Inilah Kami : Perjuangan tukang poto keliling, kios bensin, jual es lilin hingga buka kos2an

roadtokoeswomuseum

#Tak_menyulutkan_langkah_kami

Slogan banyak anak banyak rejeki aja gak cukup. Harus diimbangi semangat kerja dan keuletan yg tangguh untuk tetep bertahan hidup.

Masih sangat jelas terekam, saat itu kami masih kecil. Ayahku yang sederhana bekerja sebagai tukang servis radio. Disela waktunya berkeliling kampung menawarkan jasa foto.

Sedangkan ibu yang sangat sabar di rumah sebagai penjahit baju celana dan nenek yang mengurus dapur. Hingga kami ber-5 menginjak dewasa menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi pula. So pasti biaya hidup meningkat pula.

Ayah harus berputar otak untuk mencukupinya, akhirnya berkembang usaha ayah. Yaitu jasa setrum aki, buka warung dan kios bensin, serta jual es lilin. Sebuah pilihan yg harus diperjuangkan, mengingat sebenarnya Ayah lebih enjoy nongky dengan komunitas briker ORARI/RAPInya.

Usaha es lilin inilah yang akhirnya lumayan pesat hingga membuat ekonomi keluarga kami membaik di masa ayah nggak produktif karena suatu penyakit.

#es_lilin

Sore jam 15.00 kami mengikat ratusan es lilin hingga maghrib. Paginya sebelum berangkat sekolah kami antar ke para bakul. Receh demi receh kami kumpulkan. Itulah rutinitas kami yang tak pernah luput sehari pun.

Pesan ayah : “Kalian semua harus bisa kuliah”

Kami semua bersama ibu berusaha semaksimal mungkin. Memasuki jenjang perkuliahan, semakin besar dan semakin rumit kondisi keuangan kami. Usaha es saja tidak cukup untuk menyangga kebutuhan hidup. Bayangkan saja, jarak umur kami berlima rata-rata 3 tahun. Dimana setiap 3 tahun kelulusan sekolah butuh biaya yang sangat besar.

#timor_timur_merdeka_hingga_timor_leste

Waktu beringsut, biaya hidup pun meningkat terus. Tiba2 dapat kabar, bahwa akan ada ratusan pekerja asal timor leste (timor timur saat itu) yang akan menginap / kos di kampung kami. Tawaran yang menggiurkan dan kami mengambil sebanyak mungkin pengekos itu.

Rumah kami dirombak total dan disulap menjadi bilik-bilik kos. Setelah dihitung bisa memuat 25 penghuni. Ibu bersama nenek memasak untuk makan pagi dan malam mereka. Kini mulai terdongkrak lagi perekonomian keluarga kami.

Namun, biasanya kami bercengkerama berlari-larian bebas dalam ruang keluarga yang luas. Sekarang hanya tersisa gang sempit. Waktu kami habiskan di kamar atau bahkan lebih baik bermain diluar. Sejak itu kami mulai individualis.

Dapat kabar, timor timur telah merdeka, akhirnya semua pekerja kembali. Dan rumah kami menjadi lengang. Pendapatan pun berkurang secara drastis.

Bersyukur sekali ibuku adalah pejuang yang sangat tangguh. Hingga enteng tanpa mengeluh sekalipun menghadapinya.

#luar_biasa_ibu

Hingga ayah tiada, ibu berjuang sendirian, membiayai kami. Mantra yg ibu turunkan ke kami adalah “Urusan sesuk pikir sesuk, sing penting saiki dilakoni kanthi bungah”.

Ya, sebuah pernyataan yg tanpa Ibu sadari adalah sebuah perikop dari: “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Matius 6:34)

Wow, luar biasa.

Puji Tuhan, kami semua bisa merasakan bangku perkuliahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s