Telepon Desa Karya Ayah

roadtokoeswomuseum

Sungguh sederhana, hanya sebuah rangkaian transistor penguat suara yang dicatu oleh 1 buah baterai sebesar 1.5 volt. Dikemas dalam sebuah tepak tempat nasi dimodifikasi sedemikian rupa sehingga terdapat celah lubang speaker, tombol pencet pengiriman suara, dan indikator dioda led warna merah.

Perangkat tersebut dipasang di hampir setiap rumah warga dan terhubung dalam sentral telepon non otomat (STnO).

Dan rumahkulah menjadi sentralnya,
Bapakkulah pennggagasnya,
Akulah operator yg menyambung telepon.
Kakakkulah yang memelihara jaringan apabila putus.
Sulungkulah yang wira wiri minta tagihan bulanan.
Ibukkulah yg selalu menjaganya sambil menjahit
dan Adikkulah yang menawarkan jasa.

Setidaknya demikian yang kurekam dari system tata kelola manajemen mini telekomunikasi almarhum ayahku di tahun 1980an.

Sinyal yang dulu lewat hantaran kawat dengan box telepon tepak ‘sangat tak bisa digenggam’ , kini jamannow sudah lewat hantaran udara wifi yang bisa digenggam. Bahkan bisa 3 atau 5 telepon dalam satu genggaman. Sungguh serakah.

Karya ayahku sempat viral saat itu, akibat dimuat di halaman terdepan harian kompas.

Kuingat sebulan itu, ada rombongan dari sumatera, jakarta bahkan kalimantan datang menengok gubug kami. Menyusuri jalan bebatuan pelosok desa kami. Sebagian besar dari Telkom, RRI ataupun kelompok. Jarang yang secara pribadi.

Ibu yang selalu dibikin repot jika seperti ini. Kasihan harus tunggang langgang berlari kesana kemari cari singkong ketela ubi dan apapun yg bisa diberi dan disuguhkan.

Mereka bilang studi banding, ada yg serius bertanya, ada yg hanya ingin traveling, ada yg kagum dan ada yg hanya ingin ekskursi.

” …. tut … tut … tut …” sentral kami berbunyi dengan indikator pelanggan nomor 110 a.n bpk suwoto berkedip.

“Njih p suwoto ada yg bisa dibantu?”, sahutku

“Oiya, minta sambung rumah bpk tugiman kerban” pinta penelpon. Kutengok bpk tugiman kerban adalah pelanggan baru, maka nomornya paling bontot yaitu 209.

Sesaat ku menelepon 209, setelah tersambung saya suruh menunggu dulu. Untuk selanjutnya kuambil seutas kabel jamper dan kucolokkan kedua nomor tersebut. Selesai sudah, mereka bisa bercengkerama sesukanya.

——–

Tak beda jauh, 10 tahun aku menggeluti dunia itu sbg PNS melayani pejabat sebelum akhirnya resign. Telekomunikasi dan Persandian.

Pagi2 kangen ayah. Lupa cara berdoa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s