Bakso Lek Thukul

Bakso Lek Thukul
(panjang, Bagi yg telaten baca)

Pada suatu malam yang sedang prungsang (tak jenak) kukayuhkan diri ini pergi ke entah kemana hati bergejolak. Aku sambangi saja temen karib sbg konsultan, sugiono. Ya sedikit banyak kupercayai karena ceblang ceblungnya sok bener. Sok salah juga sih.

“Jhon, aku ingin makan bakso yang enak dimana ya” sapaku kepadanya yang juga sebagai tukang las.

“Ya banyak, tapi kuyakin yang lebih enak hanya satu itu” sahutnya

“Dimana” terjangku

“Bakso lek thukul, itu satu2nya yang enak dan menyehatkan” kelakarnya.

“Waduh, berapa tahun saya nggak beli bakso itu. Tidak mungkin lah, itu sebelah rumah istriku yg terdahulu. Apa kata orang2 nanti” jawabku serius.

“Itu yg membuat gundahmu. Harusnya bisa berdamai dengan diri sendiri. Jika seperti itu terus, niscaya tertekan jiwamu, dah percaya saja kataku” ungkapnya menggurui.

****

Kulangkahkan diri kesana menuju lereng perbukitan kendalisodo. Semakin mendekati semakin dingin terasa menusuk tulang. Semakin berkurang cahaya sinar tak seperti di kota. Hamparan sawah masih terlihat walau hitam dalam genangan air.

Kulihat warung di pojok sebelum gapura dengan beberapa orang dan kuyakin iya. Itu bakso lek thukul.

Kusandarkan gerobak besiku dan ternyata warung tutup. Baru kupaham ternyata kamis malam jumat, dimana hari itu pasti libur atau disakralkan di desa.

Kuhampiri kerumunan itu.

“sedoyo kemawon pripun kabare” aruhku.

“Sae” jawab lek thukul beserta istrinya

“Alhamdulilah baik” jawab siapa kutakpaham. Sepertinya penjaga mushola.

“Sehat pak” kulupa namanya sambil thongkrong ojek nunggu pelanggan.

“Baik bos” jawab nardi botak sapaanku yg kerja di koka-kola.

“Kabar baik” jawab pemuda gondrong gaul sambil mengiris stiker tempelan plang bakso.

Bak jadi artis selebgram dan obrolan pun kini riuh. Dan mereka paham tentang kerjaku bahkan posisiku dimana setiap hari. Kemaren di luar kota ya event a b c dan d. Mungkin berkat medsos.

Tiba2 datang kang min pensiunan pns atau belum pensiun? Menanyakan keadaanku dan rasa rindunya kepadaku.

“Kemaren anakmu ragil Jeje rajin membantuku sbg sinoman. Rajin sekali. Terima kasih” ungkap kang min.

“Ya maaf saya g bisa datang” jawabku dan beliau memahaminya.

Sementara orang2 sedang memperbincangkan kadeso yang nanggap wayang. Walau masih beberapa bulan namun sudah melakukan persiapan. Masih seperti terdahulu, lagu lama , petentangan lokasi, dalang dll. Menandakam bhw mereka ikut giat dan handarbeni hajat ini. Kusuka gaya itu.

“Dari sisi para pedagang, kalau wayang diatas sana, itu justru menguntungkan. Karena satu pintu tak ada jalan lain utk pengunjung” ungkap seseorang.

“Kalau saya tidak” ungkap yg lain.

Seru seru dan komunal memang yang tak pernah kujumpai di kota hunianku.

Tiba-tiba kulihat datang lagi remaja berlari mengarahku. Ku sangat tak asing. Yah benar itu anakku ragil yg kutunggu.

“Pak aku minta duit” teriaknya riang lantang memecah keriuhan pembicaraan wayang.

Kupeluki ditengah keramaian. Ada linangan air di kelopaknya namun ia sembunyikan. Begitu pula aku. Kuajak ke kota sudah tak mau.

Kuulurkan uang 100rb dan selanjutnya menungguiku menggauliku terus. Seakan tak ingin lepas.

“Monggo pak” sapaan tukang servis payung memecah haru kami.

“Halo boss” aruh orang yg sepertinya tukang patri.

“Mari pak” … rombongan pemanen padi naik kolt mitsubishi.

Hingga mereka s3mua meluluhkan haru kami.

***

Semakin malam, semakin riuh dan tak kuasa aku meninggalkan mereka.

Datang lagi rombongan membawa hiasan umbul2 janur dipasang di tepi warung lek thukul. Sesekali berseliweran pembawa sesaji sajen pertanda ada yang punya hajat pernikahan.
Kutanyakan siapa yang punya kerja?

“Lek sugeng, mantu anaknya. Lina namanya” jawab mereka.

Semakin kuenggan lepas dari kerumunan. Tapi waktu yang tidak bersahabat.

Tanpa makan bakso pun sudah kenyang hati n jiwa ini. Kapan lagi mau ke tempat ini.

Biasanya pesan bakso urat kosongan tanpa mie.

Kali ini menunya bakso hati komplet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s