Estafet CPNSku

Estafetku masuk CPNS

1997 adalah galau-galaunya aku dengan segala kondisiku. Beberapa jariku harus diamputasi, paha disayat untuk naik pangkat menjadi bagian terhormat telapak tangan serta kehilangan rutinitas diri sebagai organis gereja.

Malam itu, aku mengikuti acara kenduri ditempat pakdhe yang saat itu dan kini masih menyandang nama bayan.

Kudengar secara lirih pembicaraan tetanggaku tentang penerimaan cpns.

“Sssst … rahasia, ada penerimaan cpns” bisiknya.

Sangat asing bagiku apa itu cpns. Tapi melihat pembicaraan yang seolah secret justru membuat aku penasaran. Kupasang telingaku secara baik dan kuarahkan sambil pura2 tak mendengar. Semakin riuh dan bak membahas harta karun. Benar2 kusimak secara khidmat di tengah kebisingan kenduri.

Piring suguhan pun akhirnya datang berseliweran berhasil meredam kebisingan itu. Semakin jelas ku mengupingnya sambil sesekali kudekatkan kepala ini meraih uluran piring yg beterbangan.

Iya jelas, kudengar pengumuman itu terpampang di kecamatan katanya.

Ya, saat itu bener2 sedang kalut dan ingin berselingkuh tentang pekerjaan. Maka kuniatkan utk menggalinya.

Akhirnya aku pun pulang dengan menenteng berkat. Pikiranku masih fokus tentang cpns tadi. Apa itu cpns?

Keesokan harinya, …

Gila, … ternyata benar, peminatnya luar biasa. Disana sini mulai antre, rupanya ini ajang kompetisi akbar. Semakin tak terbendung niatku utk menggapainya.

Saat itu jugalah hari terakhir kesempatan kami untuk mendapatkan tiket menjadi abdi negara.

Alhamdulilah akhirnya kubisa memasukkan amplop coklat A4 yang berisi segala persyaratan tersebut ke kantor pos ambarawa.

Ada satu persyaratan yang akan mengganjalku yaitu tertera “SEHAT JASMANI DAN ROHANI”.

Aku berpikir bagaimana dengan kondisi jariku yang sudah porak poranda ini? Hanya trik utk meyakinkan mereka bahwa aku masih punya jari. Atau kubiarkan saja seperti ini?

Tiba saatnya aku memenuhi undangan test tertulis secara masal di gedung pemuda ambarawa. Nomor urutku 200 sekian. Ada dibarisan belakang.

Tak kehilangan akal, kututup jari2ku dengan bekas ranting kayu dan aku balut dengan perban. Kuteteskan sedikit betadin agar terlihat luka baru.

Selanjutnya kuikuti prosedur tes dan kujawab soal2 itu. Alhamdulilah masih segar ingatan ini dan tak sulit kumengerjakannya. Walaupun sudah 2 tahun ingatan ini tumpul karena timbunan buruh di pabrik.

Tahap demi tahap kulalui dan tanpa sepeser pun uang sogokan kulayangkan. Yakin seyakinnya. Sumpah. Beberapa orang tak percaya kabar ini bahkan maido. Orang dalam pun kami tak punya. Adanya Dia yang diatas sana.

Tes psikologi, tes IQ hingga tes pantukhir selesai kujalani. Yang kuingat, aku dihujani pertanyaan2 tentang adakah keterlibatan keluargaku di g 30 s pki? Semakin tak paham aku. Sungguh kasihan mereka eks pki, seperti menyandang ‘dosa asal’ saja.

Hanya pertanyaan ini yg kupaham : “tangannya kenapa kok di perban?”

Kujawab ringan : “kecelakaan”.

Puji Tuhan, setiap tahap aku lulus dan mendapatkan kesempatan utk seleksi berikutnya. Aku juga nggak tahu apakah jariku yang demikian itu menggugurkan atau tidak. Atau mereka nggak tahu yg sebenarnya, atau jangan2 karena iba.

Kini sampai di penghujung acara penyerahan SK oleh bupati semarang.

Saatnya pula ‘ku buka perban nakal ini’.

Dan akhirnya semua tercengang melihat diriku yang tak bisa membawa map pemberian bupati. Terpaksa ku kempit di bahu karena memang jariku sudah tiada. Semua akhirnya tahu. Tanganku ternyata buntung.

Selanjutnya aku mendapat surat tugas sk terdampar di kab wonosobo. Yg kemudian di cancel.

Babak baru kumulai disini sprint ini, ungaran tercinta (edited). Setelah akhirnya kuputuskan untuk undur diri. Kutanggalkan profesi aparatur itu.

Berjuang menuju estafet selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s