EO ndeso yang letheg dan kumal

Dari pelosok kota yang jarang dikenal (kota ungaran) kami menyusuri aspal tol menuju ibukota. Disana bangunan gedung berlomba-lomba menjulang saling mencabik langit. Kusinggahi pom bensin dulu untuk sekedar cuci muka dan kumur demi menghilangkan bau pete sisa semalam.

Alhamdulilah, gps yang kuarahkan tepat menuju satu diantara gedung2 mewah itu. Ku diberi kesempatan untuk memasukinya. “Selamat pagi bapak, maaf tidak boleh masuk, harus berpakaian yang sopan” dua orang satpam tiba2 menghalau langkahku sebelum pintu metal detektor.

“Maksudnya bagaimana”? Tanyaku

“Disini aturannya kalo pake kaos harus berkerah” jawabnya lugas. Sementara kulihat tamu2 lain cuek tak ‘sumanak’ seperti dikampungku.

Kujawab begini : “Besok lagi kalau mau undang orang yang jelas, tulis jika memang tidak boleh pake kaos. Saya tak tahu aturan itu. Bagi saya ini sudah sopan. OKE saya pulang dan anda yang bertanggung jawab atas ketidakhadiran saya” sambil kuserahkan print email undangan dari salah satu pejabat mereka.

Sambil menuju tempat parkir yang saya juga lupa jalannya, entah dimana dan sopirku pun juga lupa, ku menggerutu ‘bajindul, bajindul, bajindul’.

Tiba-tiba 4 orang satpam memanggil dan menghampiriku : “pak, pak, pak !!” Lah … ternyata aku balik ditempat itu lagi.

Mereka malah merayuku untuk kembali masuk gedung. Saya dikawal naik lift hingga ruangan pejabat itu. “Pagi, ada tamu dari bpk didik potensindo” kudengar ujar satpam kpd mereka. Sontak ambyar konsentrasi mereka. Yang lagi ngrumpi terhenti, yg lagi makan pun berkemas dan suasana hening semua kembali ke posisi mejanya masing2. Mereka melihatiku dari ruangan kaca mungkin karena rambutku pirang gondrong, kaos oblong, kalung karet, gelang rantai pada tangan buntung, celana jeans, sepatu ket dan tampang ndeso.

Saya pun duduk, dengan dengkul menyembul karena jeans sobek dan selanjutnya ditemukan dengan PPK, pejabat pembuat komitmen. Ppk menjelaskan demikian panjangnya : “Bapak kami panggil untuk mengerjakan even RITECH EXPO 2019 di Denpasar Bali. EO sebelumnya yg ditunjuk berinisial ‘DMP’ telah mengundurkan diri dan dimungkinkan kena sangsi black list. Apakah EO yang bapak kelola bersedia untuk mengerjakanya?”

“Insyaallah siaap, … ” jawabku tegas tanpa penjelasan panjang. 

“Baik, karena sudah mepet dan telah banyak kehilangan waktu, kita akan langsung tanda tangan kontrak” tegas beliau. 

—-

Kemudian kami kerahkan kru, team kreatif dan para korlap. Peserta dan partisipan semakin bertambah. Request2 dadakan banyak sekali membikin kami kalang kabut. Ditambah ada salah satu dari mereka yang cerewet seperti lambe turah. Seperti tak percaya pada kerja EO kami. Mereka meragukan kemampuan kami. Hingga pesan whatsap bertubi2 masuk ke kami dengan bahasa2 yang tak enak.

Kami tawarkan stan kesana kemari untuk ikut memeriahkan. Menjual stan dengan gaya wong ndeso. Keroyokan bareng2.

Terbayar sudah kekesalan itu, melihat animo pengisi stan dan pengunjung yang demikian tinggi. Mereka banyak yang datang dari luar pulau. Termungkinkan pula ingin sambil berwisata. Pagi siang malam selalu berjejal bahkan kami lakukan system buka tutup.

Sementara ‘si lambe turah’ terus komplain, karpet kotor, lantai goyang, ac gak dingin dll. Kru kami menjawab : “ini lapangan terbuka disulap darurat, kalau ingin nyaman sana di gedung”

Tak seperti biasanya, ini stan tentang inovasi dan tehnologi. Tak ada stan pindahan pasar, dagangan baju, batu akik, obat oles, dll.

Adanya stan : 
– tangan bionik alat bantu disabelitas,  
– robot yg bisa memadamkan kebakaran menggunakan co2,  
– mesin batik tulis dg canting yg menggambar otomatis, 
-penjernih air tapi dari plantoon,  
-VR game, 
– roket air, 
– kapal perang dan masih bnyak lagi yg ber- teknologi 4.0.

Senangnya bisa dihadiri RI-2 dan selalu mesam-mesem setiap meninjau stan, semoga beliau berkenan. Perkirakan jumlah total pengunjung mencapai 37 ribu.

Si ‘lambe turah’ yg dulu sinis, kini tak lagi komplain. Mak klakep. Semoga tidak sedang bergerilya cari2 kesalahan dan kami pun segera mendapatkan pembayaran. Amin. Amin. Amin.

Kini kami sedang cuti dan menikmati nasi petai kembali. Tadi saya video call mereka para kru. Ada yang sedang kembali cangkul sawah, ada yang mancing di rawapening, ada yang panen sawi, ada yang merumput ‘ngarit’, ada yang panen lombok, ada yg mbecek, dsb. 

#buntungsuwung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s