rip Komplong

#RIP_Komplong

Dahulu aku punya teman di kampung, namanya wahyudi. Kedua orang tuanya tidak diketahui sejak dia usia SD, diketemukan di jalan oleh warga kampungku. Singkat cerita dulu dia amat rajin, membantu bu ngatini kesana kemari jualan sate. Konon katanya saat belum berumur, dia sempat diperbantukan sebagai koster agar ada pendampingan sambil bekerja di pastoran. Namun hanya sebentar dan dia memutuskan kembali ke kampung kami. Dia baik banget kepada semua orang. Wahyudi cenderung introvert, tertutup dan pendiam.

Menginjak masa mudanya, dia menghilang begitu saja dan memilih hidup dalam pergaulan bebas. Kabar yang kami terima terlibat miras hingga tak terkendali bahkan makan rajangan daun daun kecubung.

Pulang lagi ke kampung dalam keadaan sudah sempoyongan. Lusuh dan pola pikir pun sedikit ‘owah’. Sering membuat ulah dan alhasil warga menyebutnya KOMPLONG yang berarti : kosong mlompong dan sempat menjadi bulan2an. Sepeninggal bu ngatini kondisi semakin parah. Ia menjadi pemuda dengan sebatang kara. Tiap hari tidurnya di pos kamling warga. Tetapi yang kusalut dia berupaya cari makan sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Tak ada kebutuhan lain kecuali makan dan rokok. Rokokpun cukup ngumpulin ‘tegesan’ (puntung) sisa orang lain.

Berjalan menunduk, acuh jika tak disapa, tapi langsung tanggap gapyak jika sudah dikenal, dengan dandanan mboys kekinian beranting2, pergi ke entah kemana yang penting dapat sesuap nasi tanpa pernah meminta. Ngamen, panjat kelapa, ataupun kuli bagi mereka yang membutuhkan. Dia hanya ingin bertahan hidup tanpa merugikan orang lain dengan segala keterbatasannya. Walau banyak warga sekitar yang bersimpati dan memberinya makan, dia tetep berusaha cari makan sendiri. 20 tahun lebih pengembaraan tersebut.

Nama ‘komplong’ menjadi jargon manusia kosong di kampung itu. Setiap perilaku buruk pasti akan dianalogikan seperti ‘komplong’. Walaupun sebenarnya komplong tak seburuk itu, tetep saja semua hal buruk baik itu sifat atau penampilan akan disebut komplong.

Kadang dimanfaatkan orang sebagai ahli nujum (juru ramal). “Berapa nomor togel untuk besok, komplong”? tanya warga sekitar yang maniak dengan lotre.

Tak sadar, nama komplong justru akan menjadi motivasi untuk banyak orang.
Sebutan ‘seperti komplong’ kepada seseorang pasti akan menusuk membuat orang tidak terima. Sehingga semua orang mengunggah kebaikan di kampung itu agar tak disebut ‘seperti komplong’. Dan juga nama komplong dipakai sebagai sosok yang ditakuti anak kecil. “Ayo sudah sore, segera pulang, nanti ditangkap komplong!” ujar seorang warga menakuti anaknya.

Terpukul aku, … usai sudah peziarahan komplong.

Saat aku merayakan atas berkurangnya sisa umurku, tersiar kabar komplong tiada.

Dia meninggal di gardu pos kamling.

Wafatnya tanpa punya siapa dan apa pun.
Takdir di hari yang baik, yaitu saat semua umat merayakan hari kasih sayang. Kasih sayang semua warga kampung glodogan yang sungguh ikhlas nyengkuyung. Mungkin ini jalan yang terbaik.

Jika ada pepatah disana mengatakan : “nggak ada perjuangan tanpa pengorbanan”, aku yang ini saja : “nggak ada pengorbanan (perjuangan), tanpa ada yang dikorbankan” Yang satu baik dan yang satu lagi mulia.

Selamat jalan mas wahyudi, namamu akan kukenang.

Jargon ‘komplong’ itu akan selalu ada di hatiku tanpa mengurangi kehormatanmu.

Foto kucomot dari unggahan facebook warga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s