Selamat jalan Putu Devina

Selamat jalan Putu Devina,

“Om didiek, …!! ” suara anak kecil itu memanggilku lantang. Begitu kutengok, dia selinapkan muka dibalik tirai jendela. Kembali suara itu hadir : “Om didiek, … !! ”, begitulah seterusnya sambutan ramah disetiap aku berangkat dan pulang kerja. Dia tetangga persis depan rumah  dan sudah layaknya saudara.

Waktu dia kecil sering kuajak bermain bola. Dia tertawa lepas  saat aku jatuh dan tidak bisa menahan tendangan bolanya. Semakin aku terpelanting keras, semakin lantang pula tawanya. Ada banyak kenangan masa itu dan masih kusimpan di hp nokia N900. Semoga masih bisa dibuka. Bermain pasir adalah permainan favorit yang lebih dia pilih waktu itu. 

“Menginjak besar, kamu mulai malu. 

Waktukupun tak seindah dulu untukmu 

Masih selalu memandangku tersipu 

dengan berpegang daun pintu 

selalu dibalik latar kelambu, kau mengintipku

Hari ini waktu indahku buat kamu, 

Tak sebiasanya aku pulang, lebih dulu dari jam sekolahmu.

Sesampai di rumah kusandarkan tubuhku 

Kudengar panggilan itu : “Om didiek … Om didiek … !!!! “ dengan suara nan merdu “ 

Begitu kudengar panggilan itu,

Kuhampiri dan seolah jantungku mengajak berhenti. Dia di dekapan bapak ibunya dengan kondisi terlunglai lemas, tatapan kosong, badan dingin dan tak berdaya. Dibalik itu dia tersenyum sambil berlinang air mata. 

Tanpa sehelai katapun, langsung kubawa  entah kemana bumi ini memberi pertolongan segera.  

Setidaknya dua lampu merah aku terobos untuk menghantarkannya ke UGD. UGD mana yang aku pilih? Setidaknya ada 5 UGD diseputarku. Sebuah pilihan yang sulit karena menyangkut keselamatannya. Hanya butuh waktu 5 menit utk membawanya ke UGD. 

Namun,

Sia-sia usahaku, karena suratan takdir berkata lain. Kami tidak mengharapkan semua ini terjadi. 

Pedihnya aku menyaksikan detik detik ini. Dia  di sebelahku dan mengajak bermain pasir disaat dokter dan suster bersusah payah mengoyak tubuhnya dengan berbagai alat bantu. 

Dia anak satu satunya dari orang tua yang sungguh sangat sayang. Orang tuanya saling berpelukan, tak tega dan berdaya lagi harus berbuat apa. Semuanya hanya berpasrah diri. Hanya satu harap, unjukkan doa, sembah sujud, langitkan permohonan ke Sang Hyang Widhi.

9 tahun usianya.

“ Kini ambulan yang mengantar tubuhmu pulang

Tapi tidak dengan rohmu. 

Kurasakan kamu ada di mobilku bersama bapak ibumu.

Sekarang kamu tidak malu lagi dengan aku, 

tidak lagi malu dibalik kelambu, 

pun tidak lagi berpegangan daun pintu

Peganglah pintu surga

Bahagia engkau di nirwana

Selamat jalan Putu Devina”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s