Lombok Brambang Bawang

Lombok brambang bawang
======================

Entah berapa tahun usia saat itu, tapi aku masih ada dalam ingatan. Saat itu bunda mau masak dan menyuruhku membelikan Lombok Brambang dan Bawang.

“Nak, … Emak belikan Lombok Brambang Bawang 100 rupiah”, perintah ibukku. Aku kaget mendengar perintah itu, karena sejujurnya aku pilih kerja di rumah daripada harus keluar ketemu banyak orang. Namun aku tidak boleh menolak perintah yg diberikan ibuk. Dengan setengah hati kulangkahkan kaki ini menuruni 12 anak tangga menuju warung.

Kupersipakan diri dengan menghafal perintah bundaku :
“Lombok,… Brambang, … Bawang, … Lombok,… Brambang, … Bawang, Lombok,… Brambang, … Bawang, ……dst”.

Alamak!!!!, … dari kejahuan terlihat antrean, dan itu manusia semua. Ada sekitar 8 orang pembeli di kios tersebut yang telah memenuhi emperan. Semakin berat kaki ini untuk melangkah kesana, sambil terus menghafal Lombok,… Brambang, … Bawang, …

Aku yang paling kecil menyusup diantara kerumunan pembeli itu. Suara berisik menggangguku untuk menghafal, sehingga terpaksa kuucapkan secara lirih : ” Lombok,… Brambang, … Bawang, …Lombok,… Brambang, … Bawang, … ” Semakin keras keberisikan mereka, semakin keras juga aku lafalkan.

Sontak, tiba tiba aku terkagetkan bentakan keras oleh penjual sambil melotot ke arah saya : “IYA, DIAM!!! JANGAN BERISIK !!! , NANTI GILIRANMU TIBA!!!”

…. kuterdiam, … tanpa suara, … tatapan kosong, …. bahkan tanpa ingatan sekalipun …. Kutersadar dan berusaha untuk mengingat-ingat. Sumpah, aku tak ingat harus beli apa tadi?

Hingga sebelum tiba giliranku, aku dibentak lagi : “SINI SAYA DAHULUKAN, MAU BELI APA !!!”

Jawabku : ” … kru .. kru … k r u p u k … ”

Kupasrahkan diriku dan uang seratus rupiah yang aku genggam kepadanya tanpa melihat raut semua orang. Cukup ada di bayangan saja. Kupalingkan diri setelah menerima bungkusan itu menunduk pulang menemui ibuk.

Tetap kosong kunaiki anak tangga tangga itu.
Saat anak tangga 1 kuteriakkan : “Mak eeeee …” (panggilan utk ibu)
Anak tangga 3 masih berusaha mengingat
Anak tangga 5 panggil lagi : “Emakkk …”
Anak tangga 7 seperti merasa bersalah dan takut akan dimarahi.
Anak tangga 9 secara kubisikkan lirih dalam rasa ketakutan : “..m a k”, dan ternyata ibukku sudah ada di ujung teratas tangga.

Ibukku tersenyum, aku dibawa masuk dan diciumin kemudian duduk di kursi jati londo orgel tua (hingga sekarang masih ada) seraya berucap : “kamu anak pintar, … terima kasih nak” sambil menyahut krupuk itu.

Sepertinya ibuk sudah memahami apa yang telah terjadi.

Tak berapa lama kemudian ibuku pergi lewat pintu belakang, kutengok jendela dan terlihat ibukku sudah kembali menaiki tangga membawa bungkusan segitiga lancip dari daun jati tertusuk biting bambu, rupanya itu menjulur keluar lombok merah.

Ternyata aku yang salah, aku menyesal.

#buntungsuwung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s