari irama manunggal’.

Jika keroncong adalah ukuleke sebagai penjaga irama, kini campursari adalah kendang sebagai penjaga ritmisnya. Campursari lebih sonor karena adanya saron n demung gamelan.

buntungsuwung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s