MERDEKA

Pria berbadan gagah itu mengikuti upacara bendera yang tak jauh dari rumahnya. “Kepada sang Merah Putih, … hormaaattt … grak!!!” komando dari sang pemimpin upacara. Ia pun langsung dengan sigap mengangkat tangannya mengiklaskan semua anggota badannya sambil memberi hormat penuh totalitas keberanian. Selanjutnya meneriakkan pekik : “Merdeka! Merdeka! Merdeka!” menirukan aba2 inspekturnya. Terlihat gagah nan berwibawa dengan gemerincing atribut lencana mengiringi langkahnya.

Akhirnya, usai sudah upacara itu, dia pun pulang menuju rumah dengan sepeda motor plat intuisinya. Begitu turun, langsung menyandarkan motornya dan masuk rumah sambil memberi salam kepada keluarga : “Bu, bapak pulang … !!!”. Seekor anjingnya yang duluan mendekat memberi salam, guk … guk … guk …

Istrinya menyambut keluar tapi justru apa yang diucapkanya? “Stop !!! … Tahu nggak !!!! … lantai ini masih dipel belum kering sudah diinjak-injak, lihat pake mata dong?” Bentaknya kpd suaminya. Mendengar gelagat buruk itu anjing pun ikut menjauh dengan ekor kebawah krn ketakutan.

“Iya maaf bu, nggak tahu, gak kelihatan dari luar” jawab pria itu melemah.

“Jangan banyak alasan, angkat cucian di dapur dan kamar mandi, masih menumpuk tolong selesaikan” suruh istrinya kian menjadi.

Dengan nada semakin pelan pria itu berucap : “nggih … ” mendadak melow dan lemah gayanya. Ia merendam pakaian di mesin cuci dan menuju dapur. Sementara si anjing hanya mengamatinya dari jauh. Ditolehnya dan anjing itu membuang muka, gak tega barangkali.

Tiba2 nada pesan handphone berbunyi dan dibukalah pesan itu sambil mencuci. Tapi celaka , sang istri pun secara kebetulan lewat. “Kerja ya kerja! nggak sambil mainan HP” bentak istrinya bertubi-tubi.

Terlihat sang suami memendam sesuatu. Tekanan batin dan rasa dendam yang tak terungkapkan. Hanya duduk termenung di samping rumah kayu ditemani anjing kesayangannya. Anjing menjilat2 kakinya terus mengibaskan ekornya kekanan kekiri memotivasi tuannya.

———

Suatu saat berceritalah pria itu kepadaku di teras depan gereja tua, dibawah lonceng tepatnya. Dia mencurhatkan segala ketertekananya, termasuk keingin pergianya berlayar, ingin melanjutkan sekolah, ingin punya duit banyak dll. Tak sanggup dia menolak dan berkata tidak untuk istrinya. Dia ingin membahagiakan sang istri, karena isteri sumber rejeki katanya. Selanjutnya kuajak pergi menikmati 4 botol bir yang tak jauh dari kampung. Semakin tambah menjadi curhatannya krn dipengaruhi alkohol.

OMG, beberapa hari kemudian terdengar kabar dia terkena serangan stroke dan beberapa bulan kemudian tak tertolong hingga meninggal dunia. Kurawat dan kuadopsi anjingnya itu, setiap hari berlinang air mata. Hingga ajal pun menjemput anjing itu juga.

Sungguh keterlaluan wanita ‘penjajah’ itu. Telah merenggut mereka semua. Dendam kesumatku pun mulai tumbuh.

Tiba2 kakiku terasa sakit, bajuku robek, rambutku kusut, ternyata ke 3 anjingku telah membangunkan tidur nyenyakku.

Apa yang kupikirkan kemaren hingga mimpi spt itu, upacara 17an, angon kirik dan …?

Sudah merdekakah kalian sahabatku?

Otwe uluwatu.
#buntungsuwung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s